Perempuan Terdampak Covid-19

Liputan 10 Sep 2020 0 59x

Sumber Ilustrasi : bbc.com

Perempuan merupakan salah satu dari kelompok rentan yang terdampak Covid-19. Masalah keterbatasan akses layanan bagi ibu hamil, ibu nifas, akseptor KB,  dan balita; hingga kerentanan perempuan pada kekerasan dalam rumah tangga menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi. 

Isu Gender di Masa Covid-19

Alimatul Qibtiyah, Komisioner Komnas Perempuan RI menyatakan, bahwa ada banyak sekali isu gender di tengah covid-19. Jika dilihat secara umum di luar keluarga, Alim mengungkapkan sebanyak 71% atau 259.32 orang perawat perempuan berada di garda depan berisiko terpapar virus. Belum lagi di tengah kondisi langkanya alat pelindung diri (APD) dan bertambahnya pasien Covid-19. 

Selain perawat, ungkap Alim, perempuan lain yang mudah terpapar, ialah perempuan yang bekerja pada sektor jasa layanan langsung seperti kasir, resepsio-nis, penjual pasar dan lain sebagainya. Kemudian, para perempuan disabilitas dan lansia. Belum lagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan; dan masih ba-nyak lagi pekerjaan dengan gender stereotype lainnya, yang sangat dikhawa-tirkan dapat terpapar virus ini. 

Himbauan stay at home, papar Alim, pada dasarnya dapat menyelamatkan masyarakat dari tertularnya virus. Walau demikian, ungkap alim yang juga Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah ini, bagi kalangan tertentu justru dapat menjadi pemicu masalah baru. Salah satunya kekerasan dalam rumah tangga. Wanita lulusan S3 Western Sydney University Australia ini menyebutkan, terdapat 5 aspek pemicu hal tersebut: aspek psikis, aspek fisik, aspek ekonomi, aspek seksual, dan aspek profesionalitas.

Pertama, aspek psikis. Alim menjelaskan, banyak tekanan yang terjadi pada anggota keluarga, terutama perempuan. Hal ini berdasarkan persoalan pekerjaan yang didasarkan oleh pembagian peran gender secara tradisional, di mana pengasuhan dan pekerjaan domestik menjadi tanggung jawab perempuan. Kedua, tekanan tersebut berdampak pada fisik, sehingga dapat memicu stres dan lelahnya fisik karena beban berlebih pada perempuan. “Nah kalau sudah capek, otomatis perempuan akan sangat rentan dengan Covid-19, karena stamina tubuhnya yang sedang tidak sehat,” tuturnya menjelaskan aspek fisik.

Ketiga, aspek ekonomi. Karena banyak di rumah, tagihan listrik membengkak, kebutuhan pokok bertambah baik secara kualitas dan kuantitas, pun pengeluaran lain seperti internet. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan ekonomi keluarga, ditambah tidak adanya penghasilan tambahan di tengah pandemi global ini. 

Keempat, aspek seksualitas atau private time. Mengingat semua aktivitas diselenggarakan di rumah, mengakibatkan semua anggota keluarga berkumpul. Bagi beberapa keluarga, menurut Alim, kesempatan ini dapat menjadi ajang quality time. Namun, bagi beberapa keluarga yang memiliki jumlah kamar terbatas, mengakibatkan waktu berdua suami istri berkurang dan terganggu. Sehingga, hal ini dapat memicu terjadinya kekerasan di tengah keluarga. 

Terakhir, aspek profesionalitas. Dalam bekerja tentu membutuhkan kolega atau teman berdiskusi untuk memutuskan sesuatu. Namun, lain halnya ketika pekerjaan tersebut di bawa ke rumah atau work from home.  Alim menyatakan bahwa ini menjadi sulit, karena suami atau istri atau anggota keluarga lainnya, jika ditempatkan menjadi kolega, kebanyakan tidak mampu mengimbangi persoalan yang biasa dihadapi di kantor terkait pekerjaan formal. 

Selanjutnya, terkait proses pembelajaran di rumah, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan PPA ini berpendapat, paradigma pendidikan belajar menjadi action banyak sisi positifnya. Seperti waktu berkualitas anggota keluarga menjadi bertambah, terutama bagi keluarga yang long distance relationship atau menjalin hubungan jarak jauh. Di sanalah dapat ditanam nilai-nilai baik yang dapat diimplementasikan orang tua pada anaknya dengan berperan menjadi guru. Walau bagi beberapa keluarga, hal ini menjadi persoalan karena tidak semua orang tua mampu menjadi guru yang baik untuk semua mata pelajaran.

Selain itu, pembelajaran yang biasanya menghapal atau membaca, kini lebih condong ke action. Dampaknya, anak dan orang tua lebih melek teknologi dan media, melalui pengoperasian email, aplikasi zoom, ataupun aplikasi lainnya yang bersinggungan dengan pembelajaran. Terakhir, lewat pembelajaran action atau implementasi, bagi anak-anak hal ini lebih jauh mengena ketimbang knowledge. “Saya pikir walau Covid-19 ini telah berakhir, hal ini patut dilanjutkan. Dengan begitu, belajar secara implementatif sekaligus dapat menggali bakat terpendam pada anak. 

Program Psikososial Atasi Covid-19

Dalam situasi krisis semacam ini, juga banyak beredar informasi hoaks di media sosial. Akibatnya, pembaca dibuat bingung dan keliru dalam memahami covid-19. Menurut Eli Nur Hayati, pengajar psikologi Universitas Ahmad Dahlan, diperlukan program literasi digital untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat dalam membaca berita di media sosial, sehingga paham betul perihal virus Corona, penyakit yang
ditimbulkannya, maupun hal ihwal terkait Covid-19.” 

Selain itu, ungkap Eli, perubahan situasi sosial, ekonomi, politik dan religius akibat pandemi ini menjadi pemicu timbulnya instabilitas mental masyarakat. Eli mencontohkan munculnya keluhan seperti stres, kesepian, kecemasan, hingga ketakutan yang berlebihan. Oleh karena itu, Eli menya-rankan pentingnya program psikososial. “Program psikososial diharapkan dapat membantu masyarakat menemukan tempat mengadu dan memberikan feed back atau umpan balik yang memadai, agar gejala mental yang kurang baik tadi dapat teratasi” ujarnya.

Setidaknya, terdapat lima kategori orang-orang yang perlu memperoleh layanan psikososial, jelas dosen Fakultas Psikologi UAD ini. Pertama, kelompok masyarakat yang lite-rasinya rendah, seperti kelompok masyarakat dengan sosial ekonomi serta pendidikan menengah ke bawah. Kedua, individu dengan kondisi mental yang rapuh karena berbagai masalah di masa lalunya. Ditambah wabah pandemi yang dapat memicu stres bagi kelompok individu ini. Ketiga, kelompok profesi kesehatan, yang beban kerjanya bertambah dan berada di garis terdepan dan terpapar langsung. Kelelahan dan stres pun tak terelakkan. Kondisi tersebut dapat menjadi pemicu bagi masalah kesehatan mental yang memerlukan intervensi psikososial. 

Keempat, kelompok perempuan dan anak. Eli mengungkapkan, bahwa rumah dapat menjadi wilayah berisiko bagi perempuan dan anak terpapar tindak kekerasan domestik. Seperti pada masa pembatasan jarak fisik dan sosial ini,
kesempatan dan durasi interaksi keluarga di rumah makin lama. Situasi interaksi yang intens semacam ini, ditambah dengan stresor (sumber stres) yang meningkat, dapat berpotensi mengakibatkan kekerasan bagi perempuan, dan kekerasan anak dari orang tuanya. Sehingga, Eli menegaskan program psikososial diharapkan juga akan menjangkau mereka untuk memberikan dukungan mental bagi korban maupun konseling bagi pelaku. 

Kelima, Kelompok pekerja tidak tetap, musiman, atau harian. Himbauan tetap di rumah (stay at home) dan menjaga jarak fisik (physical distancing) berdampak pada perubahan produksi dan daya beli masyarakat. Akibatnya, mereka yang berada di sektor ini, rawan kehilangan mata pencaharian sehingga mengalami stres psikososial yang tinggi. Kelompok ini juga perlu mendapatkan layanan psikososial untuk meri-ngankan stres mereka dalam menjalani masa pandemi ini.

Lantas, sebenarnya problem psikososial seperti apa yang banyak dialami masyarakat? Eli memaparkan bahwa problem psikososial yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat umum saat ini adalah kecemasan, ketakutan, dan stres. “Khusus pada kelompok mahasiswa, selain keluhan tersebut, mereka juga mengalami rasa kesepian, terutama pada mahasiswa kos yang tidak pulang ke daerahnya sedangkan kawan-kawan kosnya telah pulang kampung,” tukas pengurus Majelis Kesejahteraan Sosial PPA ini. (Gustin)

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 5, Mei 2020

 

Leave a Reply