Pertumbuhan Janin Terhambat

Info Sehat 14 Apr 2020 0 207x

Kehidupan manusia dimulai sejak masa janin dalam rahim ibu. Sejak itu, manusia kecil telah memasuki masa perjuangan hidup yang salah satunya menghadapi kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin tersebut akan mempunyai konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya.

Saat hamil, ibu pasti ingin pertumbuhan si kecil berjalan lancar dan normal. Namun, ada hal-hal yang kadang mengancam janin salah satunya adalah janin tak berkembang atau sering dikenal dengan pertumbuhan janin terhambat (PJT). Janin yang tidak berkembang normal (PJT) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi pada berat janin yang tidak sesuai dengan masa kehamilan. Kondisi ini dapat diketahui apabila berat janin berada di bawah kisaran normal berat janin yang ditentukan.

Asupan nutrisi saat ibu hamil akan sangat berpengaruh pada outcome kehamilan tersebut.  Kekurangan asupan mineral seng (zinc) dalam kehamilan misalnya, dapat berakibat gangguan signifikan pertumbuhan tulang.

Pemberian asam folat tidak saja berguna untuk perkembangan otak sejak janin berwujud embrio, tetapi menjadi kunci penting pertumbuhan fungsi otak yang sehat selama kehamilan. Kasus-kasus gangguan penutupan jaringan saraf tulang belakang (spina bifida) dan kondisi otak janin tidak dapat terbentuk normal (anencephaly) dapat dikurangi hingga 50% dan 85% jika ibu hamil mendapat asupan cukup asam folat sebelum dia hamil.

Ibu hamil harus mendapatkan asupan vitamin yang cukup sebelum terjadinya kehamilan karena pembentukan otak janin dimulai pada minggu-mingu pertama kehamilan, justru pada saat sang ibu belum menyadari dirinya telah hamil. Pada kasus-kasus janin mengalami defisiensi asam folat, sel-sel jaringan utama (stem cells) akan cenderung membelah lebih lambat pada janin yang dikandung ibu hamil dengan asupan asam folat yang cukup. Sehingga stem cells yang dibutuhkan untuk membentuk jaringan otak juga berkurang.

Selain itu, sel-sel yang mati juga akan bertambah, jauh lebih besar daripada yang seharusnya. Meski dalam jumlah terminimum sekalipun, keterbatasan nutrisi kehamilan (maternal) pada saat terjadinya proses pembuahan janin dapat berakibat pada kelahiran prematur dan efek negatif  jangka panjang pada kesehatan janin. Sekitar 40% perempuan yang melahirkan prematur disebabkan oleh faktor yang tak diketahui (idiopatik).

Pada kehamilan normal, janin sendiri yang akan menentukan kapan dirinya akan memulai proses kelahiran. Pada hewan uji, telah diketahui kalau proses ini dimulai dari aktivasi kelenjar adrenal untuk memproduksi akumulasi mendadak cortisol di dalam darah. Akibatnya, terjadilah proses berantai yang berujung pada proses kelahiran, dan hal yang sama pula dianggap terjadi pada manusia.

Perempuan hamil harus berpikir untuk mendapatkan diet dan asupan makanan yang adekuat sebelum mereka tahu dirinya hamil, karena nutrisi yang cukup setelah kehamilan terjadi tidak dapat mengkompensasikan ketidakcukupan asupan nutrisi sebelum kehamilan. Meski dalam jumlah sekecil apapun kekurangan nutrisinya. Jika merencanakan untuk hamil, para calon ibu harus dalam kecukupan nutrisi sebelum memulai kehamilan, karena jika tidak, janin kemungkinan besar pertumbuhan janin terhambat-PJT (intrauterine growth restriction) diartikan sebagai suatu kondisi di mana janin berukuran lebih kecil dari standar ukuran biometri normal pada usia kehamilan.

Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT biasanya tampak kurus, pucat, dan berkulit keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dan layu dibanding pada bayi normal yang tampak tebal dan kuat. PJT muncul sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan jaringan atau sel. Kebanyakan kasus PJT atau KMK dikarenakan karena faktor-faktor lain.

Beberapa di antaranya sbb: Faktor ibu,seperti tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, Kencing manis stadium lanjut, penyakit jantung dan pernafasan, malnutrisi, anemia, infeksi, penyalahgunaan obat narkotika dan alkohol, dan perokok. Faktor sirkulasi uteroplasenta,seperti penurunan aliran darah dari rahim dan plasenta, Abrupsio plasenta (plasenta lepas dari lokasi implantasi di rahim sebelum waktunya), plasenta previa (plasenta berimplantasi di segmen bawah rahim) dan, Infeksi di sekitar jaringan janin. Faktor janin, sepertijanin kembar, infeksi, cacat janin, dan kelainan kromosom.

Menghindari cara hidup berisiko tinggi, makan makanan bergizi, dan lakukan kontrol kehamilan (prenatal care) secara teratur dapat menekan risiko munculnya PJT. (Sri Handayani)

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 12, Desember 2017, Rubrik Kesehatan

Sumber Ilustrasi : https://hellosehat.com/kehamilan/perkembangan-janin/perkembangan-kehamilan-minggu-2/

Leave a Reply