Perempuan Mulia (1): Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahin

Perempuan Wawasan 3 Mei 2021 0 57x
Perempuan Mulia

Perempuan Mulia (foto: tajdid.id)

Oleh: Audah Mannan

Sejarah telah mencatat secara paralel sejumlah tokoh perempuan yang menjadi kekasih Allah. Pada forma atau aspek ruhaniah, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Semuanya adalah ruh yang ditiupkan oleh Allah (QS. al-Hijr [15]: 29, QS. as-Sajdah [32]: 9, QS. Shad [38]: 72). Di sini jelas bahwa nilai plus manusia dibandingkan makhluk lain adalah karena aspek ruhaniahnya atau spiritualnya. Itulah identitas manusia yang sebenarnya, karena itu manusia yang mengembangkan potensi ruhaniah secara optimal akan mencapai level insaniyah yang optimal pula.

Perempuan yang telah mencapai level insaniyah optimal terjelma dalam diri Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun, Khadijah al-Kubra, dan Fatimah binti Muhammad. Al-Quran telah mencatat keberhasilan dan ketinggian kemanusiaan berkenaan dengan Maryam binti Imran dan Asiyah istri Firaun. Demikian pula sejarah telah mencatat kepribadian ummul mukminin Khadijah al-Kubra dan Fatimah Az-Zahra.

Baca Juga

Atiyatul Ulya: Potret Perempuan Berkemajuan pada Masa Nabi

Keagungan dan keteladanan mereka ini termaktub dalam Musnad Ahmad, Musykil al-Atsar untuk Thahawi dan Mustadrak al-Hakim, “dari ibn Abbas berkata, Rasulullah saw. menggaris empat garisan di tanah, kemudian beliau bertanya: apakah kalian tahu apa makna dari garisan ini? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasulullah saw. bersabda: perempuan ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam putri Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun”.

Maryam putri Imran

Maryam adalah salah satu perempuan yang mencapai derajat kesempurnan. Ia bukan saja teladan bagi kaum perempuan, tapi juga teladan ketakwaan dan kemuliaan bagi kaum laki-laki dan perempuan. Begitu tinggi derajatnya di sisi Allah sampai-sampai diturunkan kepadanya hidangan dari surga yang membuat takjub Nabi Zakaria as.

Berkat kecintaan Allah kepada Maryam, Dia kemudian mengabadikan namanya di dalam al-Quran. Artinya, “dan ingatlah ketika malaikat Jibril berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala perempuan di dunia (pada masa itu),” (QS. ali-Imran [3]: 42).

Allah swt. menghimpunkan baginya kemuliaan dunia dan akhirat, memilihnya di antara para perempuan seluruh alam, padahal dia hidup di tengah orang-orang kafir. Dia memelihara dirinya dari kekejian dan jauh dari kaum laki-laki. Tidak seorang pun laki-laki pernah menyentuhnya. Meskipun dia harus melahirkan anak tanpa bapak, kelahiran Isa bin Maryam menjadi penghibur dukanya di saat ia dicerca oleh masyarakat yang menganggapnya telah melakukan kesalahan dan aib akibat melahirkan seorang anak tanpa bapak.

Kondisi seperti inilah yang dihadapi Maryam, yaitu ketika ia dipandang sangat buruk dari sisi moral di mata masyarakat. Maryam ditolak oleh masyarakatnya sehingga terjadilah apa yang mesti terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya yang taat, sabar, dan penuh ketabahan. Demikianlah Allah menjelaskan kisah Maryam sebagai teladan moral dari hamba yang taat karena seluruh kehidupannya telah diperuntukkan hanya untuk mengabdi kepada Allah.

Asiyah binti Muzahin istri Firaun

Al-Quran dalam mendidik umat antara lain menggunakan contoh dalam bentuk cerita, sebagaimana termuat dalam QS. at-Tahrim [66]: 11-12, artinya, “Allah mencontohkan Asiyah istri Firaun untuk orang-orang yang beriman ketika dia berkata: Ya Allah bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga dan selamatkan aku dari keburukan Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim”.

Allah menjadikan Asiyah binti Muzahim sebagai perempuan yang kuat dan beriman kepada Musa. Allah telah menjadikan keadaannya sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang berpegang teguh dalam ketaatan, berpegang teguh kepada agama dan sabar jika ditimpa kekerasan. Kaum kafir tidak akan mampu menimbulkan mudharat kepada mereka seperti keadaan istri Firaun, meskipun berada di bawah kekuasaan orang kafir yang paling kafir. Imannya kepada Allah membuatnya berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.

Baca Juga

Peran Perempuan Muslim dalam Memakmurkan Dunia

Kekuatan iman yang dimiliki oleh Asiyah dengan memandang rendah segala kemewahan dan kemegahan yang dimilikinya karena ia tidak mau terjebak dalam kehidupan yang menipu dan kufur. Kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan yang penuh kedzaliman, penindasan, kesombongan, dan perampasan terhadap hak-hak orang lain pada satu sisi. Di sisi yang lain juga dipenuhi dengan dosa, penyimpangan dari Tuhan, serta jauh dari kebaikan manusiawi dan tujuan ukhrawi.

Asiyah sebenarnya menginginkan kehidupan yang agamis, namun dia tidak mendapatkan kesempatan untuk merealisasikannya karena ada tekanan kedzaliman suaminya. Kemampuan Asiyah antara lain berkomunikasi dengan Allah untuk mengadukan persoalannya agar dapat berlepas diri dari segala sesuatu yang terjadi. Dia memohon kesabaran untuk menanggung semuanya.

Hadits dari Abu Hurairah menyebutkan, “Firaun menyiksa Asiyah dengan mengikatnya empat tali dalam keadaan telentang, lalu meletakkan batu penggiling di atas dadanya, matanya dihadapkan ke arah matahari. Dia kemudian menengadahkan wajahnya seraya berkata: Ya Rabb, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu”.

Salman al-Farisi meriwayatkan bahwa ketika Asiyah disiksa dengan matahari, di saat mereka meninggalkannya, para malaikat datang melindunginya dengan sayap-sayapnya. Dia juga dapat melihat rumahnya di surga. Di sini terkandung dalil bahwa memohon perlindungan kepada Allah dan kembali kepada-Nya, serta memohon keselamatan ketika mendapat cobaan dan bencana merupakan kebiasaan orang-orang saleh, baik laki-laki maupun perempuan.

Tinggalkan Balasan