Pidato Kebangsaan, Haedar Nashir: Indonesia Jalan Tengah, Indonesia Milik Semua

Berita 30 Agu 2021 0 115x
Haedar Nashir

Haedar Nashir

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Di usianya yang ke-76 tahun, Indonesia di mata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir terlihat masih memikul beban berat persoalan kebangsaan. Persoalan itu di antaranya adalah keterbelahan masyarakat, menguatnya paham radikalisme-ekstremisme, korupsi dan perlakuan memanjakan terhadap koruptor, praktik demokrasi transaksional, kesenjangan sosial, dan menguatnya oligarki politik dan ekonomi. Persoalan-persoalan itu diperparah dengan massifnya produksi konten-konten media sosial yang tidak mencerminkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis, dan situasi pandemi Covid-19 yang berdampak pada berbagai sektor kehidupan.

Pernyataan itu disampaikan Haedar dalam Pidato Kebangsaan yang diselenggarakan secara virtual di YouTube TV Muhammadiyah pada Senin (30/8). Dalam pidato tersebut, Haedar mengambil tema dalam tagar #IndonesiaJalanTengahIndonesiaMilikBersama. Mengenai tagar itu, Haedar menyampaikan,“harapan utamanya agar sebanyak mungkin para elite dan warga bangsa dapat menjadikan kedua isu penting tersebut sebagai masalah bersama untuk menjadi rujukan bersama”.

Indonesia, menurut Haear, dibangun atas pondasi yang bernama Pancasila. Pancasila inilah yang merupakan weltanschauung, filsafat, alam pikiran, jiwa, dan hasrat yang di atasnya dibangun gedung Indonesia merdeka. Melalui Pancasila inilah bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam agama, suku, golongan, dan kelompok dapat bersatu di dalam konsep Bhineka Tunggal Ika.

“Pancasila sebagai titik temu dari kemajemukan terjadi, selain atas jiwa kenegarawanan para tokoh bangsa melalui proses musyawarah-mufakat, secara substansial di dalamnya terkandung ideologi tengahan atau moderat,” tegas Haedar.

Karakter moderat dalam Pancasila ini, menurut Haedar, jangan sampai luntur. Apalagi sampai di tarik ke kanan dan ke kiri. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa untuk menjalankan Indonesia yang moderat, strategi membangun dan mengembangkan pemikiran keindonesiaan pun harus pula ditempuh dengan jalan moderat.

Menurut Haedar, #IndonesiaMilikBersama juga merupakan implementasi dari konsep #IndonesiaJalanTengah. Haedar dalam hal ini menyikapi menguatnya oligarki politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia saat ini. Keserakahan para oligark itu, menurutnya, merupakan negasi dari konsep Indonesia sebagai milik seluruh warga bangsa.

“Di negeri ini tidak semestinya berkembang “siapa yang kuat, yang menang” dan menguasai Indonesia dalam hukum Darwinian. Manakala hal itu terjadi, maka Indonesia dapat terpapar radikalisme-ekstrem bentuk lain, yang tentu saja tidak sejalan dengan Pancasila. Indonesia wajib milik semua,” katanya.

Haedar percaya bahwa saat ini masih ada elite dan warga bangsa yang berhati tulus, baik, jujur, dan mengutamakan kolektivitas dalam hidup berbangsa dan bernegara. Pun sekiranya terdapat pihak-pihak yang mempunyai mentalitas menerabas, egoisme, dan hanya mementingkan urusan diri dan kelompoknya, Haedar yakin bahwa pintu ampunan Tuhan masih terbuka lebar.

“Kuncinya ialah kemauan, ketulusan, kejujuran, dan kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara milik semua. Luruhkan ego diri, kroni, institusi, dan golongan dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara demi masa depan Indonesia yang dicita-citakan para pendiri negara,” ujar Haedar. (sb)

Naskah lengkapnya dapat didownload di sini: #IndonesiaJalanTengahIndonesiaMilikSemua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *