Perempuan

Perempuan-Perempuan Arab Kontemporer

Perempuan Arab
Perempuan Arab

Perempuan Arab (foto: istockphoto)

Oleh: Hajriyanto Y. Thohari

Imaji Indonesia tentang perempuan Arab adalah perempuan yang baru beberapa tahun terakhir diizinkan menyetir mobil, menonton sepak bola, dan menghadiri acara-acara yang bersifat publik. Imaji Indonesia tentang perempuan Arab adalah perempuan-perempuan yang lebih banyak tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Perempuan Arab setidaknya digambarkan sebagai tidak berpendidikan dan karena itu cuma berkutat dengan urusan domestik. Singkatnya, banyak orang Indonesia yang masih memandang bahwa budaya Arab sampai hari ini masih bersifat patriarki dalam definisinya yang kuno itu. Apakah benar sedemikian dan sebegitunya kehidupan perempuan Arab?

Luas dan Tidak Monolitik

Pertama harus segera dicatat bahwa apa yang disebut dengan dunia Arab itu luas sekali: terdiri dari 22 negara yang membentang dari Maroko di bibir Samudera Atlantik sampai Irak. Maroko sering disebut Arab Maghrib (Barat) dan Irak disebut Arab masyriq (Timur). Mungkin saking luasnya dan bukan hanya menyangkut negara-negara Arab yang berada di benua Asia melainkan sampai Afrika Utara, maka istilah Middle East sekarang menjadi lebih sering disebut MENA, yaitu Middle East and North Africa. Tetapi baik negara-negara Arab yang berada di Asia maupun di Afrika tetap saja kawasan itu disebut Dunia Arab.

Orang Arab terdiri dari orang-orang Arab asli dan orang-orang Arab musta’ribah, yakni orang-orang yang semula bukan Arab tetapi kemudian terarabkan (arabized atau Arabisasi). Kata terarabkan bisa dalam konteks diarabkan atau juga mengarabkan dirinya. Intinya, yang disebut dengan orang Arab atau bangsa Arab adalah orang-orang atau bangsa-bangsa yang berbicara dengan Bahasa Arab.

Mungkin saja “darah”-nya bukan Arab, tetapi karena bicara dengan Bahasa Arab maka menjadi Arab. Begitulah memang definisi bangsa Arab itu: bukan darah atau etnis, melainkan Bahasa. Walhasil nasionalisme Arab itu sangat linguistik: sebuah, katakanlah, nasionalisme linguistik.

Jumlah orang Arab sekitar 450 juta, yang berarti sekitar 8% dari populasi dunia. Tentu saja banyak juga orang Arab yang bermigrasi sebagai diaspora di seluruh dunia, di Eropa, Australia, Afrika, dan Amerika. Bahkan jumlah orang Arab dan keturunan Arab di negara-negara Amerika Latin konon mencapai belasan juta. Di Indonesia jumlah keturunan Arab juga sangat besar.

Jika pembaca ingin mendalami sejarah orang Arab maka ada dua buku yang akan sangat membantu, yaitu: History of The Arab karya Philip K. Hitti dan A History of The Arab People karya Albert Hourani. Kedua buku yang merupakan masterpiece dan sekaligus magnus opus dari kedua sejarawan Arab itu telah menjadi klasik dan menyediakan infrastruktur pengetahuan Arab yang sangat memadai.

Baca Juga: Perempuan-Perempuan Palestina

Bentuk dua puluh dua negara Arab tersebut beraneka ragam. Ada yang berbentuk monarki absolut (seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Oman, Uni Emirat Arab), monarki konstitusional (seperti Yordania dan Maroko), dan ada pula yang republik (seperti Mesir, Suriah, Lebanon, Sudan, Aljazair, Tunisia, Libya, Irak, Gibuti, dan lain-lainnya).

Sistem politiknya juga bermacam-macam: ada yang demokrasi seperti Lebanon dan Tunisia (pasca-Arab Spring). Ada juga yang otoritarian (yang tidak perlu saya sebutkan nama negaranya). Secara kebudayaan, negara-negara Arab meski sama-sama berbahasa resmi Arab, juga sangat majemuk atau pluralistik.

Walhasil apa yang disebut dengan dunia Arab bukanlah kawasan yang monolitik secara politik, sosial, dan apalagi budaya. Bahkan juga tidak monolitik secara keagamaan. Memang mayoritas beragama Islam tetapi cara memahami dan mengamalkan ajaran Islam, dalam hal ini ajaran Islam tentang kehidupan sosial berbedabeda. Ada yang sangat taat dan ketat dalam menjalankan ajaran agama, tetapi ada pula yang cenderung sekuler atau setidaknya mengikuti budaya Barat.

Pengaruh budaya Barat harus disebutkan di sini, karena sebagaimana juga di kawasan dunia lainnya, memang sangat hegemonik di dunia Arab. Hegemoni budaya Barat memang benar-benar sangat penetratif di dunia Arab.

Apalagi dunia Arab itu jaraknya sangat dekat dengan Eropa. Terbang dari kota-kota Arab, seperti Beirut, Damaskus, Tripoli (Libya), Tunis, Aljir, Rabat, Iskandariah (Mesir), untuk menyebut beberapa kota saja, ke kota-kota Eropa, seperti Mersailes, Madrid, Lisabon, Athena, Siprus, hanya satu dua jam saja. Bahkan terbang dari Beirut ke Nicosia (Siprus) hanya selama 35 menit saja.

Jarak dunia Arab ke Eropa memang hanya dipisahkan oleh Laut Tengah (Mediterania) yang tidak seberapa luas dan besar itu. Laut Mediterania memanjang dari Selat Gibraltar (Jabal bin Tarik) di mulut Samudera Atlantik sampai Lantakia di Suriah, memisahkan dunia Arab dan dunia Barat.

Perempuan Arab: Sangat Progresif

Perempuan Arab Levan atau Arab Syam (Lebanon, Suriah, Yordania, dan Palestina) bukan hanya sangat maju, bahkan sangat terbaratkan (westernized). Mereka nyatanya malah cenderung lebih aktif daripada laki-laki. Gerakan protes atau demonstrasi massif sepanjang 2019-2020 di hampir seluruh kota Lebanon peserta aksinya didominasi oleh perempuan yang gagah berani. Saking dominannya perempuan dalam aksi revolusi tersebut sampai disebut Revolusi Perempuan alias al-Tsaurah al-Nisaiyyah atau The Revolution of Women).

Dalam riset kecil-kecilan di Lebanon disimpulkan bahwa lebih dari 60-70% mobil-mobil yang berseliweran di jalan disetir oleh perempuan. Perempuan Arab juga sudah mulai mendominasi profesi-profesi modern, seperti lawyer akuntan, sektor keuangan, pendidikan, apoteler, dokter, dan insinyur.

Baca Juga: Siti Munjiyah dan Kampanye Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak

Demikian juga dengan posisi-posisi atau jabatan-jabatan politik, seperti menteri, duta besar, anggota parlemen, gubernur, dan jabatan-jabatan politik yang bersifat publik lainnya. Dua tahun yang lalu Lebanon memiliki enam dari dua puluh menteri anggota kabinet adalah perempuan yang notabene semuanya berbusana ala Barat.

Demikian juga dokter perempuan lebih banyak daripada dokter laki-laki. Dosen-dosen di universitas dalam bidang-bidang studi non-agama, juga didominasi perempuan. Apalagi insan televisi, di mana di Lebanon ada lebih dari 30 saluran, belum lagi TV kabel atau berlangganan, didominasi perempuan secara absolut. Beberapa stasiun TV di Arab Teluk banyak sekali penyiarnya berasal dari Arab levan. Demikian juga para jurnalis media cetak jauh lebih banyak perempuan dari pada laki-laki.

Akhir-akhir ini, apalagi sejak satu setengah dasawarsa terakhir ini, bermunculan banyak sekali aktivis dan pejuang hak asasi manusia perempuan di seantero dunia Arab. Bukan hanya di Arab Levan, melainkan juga di seluruh dunia Arab. Tidak jarang mereka harus berhadapan dengan rezim-rezim yang kebanyakan masih otoritarian sehingga mereka mengalami penangkapan atau penahanan. Singkatnya, perempuan Arab sekarang ini sangat progresif. Jauh sekali dari imaji kebanyakan orang sekarang tentang perempuan Arab.

Related posts
Konsultasi Keluarga

Dukungan bagi Perempuan untuk Berilmu

Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Saya seorang guru di suatu Taman Kanak-Kanak di kota kecil. Saya juga ibu rumah tangga yang telah…
Berita

Siti Noordjannah Djohantini: Perempuan Harus Dilibatkan dalam Proses Menghadirkan Kehidupan Kebangsaan yang Maju

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Membincangkan tentang kehidupan kebangsaan yang bermartabat dan berkeadilan tentu tidak dapat dipisahkan dari bagaimana proses demokrasi berlangsung. Ketua…
Berita

Demi Pemilu yang Bermakna, LPPA PP Aisyiyah: Harus Ada Keterwakilan Perempuan sebagai Penyelenggara Pemilu

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Kamis (19/1), Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah menggelar ‘Aisyiyah Update dengan tema “Mengawal Keterwakilan Perempuan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *