Perempuan Mulia (2): Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad

Perempuan Wawasan 3 Mei 2021 0 54x
Fatimah-Perempuan Mulia

Fatimah-Perempuan Mulia

Oleh: Audah Mannan

Khadijah binti Khuwailid

Khadijah adalah seorang sayyidah perempuan pada zamannya. Julukannya ath-Thahira, yakni orang yang bersih dan suci. Khadijah adalah ummul mukminin pertama di mata orang-orang beriman. Meskipun gelar ummul mukminin disandang oleh istri-istri Nabi yang lain, namun peran dan jasa Khadijah begitu luar biasa dalam dakwah Islam yang disiarkan Muhammad, suaminya. Dia adalah pelopor dalam sikap keimanan yang tulus, perempuan pertama yang menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa hambatan dan tanpa bertanya.

Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim menempatkan Khadijah sebagai perempuan terbaik selain Maryam binti Imran. Sementara Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “sebaik-baik perempuan adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid”.

Khadijah adalah perempuan pertama yang memberikan pelajaran keimanan kepada sesama kaumnya. Pelopor hanya ada satu dalam sejarah dan keutamaan hanya diperuntukkan bagi sang pelopor, sebagaimana adagium yang mengatakan “keutamaan itu bagi orang yang memulai, walaupun yang datang sesudahnya lebih baik baginya”.

Baca Juga

Atiyatul Ulya: Potret Perempuan Berkemajuan pada Masa Nabi

Sikapnya yang patut diteladani adalah posisinya sebagai seorang istri dan pendamping setia sang suami dalam mengembangkan dakwah Islam yang penuh tantangan dan cobaan dari kaum kafir Quraisy. Kesalehan duniawi dan ukhrawi ditunjukkan dengan keberhasilan Khadijah sebagai saudagar perempuan; sebagai perempuan karir yang menuntut keterampilan dan etos kerja tinggi. Khadijah memilih mengutamakan kepentingan suami daripada kepentingan pribadi, hartanya disumbangkan untuk kepentingan Islam.

Dalam suatu riwayat Rasulullah saw. bersabda, “Khadijah beriman ketika orang-orang kafir kepadaku, dan membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dan dia membantuku dengan hartanya ketika orang memblokade”. Dalam suatu hadits yang diriwayaktan oleh Abu Hurairah, Jibril datang kepada Nabi dan berkata, “wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisikan lauk-pauk atau makanan dan minuman. Apabila datang kepadamu, maka sampaikanlah kepadanya salam dari Tuhannya dan dariku, dan beri kabar gembiralah kepadanya tentang sebuah rumah di dalam surga yang terbuat dari mutiara di mana di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Fatimah Az-Zahra

Fatimah adalah sosok nyata dari hakikat yang dibawa Islam. Fatimah dengan kepribadian, sifat, dan perbuatannya mengenalkan kepada kaum perempuan khususnya akan ajaran Islam yang sebenarnya. Itulah sebabnya, Rasulullah saw. menyebut Fatimah sebagai penghulu perempuan sejagad dari awal sampai akhir.

Kesempurnaan Fatimah yang suci dan senantiasa disanjung oleh pengikut-pengikut mukmin. Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “putriku Fatimah adalah penghulu perempuan alam semesta, dahulu dan sekarang. Dia adalah dariku dan cahaya mataku. Dialah belahan nyawaku, dialah bidadari insani yang ketika berdiri salat di mihrabnya di hadapan Allah Azza wa Jalla, cahayanya akan memancar kepada penghulu langit sebagaimana cahaya bintang gemintang memancar dan menerangi penghulu bumi”.

Berbagai nama dan gelar yang diberikan kepada Fatimah di antaranya adalah az-Zahra, artinya yang bersinar, atau yang memancarkan cahaya. Dalam riwayat lain yang diriwayatkan Imam Shadiq dikatakan bahwa sebab Fatimah dinamakan az-Zahra karena akan diberikan kepada beliau sebuah bangunan di surga yang terbuat dari yaghut merah. Dikarenakan kemegahan dan keagungan bangunan tersebut maka para penghuni surga melihatnya seakan sebuah bintang di langit yang memancarkan cahaya, dan mereka satu sama lain saling mengatakan bahwa bangunan megah bercahaya itu dikhususkan untuk Fatimah.

Baca Juga

Perempuan Mulia (1): Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahin

Fatimah hidup pada zaman yang penuh dengan tantangan. Masa itu adalah masa dakwah ayahnya dalam mengajak masyarakat untuk beriman kepada Allah swt., sedangkan orang-orang Quraisy dengan kesombongannya pada harta kekayaan dan nasabnya merasa bangga dan tidak mau beriman kepada Allah swt. Fatimahlah yang menjadi pendukung ayahnya semenjak ibundanya Khadijah meninggal dunia. Dia adalah penenang hati ayahnya sehingga ia dijuluki sebagai ummu abiha (ibu bagi bapaknya).

Bila Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwailid adalah penghulu kaum perempuan pada zamannya, Sayidah Fatimah adalah penghulu kaum perempuan di sepanjang zaman, mulai dari perempuan pertama hingga akhir zaman. Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal.

Ummu Salamah, Asma binti Umais dan, Ummu Sulaim menyaksikan bahwa Fatimah adalah perempuan suci yang tidak pernah mengalami masa haid dan nifas atau dalam bahasa Arab disebut al-Batul. Rasulullah saw. bersabda, “Fatimah bergelar al-Batul adalah karena dia tidak pernah mengalami haid dan nifas”.

Rasulullah saw. telah mendidik Fatimah, bahwa kemanusiaan itu adalah intisari kehidupan yang paling berharga. Ia juga telah diajar bahwa kebahagiaan rumah tangga yang ditegakkan di atas pondasi akhlak utama dan nilai-nilai Islam jauh lebih agung dan lebih mulia dibanding dengan perkakas-perkakas rumah yang serba megah dan mewah. Ali bersama istrinya hidup dengan dengan rasa penuh kebanggan dan kebahagiaan.

Dua-duanya selalu riang dan tak pernah mengalami ketegangan. Fatimah menyadari bahwa dirinya tidak hanya menjadi putri kesayangan Nabi Muhammad saw., tetapi juga istri seorang pahlawan Islam yang senantiawsa sanggup berkorban, seorang pemegang panji-panji perjuangan Islam yang murni dan agung. Fatimah berpendirian bahwa dirinya harus dapat menjadi teladan. Terhadap suami, ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya (Khadijah) terhadap ayahandanya, Muhammad saw.

***

Setelah dipaparkan profil empat perempuan mulia, baik itu Khadijah, Maryam, Asiyah, maupun Fatimah, seyogyanya dalam meneladani para teladan tersebut  bukanlah dari bentuk perkataan atau model perilakunya itu sendiri. Jauh lebih penting untuk memahami maksud atau substansinya untuk kemudian kita sesuaikan dengan kondisi zaman seperti sekarang ini.

Sebagai seorang Muslim, tentunya kita akan mencari contoh teladan yang patut kita tiru supaya bisa mencapai kesempurnaan. Sudah menjadi tabiat manusia, bahwa dalam hidupnya selalu ada yang ingin diikuti dan ditiru. Dalam mengikuti para teladan, jangan sampai menjadikan kita berputus-asa. Justru, kedudukan para teladan yang tinggi hendaknya menjadi spirit bagi kita agar mau meneladaninya. Apalagi faktor yang paling pokok dalam pembentukan kepribadian adalah ikhtiar untuk berusaha menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan