Perempuan dan Lingkungan Hidup

Perempuan Wawasan 22 Apr 2021 0 45x
Lingkungan

Perempuan dan Lingkungan Hidup

Oleh: Witriani

Kulihat ibu pertiwi/

Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang/

Mas intannya terkenang

***

Perempuan dan lingkungan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Penggalan lagu di atas sesungguhnya mengingatkan kita pada posisi dan peran manusia di alam semesta, yakni menjaga ibu pertiwi ataupun menjadi khalifah di muka bumi.

Dalam pandangan kosmologi timur, ibu pertiwi diibaratkan sebagai pemilik air dan tanah tempat manusia dan makhluk lainnya bernaung sekaligus menjadi bagian dari ekosistem semesta. Dengan demikian, jika terjadi perubahan pada lingkungan seperti perubahan iklim, perubahan ekosistem, krisis lingkungan, ataupun bencana alam, pada dasarnya merupakan bentuk perubahan ibu pertiwi sendiri, yang mana kaum perempuan akan terkena dampaknya secara langsung.

Baca Juga

Perempuan: Ujung Tombak Kelestarian Lingkungan Hidup

Perubahan iklim dan krisis lingkungan yang terjadi belakangan ini telah menimbulkan perubahan tataran peran sosial dalam masyarakat. Meningkatnya intensitas bencana, kejadian ekstrem seperti peningkatan suhu udara, musim kemarau yang semakin panjang, badai siklon, banjir, hingga munculnya berbagai macam penyakit, seperti virus corona tentu saja berdampak langsung pada perempuan dan anak, sebagai kelompok rentan terhadap perubahan iklim.

Hal ini terjadi karena dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sangat dekat dan bergantung pada sumber daya alam. Di banyak kelompok masyarakat, perempuanlah yang bertanggung jawab pada ketersediaan air, pangan, serta kebutuhan esensial lainnya dalam keluarga.

Melihat Lingkungan dengan Kacamata Ekofeminisme

Dalam penelitian Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI tentang Ketangguhan Tersembunyi, Narasi Perempuan pada Strategi Bertahan dari Dampak Perubahan Iklim Tiga Daerah: Gunungkidul, Semarang, dan Ogan Kemiring Ilir (2018) disebutkan bahwa iklim menjadi salah satu variabel yang berkontribusi pada kesejahteraan dan relasi gender. Hal ini karena dengan peran gendernya, perempuan memiliki peran dan sekaligus tanggung jawab dalam memastikan ketersediaan pangan bagi anggota keluarganya.

Terkait ini, melalui kerja reproduktif yang sering tak terlihat namun tiada habisnya, perempuan memastikan keamanan ketersediaan pangan tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi semua anggota keluarga. Akibatnya adalah banyak perempuan menanggung beban ganda, miskin waktu, dan menanggung implikasi pada persoalan kesehatan dan kesejahteraan.

Lebih lanjut, penelitian oleh Dati Fatimah dkk. ini mengungkapkan bahwa perempuan dan laki-laki merespons perubahan iklim dan dampaknya dalam cara yang berbeda-beda. Bagi laki-laki, terdapat kecenderungan akan bermigrasi untuk mencari penghidupan alternatif yang tentu saja akan membuat pergeseran dalam pola keluarga, yang justru meningkatkan beban domestik yang lebih berat bagi perempuan. Dalam banyak kasus, hal ini tentu saja berimplikasi pada peningkatan beban kerja perempuan.

Baca Juga

Gerakan Peduli Lingkungan

Ketika perubahan iklim berpengaruh pada ketahanan pangan, maka konsekuensi beban bagi perempuan juga semakin besar. Situasi juga semakin sulit ketika perempuan sebagai konsumen tidak punya kontrol ketika harga beras dan komoditas pangan ditentukan oleh pasar dan perubahan iklim yang terjadi.

Dalam feminisme, ada gerakan bernama ekofeminisme yang melihat hubungan antara eksploitasi serta degradasi lingkungan hidup, subordinasi, dan opresi terhadap perempuan. Di tengah krisis lingkungan hidup dan meningkatnya konflik sumber daya alam di negara ini, kacamata ekofeminisme jadi lebih penting. Hal ini tak lain karena para perempuanlah yang paling terdampak dalam konflik lingkungan hidup ataupun kemiskinan yang me-landa.

Teori tersebut dikembangkan oleh Vandana Shiva (2004), seorang ilmuwan sosial berasal dari India yang menyoroti bagaimana ide-ide besar pembangunan yang memberi dampak pada teknologi, ternyata tidak cukup menjawab persoalan ketidakadilan gender. Dijelaskan lebih jauh bahwa kerusakan alam akan berdampak pada pemiskinan dan penderitaan bagi kaum perempuan. Secara teknis, ekofeminisme dipergunakan oleh para ilmuwan sosial, untuk memahami fenomena terpuruknya kehidupan perempuan akibat kegiatan yang bersifat destruktif terhadap alam, seperti pertambangan atau pembalakan hutan.

Perempuan dan Peran-peran ‘Aisyiyah

Sebagai organisasi perempuan, ‘Aisyiyah sesungguhnya sudah sangat dekat dengan isu perempuan dan lingkungan. Kerja-kerja ‘Aisyiyah di akar rumput, baik dalam bidang dakwah dan pemberdayaan telah membuktikan besarnya kepedulian organisasi perempuan Muhammadiyah ini pada perempuan dan lingkungan.

Program sinergi lintas mejelis, ataupun dakwah 3T, yang beberapa tahun terakhir menjadi fokus program ‘Aisyiyah telah memungkinkan terciptanya model-model pemberdayaan perempuan yang lebih integratif dan holistik. Program MAMPU ‘Aisyiyah, misalnya, dalam beberapa tahun berjalan mampu melahirkan 451 kelompok perempuan Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) yang bekerja di 6 provinsi, 15 kabupaten, dan 100 desa/kelurahan, beranggotakan lebih dari 8.000 perempuan, di mana 1.160 di antaranya terlatih sebagai kader. BSA merupakan model layanan dan pemberdayaan yang terintegrasi, model pendampingan keluarga miskin yang tidak sekadar fokus pada kesehatan reproduksi perempuan, melainkan juga pengembangan kepe-mimpinan perempuan hingga advokasi kebijakan.

Sejalan dengan itu, sebagai landasan ideologis, Muhammadiyah-’Aisyiyah juga berusaha meneguhkan kembali Teologi al-Ma’un sebagai bentuk kepedulian pada umat, kaum miskin, dan mustad’afin. Salah satu warisan ajaran Kiai Ahmad Dahlan ini terus dikembangkan dan diimplementasikan ke berbagai program, yang mana keberpihakan pada kaum lemah ataupun yang dilemahkan adalah prioritas utama.

Selain itu, Islam sendiri adalah agama yang sangat menghargai kesetaraan; egaliterisme. Islam menolak stratifikasi sosial-ekonomis; yang berarti meminggirkan orang miskin dan anak yatim dalam sistem sosial yang bertingkat, termasuk relasi gender antara laki-laki dan perempuan.

Jika ekofeminisme muncul di kalangan perempuan sebagai akibat adanya ketidakadilan terhadap perempuan yang selalu dimitoskan dengan alam, maka apa yang dilakukan ‘Aisyiyah selama ini sesunggguhnya bentuk respons dan kepedulian ‘Aisyiyah terhadap kemiskinan dan pemiskinan yang terjadi pada perempuan. Hal ini tentu saja sangat sejalan dengan semangat keadilan dan kesetaaran gender yang selama ini digaungkan di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan