PK IMM Ahmad Dahlan Lamongan Dilantik, Ketua PDM Lamongan Dorong Kader Jadi Generasi Ulul Albab

Berita 12 Des 2021 0 54x

Lamongan, Suara ‘Aisyiyah – Berproses di sini sangat perlu, jadi kalau kita ber-IMM itu belajar memimpin, belajar dipimpin, belajar dihormati, belajar menghormati, dan belajar menerima celaan. Jadi pemimpin itu kalau sukses jangan berharap dipuji apalagi di lingkungan Muhammadiyah. Dan celaan pun itu adalah energi dalam membangun diri kita.

Demikian Ketua Pimpinan Dearah Muhammadiyah Lamongan Shodikin menyampaikan  dalam Pelantikan Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan Lamongan periode 2021/2022 yang digelar di kampus ITB AD Lamongan. Pelantikan yang digelar pada Sabtu (11/12) itu mengangkat tema “Regenarasi Kepemimpinan dalam Bingkai Moderasi  Kemahasiswaan Demi Mengupayakan Terbentuknya Generasi Ulul Albab”.

“Moderasi itu maksudnya orang yang berpikir sedang. Sedang itu dalam bahasa agamanya wasathiyah, yaitu tengah-tengah. Namun di akhir tema ini ada ulul albab pas sekali. Ulul albab itu moderat. Coba ketika al-Quran berbicara tentang ulul albab, jadi generasi ulul albab yaitu generasi yang moderat antara pikir dan dzikir. Artinya beraktivitas, ketika punya jabatan atau sudah pensiun, ketika mereka berkuasa,” kata Ketua PDM Lamongan ini.

Baca Juga: Jenderal Soedirman: Jadi Kader Muhammadiyah Itu Berat

Berdiri maupun duduk, lanjutnya, selalu ingat kepada Allah selama 24 jam setiap harinya. Namum pikirannya kalau mahasiswa yaitu riset, melakukan riset dari apa yang ada dalam pikiran dan hatinya selalu ingat kepada Allah. Riset ilmiah yang dilakukan dan dimasukkan ke dalam jurnal-jurnal kesimpulannya Allah itu luar biasa.

Maka kemudian dalam tema ini ada regenerasi kepemimpinan dan kepemimpinan yang moderat. Jadi nanti yang diharapkan generasi ulul albab. Jadi gini, kalau regenerasinya berjalan dengan baik, kemudian kita itu wasathiyah moderat, kemudian Islam itu finalnya dari sananya moderat. Shodikin memberikan buktinya tadi pikir dan dzikirnya imbang. “Misalnya lagi Islam itu mempertemukan orang kaya dan miskin itu ketemu pada zakat,” terangnya.

Shodikin menegaskan, pintar dengan yang bodoh dipertemukan di kampus, di sekolah, di pesantren, dan lain sebagainya. “Jadi kemudian, regenerasi kepemimpinan dan moderasi tengah tadi dan kita harapkan muncul kader bergenerasi yang ulil albab lalu kami sampaikan kepada anda semua yaitu menjadi ulil albab yang benar-benar berada di tengah masyarakat. Jadi jangan sampai tinggi teorinya tapi tidak nyambung di masyarakat,” ujarnya.

Jadi generasi ulil albab ini akan dihadapkan dengan hal yang merubah dunia yaitu ideologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, dan harta. Kalau kalian tidak masuk dalam lorong ini ya akan ketinggalan. Pilihannya misalnya menjadi cendekiawan setelah ini lanjut S2 jadi dosen ngajar di kampus dengan istikamah, sering menulis di koran, di jurnal, dan lain sebagainya. Jadi intelektual yang istiqomah.

Shodikin mengajak yang hadir mempunyai niat yang kedua, yaitu ilmu pengetahuan, sebab yang mengubah dunia ke depan adalah ilmu pengetahuan. Yaitu teknologi, di era sekarang kita harus masuk dalam lorong ini karena serba digital. Generasi ulul albab itu harus praktis harus segera masuk, yang jadi politisi masuk dalam politik, dan yang punya kemampuan berwirausaha dia berwirausaha. (Fathan Faris Saputro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *