Perintah Iqra dan Kesehatan Otak (1)

Hikmah 18 May 2020 0 219x

Oleh : Wildan* dan Nurcholid Umam Kurniaw** (*Dokter Jiwa RS PKU Bantul Yogyakarta **Dokter Anak RS PKU Bantul Yogyakarta/Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.

Yahya bin Mu’az Al-Razy (830-871)

Peristiwa Nuzulul Qur’an terjadi di bulan Ramadhan. Allah SWT mengingatkan umat manusia agar meningkatkan diri untuk naik kelas dari sekedar Homo Abdominalis (abdomen=perut, nafsu makan minum) dan Homo Pelvicus (Pelvic=pinggul, nafsu seks) serta Homo Thoracalis (Thorax=dada, emosi-perasaan, rasa miskin, rasa dongkol) menjadi Homo Cerebralis (Cerebrum=otak, akal budi).

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Saya itu gudangnya ilmu, Ali itu pintu gerbangnya “. Selanjutnya Ali bin Abu Thalib RA berkata : “Musuh utama manusia adalah kebodohannya”.

Hukum otak itu ‘gunakan atau hilang’, use it or loose it. Kata iqra diterjemahkan bacalah. Membaca tidak sama dengan mengucapkan. Membaca dalam arti bahasa sampai dengan memahami. Perintah iqra dalam Kitab Suci disampaikan Tuhan sebanyak empat kali. Adapun maknanya sebagai berikut:

Pertama, read, bacalah. Dalam Kitab Suci kata Al-‘Aql dan Al-Nur (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali. Maka, agar akal manusia tidak salah arah dan mendapatkan Nur Ilahi, diperintahkan agar membaca dengan atau demi nama Tuhan (QS Al-Alaq [96] : 1), baik bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun tidak tertulis. Alhasil, mencakup bacaan suci maupun tidak, alam raya, masyarakat dan diri sendiri.

Kedua, think, pikirkanlah makna-makna (meanings) atau nilai-nilai (values) yang tercantum dalam Kitab Suci karena Tuhan melakukan pengajaran (transfer of knowledge) maupun pendidikan (transfer of values) kepada manusia. Selanjutnya Tuhan berharap agar manusia menjadi ulul albab (orang yang mempunyai pemikiran yang mendalam).

Ketiga, understand, pahami makna dan nilai yang terdapat dalam Kitab Suci. Bagaimanakah cara memahami? Dalam Kitab Suci Tuhan memberi petunjuk, gunakan kalbu (otak depan, bukan hati) untuk memahami ayat-ayat Allah SWT, gunakan mata (otak belakang) untuk melihat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT dan gunakan telinga (otak samping) untuk mendengar petunjuk-petunjuk Allah SWT. Jika lalai, akibatnya perilaku manusia seperti binatang ternak, bahkan bisa lebih sesat lagi, sehingga mudah digiring ke Neraka Jahanam tinggal bersama jin yang juga tidak memakai otak ! (QS Al-A’raf [7] : 179).

Pada otak manusia, reaksi emosional munculnya  seperempat detik. Sedangkan reaksi nalar munculnya dua detik. Bagaimana dengan otak saudara tua kita jin? Ketika sekumpulan jin setelah mendengar Al-Qur’an dibacakan Nabi Muhammad SAW, para jin berkomentar : “Menakjubkan”. Kemudian mereka berkomentar lagi : “Itu petunjuk yang benar” (QS Al-Jin [72] : 1-2).

Ternyata reaksi otak manusia dengan jin itu sama, rasa dulu baru nalar. Lalu apa bedanya manusia dengan jin ? Manusia itu kelihatan karena berasal dari materi yang padat, tanah. Sedangkan jin tidak kelihatan karena berasal dari materi tidak padat, api. Seperti halnya listrik tidak kelihatan, baru kelihatan jika ada lampu yang menyala atau terasa keberadaannya jika kita kesetrum listrik ! Bagaimana melihat jin? Gampang, bakar saja jaket & celana jin (jeans) maka akan tampak jin dalam bentuk asalnya. 

Keempat, maintain, jagalah, peliharalah, pertahankanlah segala makna dan nilai yang tercantum dalam Kitab Suci dalam bentuk perilaku yang bermakna dan bernilai (amal sholeh) seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW (The Living Qur’an) yang sukses melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi (QS Al-Baqarah [2] : 30) dengan berperan aktif di pentas bumi ini, berperan dalam peristiwanya dan pengembangannya. Mengolah bumi di wilayah tempat bertugas, sesuai dengan petunjuk, tugas dan wewenang Allah SWT berikan.

Selanjutnya juga sukses sebagai hamba Allah SWT dengan senantiasa beribadah kepada-Nya (QS Adz-Dzaariyaat [51] : 56). Sukses dari belenggu debu tanah dan senantiasa mengarah ke langit menuju Allah SWT tanpa penghalang apapun baik ibadah murni (mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). Hal ini telah beliau lakukan, maka beliau menjadi manusia yang sesungguhnya manusia (An-Nas, The Mankind) sebagaimana yang dikehendaki Tuhan (The King of Mankind).

Bersambung ke Perintah Iqra dan Kesehatan Otak (2)

Sumber ilustrasi : https://www.techinasia.com/talk/10-books-inspired-build-unicorn-company

Leave a Reply