Pidato Milad 109 Muhammadiyah Oleh Haedar Nashir

Berita 18 Nov 2021 8 163x

Milad 109 MuhammadiyahMilad ke-109 Muhammadiyah tahun ini masih berada dalam kondisi pandemi Covid-19. Dunia tidak menyangka akan adanya virus mematikan, yang membawa korban sangat besar, serta berdampak luar biasa berat. Kehidupan selama dua tahun berjalan tidak normal dengan usaha penanggulangan yang tidak mudah.

Alhamdulillah kondisi Covid-19 di negeri ini melandai. Indonesia termasuk negara yang berhasil menekan rendah kasus Covid. Keberhasilan tersebut buah dari kesungguhan pemerintah dan kekuatan-kekuatan masyarakat antara lain Muhammadiyah yang sejak awal konsisten gigih menangani pandemi. Namun semua pihak harus tetap waspada dan seksama. Karena pandemi belum berakhir.

Sikap Optimistik

Bangsa Indonesia harus bangkit dari pandemi dan sigap menyelesaikan masalah-masalah negeri. Indonesia memiliki potensi dan peluang positif untuk pulih dan melangkah ke depan. Kecintaan dan pengkhidmatan berbagai komponen bangsa bertumbuh dengan baik sebagaimana ditunjukkan Muhammadiyah. Banyak potensi anak negeri yang hebat dan berprestasi. Kekayaan alam dan budaya Indonesia sangat kaya sebagai anugerah Tuhan. Semua merupakan modal positif untuk optimis dan bangkit.

Indonesia tahun ini bahkan memperoleh kepercayaan dunia di mana Presiden Joko Widodo diamanati memimpin Presidensi G20 setahun ke depan. Muhammadiyah menyampaikan apresiasi dan selamat atas pencapaian yang positif tersebut. Harapannya kepercayaan dari Group of Twenty itu menjadi modal penting agar Indonesia makin berkiprah di tingkat global sekaligus melakukan konsolidasi nasional yang bergerak dinamis untuk menjadi negara maju.

Pandemi dan masalah negeri dapat diselesaikan secara simultan jika semua pihak bersatu dalam bingkai Indonesia milik bersama. Syaratnya tumbuhkan sikap mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kehendak diri, kroni, golongan, dan kepentingan sendiri-sendiri. Indonesia akan gagal bangkit dan maju manakala para pihak bercerai-berai dan silang-sengketa dalam keangkuhan ananiyah-hizbiyah  atau egoisme kelompok.

Indonesia harus dibawa maju bersama dalam semangat persatuan Indonesia dan kepribadian bangsa. Kemajuan dan keunggulan Indonesia haruslah memiliki pondasi yang kokoh  berlandaskan konstitusi, dasar negara Pancasila, serta nilai-nilai luhur agama dan kebudayaan yang hidup dan mendarah-daging dalam jatidiri bangsa. Modal ruhaniahnya ialah kesungguhan dan benih kebaikan, sebagaimana janji Allah:

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Ankabut: 69).

Kunci menghadapi pandemi dan menyelesaikan masalah negeri ialah tekad dan kesungguhan yang kuat disertai ketulusan, kejujuran, keterpercayaan, kecerdasan, keseksamaan, serta langkah-langkah tersistem yang terfokus pada mencari solusi. Seraya menghindari sikap dan langkah yang serampangan, tidak prioritas, kontraproduksi, dan kegaduhan. Sungguh tidak ada kekuatan yang akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang berat secara sendirian. Semua pihak berkiprah proaktif dalam kebersamaan, termasuk peran TNI dan Polri sebagai pilar penting negara.

Bagi kaum muslimin Indonesia sebagai mayoritas di negeri ini terdapat tuntutan dan tantangan untuk menjadi kekuatan pencerdas, pencerah, pendamai, dan pembawa kemajuan yang bersendikan Ajaran Islam yang rahmatan lil-‘alamin. Umat Islam Indonesia harus tampil sebagai uswah hasanah (teladan terbaik) dan khaira ummah (umat terbaik) yang unggul berkemajuan.

