Perlukah Anak Belajar di Pondok..?

Keluarga 8 May 2020 0 376x

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Kak ‘Aisy yang saya hormati, saya pernah membaca dalam sebuah artikel tentang  “Prinsip Pengasuhan dalam Muhammadiyah”, yang memaparkan bahwa pengasuhan anak itu paling utama adalah dalam keluarga. Bahkan menurut Muhammadiyah, orang tua yang sudah lansia pun juga menjadi tanggung jawab anak dalam keluarga sebagai lahan ibadah bagi anaknya. 

Saya mulai berpikir bahwa anak saya yang sudah hampir lulus ujian pendidikan dasar tidak perlu dikirim ke pondok pesantren, walaupun tadinya kami sebagai orang tua menginginkan anak kami mendapatkan pendidikan pondok, seiring dengan minat anak sendiri waktu awal naik ke kelas VI.  Akan tetapi di sisi lain, saya merasa ragu-ragu, bahwa nantinya saya sebagai orang tua tidak memberikan yang terbaik kepada anak saya.

Nah, bagaimana pendapat Kak ‘Aisy atas kebimbangan saya menyekolahkan anak saya ke pondok? Atas perhatian dari Kak ‘Aisy, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Purwati, anggota ‘Aisyiyah

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Ibu Purwati yang dirahmati Allah, alhamdulillah ibu telah memikirkan sesuatu yang terbaik untuk masa depan putranya. Pandangan Muhamadiyah tentang pengasuhan anak oleh orang tua itu memang sudah benar karena semua anak memiliki hak untuk diasuh oleh orang tuanya. Bersama dengan orang tua, anak akan mendapatkan pengasuhan yang penuh dengan kasih sayang dan perlindungan. 

Dengan kata lain, anak-anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aman bagi mereka. Akan tetapi, apabila niat yang sudah tumbuh di hati bapak ibu beriringan dengan minat anak untuk melanjutkan pendidikan yang berbasis  pondok pesantren, insya Allah memasukkan anak ke sekolah berbasis pesantren tidak akan mengurangi rasa kasih sayang dan tanggungjawab orang tua kepada anak.

Pada awal keterpisahan anak dengan keluarganya, pasti akan dirasakan berat tidak hanya oleh anak, tetapi juga oleh pihak orang tua. Meskipun demikian, berada di pondok pesantren dapat berkontribusi pada terwujudnya nilai-nilai dasar penga-suhan, khususnya  nilai kemaslahatan. Nilai kemaslahatan ini memandang bahwa segala upaya merawat, mengasuh, melin-dungi, membesarkan, dan mendidik anak hendaknya berbuah pada lahirnya kemanfaatan pada diri anak yang pada gilirannya terkondisikan dan terinspirasi untuk memberikan kemanfaatan kepada sesama manusia dan seluruh isi alam dalam kerangka memakmurkan bumi.

Anak yang dibesarkan di lingkungan pendidikan berbasis pondok pesantren atau madrasah yang bersistem asrama (bording school), tidak selalu jauh dari orang tua. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya hari perpulangan atau hari libur, santri/siswa akan berkumpul dengan keluarga kembali. Menyekolahkan anak di pondok pesantren atau madrasah bersistem asrama tidak akan mengurangi rasa tanggung jawab orang tua dalam mencurahkan kasih sayang melalui berbagai cara, di antaranya melalui komunikasi pada jadwal yang diatur oleh pihak pondok.

Kak ‘Aisy yang kebetulan menjadi salah satu anggota Badan Pembina suatu Madrasah bersistem asrama, pernah mencoba mengamati beberapa kejadian saat orang tua menengok putra putrinya yang bersekolah di pondok. Para orang tua dari beberapa latar belakang kehidupan biasanya selalu punya waktu atau menyisihkan waktu di tengah kesibukannya untuk menengok putra putrinya pada hari-hari yang dijadwalkan boleh ditengok keluarga. Mereka tidak melewatkan waktu yang disediakan pondok/asrama. Artinya, justru kualitas perhatian dan efektivitas komunikasi antara orang tua dan anak semakin meningkat.

Satu di antara kelebihan pendidikan sistem pondok pesantren atau asrama ini juga mendewasakan anak dalam kemandirian dalam hal mengatur waktu, melayani kebutuhan diri sendiri, bahkan juga dalam pembelanjaan uang yang diberikan oleh orang tua.  Di sisi lain, ada karakter yang ditanamkan, yakni pembia-saan hidup sederhana, yang sangat bagus untuk anak miliki. Dengan pola hidup sederhana, anak/santri/siswa akan terbiasa untuk hidup bukan mencintai harta melainkan pada amalan shalih dan bekal untuk akhirat. Ini merupakan bagian dari membentuk kecerdasan moral.  Kecerdasan moral dan akhlak ini tentu saja dibutuhkan manusia untuk terbentuknya insan paripurna.

Pesantren memiliki kelebihan dalam hal ini  karena program pendidikan Islam mengarahkan kepada pembentukan moral dan akhlak karimah. Figur kiai, asatidz, atau bapak ibu asrama adalah sebagai kafalah yakni orang yang paling bertanggungjawab memenuhi unsur dukungan, jaminan, dan mempersiapkan anak-anak yang kita titipkan untuk pengembangan potensi dalam menuntut ilmu. Hal ini yang menjadikan orang tua selaku  kafil (orang yang menjaminkan) anak di pondok/asrama, mejadi lebih tenang, tanpa melepaskan tanggung jawab utama sebagai orang tua itu sendiri.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

 (Bunda Imah)

Sumber ilustrasi : https://marketeers.com/pondok-pesantren-diyakini-bisa-cetak-wirausaha-industri-modern/

Leave a Reply