Perintah Iqra dan Kesehatan Otak (2)

Hikmah 18 May 2020 0 262x

Oleh : Wildan* dan Nurcholid Umam Kurniaw** (*Dokter Jiwa RS PKU Bantul Yogyakarta **Dokter Anak RS PKU Bantul Yogyakarta/Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Kalbu, Otak, Jantung, atau Hati?

Menurut Syahrur (1991), dalam bahasa Arab al-qalb berasal dari akar kata qa-la-ba. Huruf qaf, lam, dan ba mempunyai dua asal makna. Makna pertama, menunjukkan pada sesuatu yang murni atau istimewa. Makna kedua, adalah berbolak baliknya sesuatu dari satu sisi ke sisi yang lain.

Yang paling murni dan paling istimewa dari segala sesuatu adalah qalb-nya. Kitab Suci secara umum menggunakan istilah al-qalb untuk merujuk sesuatu atau organ yang dianggap paling istimewa dalam tubuh manusia. Organ ini adalah “otak”, yang merupakan sesuatu yang paling berharga bagi manusia sehingga disebut sebagai al-qalb. Fungsi al-qalb ada dua, ialah untuk berpikir (ya’qilu), dan untuk memahami (yafqahu).

Untuk membedakan antara al-qalb (yang digunakan untuk berpikir dan memahami) dengan jantung (yang berada pada rongga dada dan merupakan organ pemompa darah) maka kita gunakan al-qalb untuk otak, dan istilah al-‘adhlat ul-qalbiyah untuk jantung. Otaklah yang paling berharga dan ini dapat disimpulkan dari fakta bahwa kematian terjadi dengan berakhirnya proses otak (brain death), bukan berakhirnya proses jantung atau heart death.

Adapun berbolak baliknya sesuatu dari satu sisi ke sisi yang lain ini adalah jantung, bukan hati yang terletak di dalam rongga perut. Jantung (heart) secara simbolik menunjuk pada emosi atau perasaan (sweet heart, broken heart) yang oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, letak emosi atau perasaan dianggap ada di dalam hati (yang merupakan terjemahan salah kaprah dari kata “heart” yang berarti jantung). Sesungguhnya letak emosi di otak pada sistem limbik.

Kata iman diterjemahkan percaya dari kata cahaya. Maka, orang beriman kepada Tuhan berarti mendapat cahaya karena cinta Tuhan kepadanya. Oleh karena itu, tanda-tanda orang itu beriman apabila disebut nama Allah adalah berdebar-debar jantungnya (bukan bergetar hatinya), karena cinta kepada Allah, karena sadar Allah mencintainya. Selanjutnya apabila mendengar ayat-ayat Allah akan bertambah imannya dengan kata lain makin bertambah cintanya (QS Al Anfal [8]:2).

Hal ini serupa dengan ketika disebut nama istri tetanggamu (diam-diam kamu cintai) maka berdebar-debarlah jantungmu. Itu berarti senior, senang istri orang! Ketika disebut nama anakmu berdebar-debar jantungmu karena engkau mencintai anakmu. Maka, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala dan ini dilakukan dengan kecintaan dan ketulusan. Dengan demikian, Tuhan berharap dalam kita beribadah kepada-Nya berdasarkan cinta dan ketulusan (worshiping Allah on the bases of love and sincerity).

Inilah ibadah yang paling berkualitas alias ibadah kualitas nomor satu. Jika belum mampu, karena pola berpikirnya ala pedagang hanya cari untung saja, beribadah karena berharap surga, itupun diterima oleh Allah, meskipun kualitas ibadahnya nomor dua. Jika pola berpikirnya masih kekanak-kanakan (childish), beribadah kepada Allah hanya karena takut masuk neraka, itupun diterima Allah meskipun itu ibadah kualitas nomor tiga. Hidup itu pilihan!

Otak Normal dan Otak Sehat

Otaklah yang membuat manusia menjadi manusia, it is the brain that makes man a man (Levingstone, 1967).

Menurut Aswin (1995) selama berabad-abad orang merasa yakin bahwa pusat perilaku bukanlah otak. Jantung (atau hati) paling sering dikatakan sebagai mekanisme utama kegiatan manusia. Filsuf Yunani Plato (420-347 SM) membagi-bagi perilaku diantara tiga bagian tubuh: keberanian dan ambisi berpusat di hati (maksudnya jantung), penalaran di kepala. Sedangkan sifat-sifat yang lebih rendah, seperti hawa nafsu dan rasa lapar berpusat di perut.

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan). Belum ada definisi kongkrit tentang otak sehat. Karena itu mengacu pada UU tentang Kesehatan tersebut di atas, maka secara sederhana otak sehat dapat diartikan sebagai otak yang keberadaanya juga sehat secara fisik, mental, spiritual, dan sosial (Machfoed, 2016).

Otak sehat (healthy brain) sangat penting bagi kehidupan manusia, lebih-lebih untuk seorang pemimpin yang berotak sehat ibarat matahari yang menyinari semesta alam. Sinarnya membuat alam hidup bergairah. Otak sehat berbeda dengan otak normal (normal brain). Disebut normal, apabila otak memiliki struktur anatomi dan fungsi seperti apa adanya (anatomical and physiological normally).

Otak sehat bukan sekedar otak normal. Otak sehat tidak saja ia dapat berfungsi secara baik, tetapi juga memiliki nilai-nilai (values) tertentu terhadap setiap fungsi yang dimilikinya. Bahwa otak bukan semata-mata daging biasa seperti dipahami oleh masyarakat, tetapi memiliki nilai-nilai (values) membangun peradaban hingga bisa bertahan. Bahkan, kepemimpinan yang tepat, harus bisa mendayagunakan kemampuan otaknya secara optimal sehingga ia melampaui batas kenormalannya menuju kesehatan otak (Machfoed, 2016).

Dahi merupakan lambang kemuliaan. Menurut Pasiak (2012) tulang dahi merupakan tulang tengkorak yang paling tebal karena melindungi otak yang hanya dianugerahkan Tuhan hanya kepada manusia, hewan tidak, yaitu Prefrontal Cortex yang ibaratnya seperti CPU pada komputer. Adapun fungsi Prefrontal Cortex adalah: 1) pengendali nilai (values); 2) pengambilan keputusan (decision making); dan 3) perencanaan masa depan (future planning).

Dalam Kitab Suci Tuhan mengingatkan, bahwa Tuhan mengancam manusia yang jika tidak memfungsikan Prefrontal Cortex -nya akan dijungkir kakinya ke atas lalu diseret pada dahinya ke neraka (QS Al Alaq [96]: 15-16 dan QS Ar Rahman [55]: 41). Agar keputusan manusia bernilai, yaitu baik, benar, dan adil syukur-syukur ihsan.

Kemudian perencanaan masa depannya bernilai, yaitu Iman dan mengingat Hari Kemudian (The Day After atau The Last Day), maka Prefrontal Cortex, ibaratnya seperti Menter Dalam Negeri, agar tidak sesat senantiasa mohon petunjuk Presidennya para Presiden yaitu Allah SWT, lewat sujud (sholat) dan membaca, memikirkan, memahami serta mengejawantahkan (iqra) nilai-nilai (values) yang tercantum dalam Kitab Suci dalam bentuk perilaku yang bernilai.

Last but not least, orang yang takwa adalah orang yang otaknya sehat karena sukses menggunakan prefrontal cortex-nya yang berada di balik jidatnya, sesuai dengan petunjuk dan kehendak Tuhan. Dengan demikian, menjadi manusia yang berperilaku manusiawi, bukan hewani! Selamat menggapai Lailatul Qadar.

Sumber ilustrasi : https://koran.tempo.co/read/ilmu-dan-teknologi/436739/fungsi-otak-kecil-yang-terlupakan?

Leave a Reply