 Nilai Utama

Pandemi Covid-19 memberi pelajaran berharga (ibrah, i’tibar) tentang pentingnya manusia menjaga dan memelihara kehidupan. Allah berfirman:

Artinya: “…barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS Al-Maidah: 32).

Kehidupan manusia merupakan sesuatu yang luhur, berharga, dan bermakna. Letakkanlah persoalan pandemi ini dalam dimensi iman, tauhid, dan habluminallah yang terhubung langsung dengan habluminannas, ilmu, ihsan, dan amal shaleh yang hakiki dan melintasi. Hidup, sakit, dan mati bukanlah persoalan praktis laksana barang murah yang mudah dibuang atau sekali pakai (disposable) sebagaimana cara pandang materialisme.

Pandemi ini masalah bersama yang niscaya menjadi ibrah dan hikmah yang menumbuhkan pandangan dan sikap luhur berbasis nilai-nilai utama (al-qiyam al-fadlilah). Di antara nilai-nilai utama yang niscaya dikembangkan ialah nilai tauhid prokemanusiaan, nilai pemuliaan manusia, nilai persaudaraan dan kebersamaan, nilai kasih sayang, nilai tengahan, nilai kesungguhan berikhtiar, nilai keilmuan, serta nilai kemajuan.

Pertama, nilai tauhid untuk kemanusiaan. Dari musibah Covid-19 dapat dipetik hikmah untuk menguatkan keyakinan tauhid kaum beriman bahwa segala sesuatu di alam semesta ini absolut dalam kekuasan Allah. Hidup dan mati dengan segala siklusnya berada dalam genggaman-Nya. Manusia sungguh kecil dan tak berdaya. Maka tegak luruskan pengabdian kepada Allah seraya cerahkan akal budi untuk mencerahkan kehidupan.

Bertauhid meniscayakan kepedulian pada persoalan kemanusiaan, termasuk menyelamatkan jiwa manusia. Tauhid ajaran multidimensi, baik vertikal dalam hubungan dengan Allah maupun horizontal dalam relasi kemanusiaan dan alam semesta. Itulah kredo tauhid yang melahirkan ihsan kepada kemanusiaan dan rahmat bagi semesta alam.

Kedua, nilai pemuliaan manusia. Pandemi covid memberikan arti pentingnya memuliakan manusia. Jiwa manusia agar dihargai dan diselamatkan, sebaliknya jangan disia-siakan dan direndahkan. Manusia dengan seluruh dimensinya mesti diletakkan dalam ruang metafisika dan kosmologi kehidupan yang utuh, bermakna, dan multidimensi. Manusia jangan dianggap ragad inderwi semata.

Islam menempatkan manusia fi ahsan at-taqwim, makhluk sebaik-baik ciptaan Tuhan. Karenanya manusia sendiri haruslah bermartabat, serta jangan saling menghinakan dan menganut paham yang merendahkan. Manusia modern bila salah kaprah dan tidak memiliki pondasi nilai luhur agama, dapat terjerembab pada hidup nirkeadaban. Sosiolog Peter L Berger  menyebut manusia modern karena kehilangan kanopi suci agama terjebak dalam ironi “chaos”, yakni hidup yang kacau. Hal benar disalahkan, yang salah mendapat dukungan luas, seperti hidup di era  “post truth” atau dalam zaman “Kalabendu”.

Ketiga, nilai persaudaraan dan kebersamaan. Pandemi ini masalah bersama. Setiap orang tidak bisa egois dan merasa bebas dari wabah. Diperlukan jiwa bersaudara dan kebersamaan dalam menghadapinya. Baik dalam menghadapi pandemi maupun masalah bangsa jika ditanggung bersama maka akan lebih mudah sebagaimana pepatah, “Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing”. Bila terdapat perbedaan dicarikan titik temu karena sesama kita bersaudara.

