Berita

Perkuat Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak, Kementerian PPPA Minta Dukungan Muhammadiyah-Aisyiyah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Pusat Studi Muhammadiyah di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Selasa (25/1) mengadakan webinar bertajuk “Negara dan peran Muhammadiyah dalam Upaya Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak”. Webinar ini menghadirkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga sebagai pembicara kunci.

Setiap warga negara, kata Puspayoga mengawali, berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman, penyiksaan, dan perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat manusia dengan mengedepankan prinsip-prinsip kesetaraan. Akan tetapi, budaya patriarki yang sudah mengakar telah menciptakan ketimpangan pada sistem sosial dan selanjutnya menempatkan perempuan dan anak pada berbagai kerentanan yang mengancam kualitas hidup mereka.

Secara statistik, kekerasan yang menimpa perempuan dan anak sebagian besar terjadi karena ketimpangan relasi kuasa. Puspayoga menyebut bahwa ada penurunan prevalensi kekerasan dalam beberapa kategori, seperti anak dan perempuan. Meski begitu, laporan kasus kekerasan –khususnya kekerasan seksual—mengalami peningkatan seiring merebaknya pandemi Covid-19.

Ia merujuk ke data Simfoni PPPA yang menunjukkan bahwa sepanjang 2021 terdapat 10.368 perempuan korban kekerasan, di mana 11,6% di antaranya adalah korban kekerasan seksual. Data tersebut, kata Puspayoga, lebih memprihatinkan karena dari 15.971 anak korban kekerasan, 45,1% di antaranya merupakan korban kekerasan seksual.

Baca Juga: Kekerasan Seksual pada Anak dan Perempuan

Angka tersebut, lanjutnya, bahkan belum menggambarkan fenomena kekerasan seksual yang sebenarnya. “Isu kekerasan seksual merupakan fenomena gunung es, di mana permasalahan yang terjadi sebenarnya lebih kompleks dan lebih besar daripada permasalahan yang terlihat di permukaan,” paparnya.

Dalam rangka meminimalisir kasus dan mendukung tersedianya layanan yang berperspektif gender dan anak, pemerintah telah melakukan berbagai upaya strategis, seperti menyediakan integrasi layanan pengaduan, dan meningkatkan upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

Berbagai langkah tersebut memang perlu dilakukan, mengingat  isu kekerasan seksual merupakan isu yang kompleks. “Sehingga penanganannya membutuhkan keterlibatan dari semua pihak dalam kerangka berpikir yang sama, bahwa kekerasan seksual merupakan kejahatan luar biasa, karena merenggut kemerdekaan seorang manusia,” ujar Puspayoga.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Kementerian PPPA berharap partisipasi dan dukungan dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam rangka melengkapi berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk melindungi dan mencegah perempuan dan anak dari risiko kekerasan serta menguatkan perlindungan hak perempuan dan anak.

“Mari bumikan sensitivitas gender dan hak anak dalam tiap-tiap langkah, aturan, dan program, sehingga kita bisa memutus kultur-kultur yang melanggengkan praktik kekerasan. Sudah saatnya kita menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, khususnya bagi perempuan dan anak selaku kelompok rentan untuk tumbuh berkembang dan mencapai potensi maksimalnya,” lanjutnya. (sb)

Related posts
Berita

Dapat Ide saat KKN dan Buat Film saat Skripsi, Film Subuh Kembali Menang Festival

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Film Subuh (Miracle at Dawn)  memperoleh apresiasi. Film ini terpilih Family Sunday Movie edisi April 2022 yang dihelat…
Berita

Dongkrak Promosi Sekolah, MKKS Muhammadiyah Kabupaten Magelang Gandeng FEB dan Fisipol UMY

Magelang, Suara ‘Aisyiyah – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Muhammadiyah Kabupaten Magelang bekerja sama dengan FEB dan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)…
Berita

Tingkatkan Fluorising Warga Aisyiyah, Dosen UMY Selenggarakan Pelatihan Budidaya Anggrek

Sleman, Suara ‘Aisyiyah – Kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dunia dalam waktu panjang saat ini memberikan berbagai dampak yang luas bagi masyarakat,…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.