Tumbukan sikap saling tenggang, toleran, lapang hati, dan kerjasama demi membangun kehidupan milik bersama. Seraya jauhkan diri dari tindakan egoistik, pemaksaan kehendak, merasa paling benar dan digdaya. Ukhuwah dan persatuan Indonesia harus dibangun makin kokoh yang lahir dari jiwa tulus dan jujur, sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah bangsa secara bersama.

Keempat, nilai kasih sayang.  Pandemi mengajarkan kita untuk memiliki sikap welas asih atau kasih sayang dengan sesama. Islam mengajarkan “tarahum” atau cinta kasih  asih yang lahir dari nilai ihsan, ukhuwah, silaturahmi, dan ta’awun dalam wujud kepeduliaan, empati, simpati, kerjasama, dan kebersamaan. Jika tidak mau membantu sesama jangan bertindak semaunya. Jika tidak dapat memberi solusi atas masalah yang dihadapi, jangan menjadi bagian dari masalah dan menambah masalah.

Menurut Dokter Soetomo, tokoh perintis Klinik PKU Muhamamdiyah Surabaya tahun 1924, ajaran welas asih  dari Surat Al-Ma’un berbeda dengan teori seleksi alam Charles Darwin, mereka yang kuat yang akan mampu bertahan dalam perjuangan hidup. Sebaliknya, ajaran welas asih Al-Ma’un mendasarkan perjuangan hidup dalam semangat kebersamaan,  sehingga yang kuat mau berbagi dengan yang lemah.

Kelima, nilai tengahan atau moderat. Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19 maupun berbangsa-bernegara mengembangkan wasathiyah atau sikap tengahan, yakni pandangan yang adil dan tidak radikal-ekstrem. Muhammadiyah berusaha mengembangkan nilai wasathiyah yang memiliki prinsip dan autentik, tanpa merasa paling moderat. Moderasi dan usaha melawan radikal-esktrem dalam pandangan Muhammadiyah haruslah ditegakkan secara moderat untuk semua aspek,  jangan sampai atasnama moderat dan moderasi membenarkan “apa saja” dan menjurus pada hal-hal yang ekstrem (ghuluw atau tatarruf).

Keenam, nilai kesungguhan berusaha.  Usaha mengatasi pandemi merupakan komitmen dan tanggungjawab bersama. Konsistensi melaksanakan kebijakan oleh pemerintah, disiplin menjalankan protokol kesehatan oleh seluruh warga, melakukan vaksinasi, dan berbagai langkah lainnya merupakan keniscayaan dalam mengatasi pandemi ini. Segala ikhtiar maksimal harus terus dilakukan sebagai jalan jihad untuk mengakhiri musibah ini.

Ketujuh, nilai keilmuan atau ilmiah. Pandemi ini meniscayakan pentingnya manusia bersandar pada ilmu. Ilmu yang mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan. Para ahli epidemiologi, ahli virus, kedokteran, ahli vaksin, dan para ilmuwan lainnya telah memberi sumbangan berharga dalam memahami dan menghadapi virus Corona yang mengguncang dunia ini. Bangsa Indonesia penting menghargai ilmu sebagai jalan kemajuan hidup.

Ilmu pengetahuan dan teknologi penting disertai hikmah agar tidak mengarah pada keangkuhan ilmuwan dan absolutisme kebenaran. Ilmu dan pikiran manusia modern jangan seperti kotak pandora dalam mitologi Yunani Kuno, yang memberikan harapan indah akan kebaikan, tetapi setelah dibuka ternyata menjadi sumber masalah bagi kehidupan manusia.

Kedelapan, nilai kemajuan. Pandemi ini meniscayakan manusia untuk belajar memahami masalah secara mendalam dan luas serta membangkitkan diri untuk maju pasca musibah. Manusia diajari Tuhan dengan berbagai jalan. Musibah boleh jadi merupakan cara Tuhan agar manusia terus mengungkap rahasia ciptaan-Nya yang sangat luas dan tak terbatas, bersyukur atas segala nikmat-Nya, serta mengakui Kemahakuasaaan-Nya. Di sinilah pentingnya membangkitkan nilai dan etos kemajuan bagi seluruh manusia atas musibah yang mewabah di seluruh dunia ini.

Pengharapan

Muhamamdiyah niscaya bergerak makin dinamis untuk langkah-langkah perubahan, melakukan usaha-usaha strategis,  mengembangkan pusat-pusat keunggulan,  serta perluasan daya jelajah pergerakan Muhammadiyah yang maju di berbagai bidang kehidupan. Jadikan momentum Milad sebagai pintu mengembangkan  dakwah, tajdid,  dan ijtihad  yang melahirkan perubahan,  pencerahan, dan  kemajuan Muhammadiyah sebagai  gerakan Islam yang unggul di ranah lokal, nasional, dan global.

Jika Muhammadiyah dalam kurun terakhir menggelorakan “Islam Berkemajuan” dan “Indonesia Berkemajuan”, maka modal utamanya harus lahir dari rahim Muhammadiyah yang berkemajuan, yakni gerakan yang unggul di segala bidang kehidupan.

Para pimpinan Muhammadiyah dari seluruh lapisan niscaya gigih memajukan umat dan bangsa melalui amal usaha dan kerja-kerja unggulan. Seraya terus belajar, memperkaya, mengembangkan, serta mempromosikan pemikiran-pemikiran maju. Menanggapi dan berdialog dengan pemikiran kritis dari berbagai kalangan mesti dilakukan dengan ilmu yang mendalam dan berhorizon luas, bukan dengan pikiran-pikiran dangkal dan apologi. Para pimpinan Muhamamdiyah di seluruh tingkatan dapat menjadi suluh kemajuan berbekal khazanah ilmu dan hikmah disertai uswah hasanah.

Para kader Muhammadiyah dengan integritas iman, kepribadian, dan nilai-nilai utama yang diajarkan Islam dan tradisi Kemuhammadiyahan harus mampu berdiaspora di berbagai lapangan dan ranah kehidupan. Tampillah dinamis dan berintegritas sebagai pembawa misi dakwah dan tajdid yang melintasi tanpa ragu dan canggung disertai pertanggungajwaban yang bermartabat tinggi dalam spirit keteladanan “Sang Pencerah”.

Melalui momentum Milad ke-109 tahun ini marilah seluruh anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan agar menjaga jiwa ikhlas dalam bermuhammadiyah, berkomitmen tinggi, berkhidmat, menjalin kebersamaan, bekerja secara terorganisasi, produktif, dan menjadikan Persayarikatan unggul berkemajuan. Bergerak dengan kesungguhan dan sabar sebagaimana Kyai Dahlan merujuk ayat Al-Quran:

Artinya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS Ali Imran: 142).

Di akhir pidato Milad ini patut direnungkan pesan Kyai Haji Ahmad Dahlan:  “Aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu sekalian, dengan penuh harapan agar engkau sekalian mau memelihara dan menjaga Muhammadiyah itu dengan sepenuh hati, agar Muhammadiyah bisa terus berkembang selamanya.”. Semoga Allah melimpahlan berkah, rahmat, ridha, dan karunia-Nya untuk seluruh penggerak misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah. Nashrun min Allah wa fathun qarib.

8 thoughts on “Pidato Milad 109 Muhammadiyah Oleh Haedar Nashir”

  1. selamat MILAD yg 109 MYUHAMADYAH Semoga tambah jaya lancar dalam ber amal SHOLEH guna terciptanya kemajuan bangsa yg beradap tanpa mengurangi kaidah2 agama
    menjadi organisasi besar yg disegani dan mampu menjawab tantangan zaman
    sekali lagi selamat dan SUCSES GOOD LUCK 👍👍👍🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *