Pola Asah, Asih, dan Asuh (3A) dalam Perspektif Perempuan Berkemajuan

Wawasan 20 Des 2021 0 62x

KeluargaOleh: Beta Pujangga Mukti

Dalam surat an-Nisa ayat 9 telah dinyatakan mengenai larangan meninggalkan generasi yang lemah. Tentu tanggung jawab utama dalam mempersiapkan generasi penerus yang kuat, baik dari aspek akal, agama, maupun keterampilan adalah dari keluarga. Selain ayah sebagai imam, peran ibu juga sangat menentukan dalam proses atau pola pengasuhan anak, bahkan ibu disebut sebagai madrasatul ula (sekolah pertama) bagi pendidikan anak-anaknya. Begitu penting dan strategisnya peran seorang ibu di dalam mendidik generasi, sehingga ada sebuah ungkapan bahwa “wanita adalah tiang negara. Jika baik wanitanya maka baiklah negaranya, dan jika rusak wanitanya maka rusak pula negaranya”.

Bisa dikatakan bahwa generasi yang kuat lahir dari rahim dan pola pengasuhan seorang ibu yang hebat. Di era yang penuh tantangan dan juga peluang bagi generasi penerus, diperlukan pola pengasuhan atau pendidikan yang sesuai dengan zamannya. Mengutip pepatah Melayu yang menyatakan, “didiklah anak-anakmu itu berbeda dengan keadaanmu sekarang, karena mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zamanmu”.

Untuk itu, cara dan strategi pengasuhan anak perlu disesuaikan dengan kebutuhan era saat ini. Meskipun saat ini, segala sektor kehidupan tidak bisa lepas dari teknologi, namun secanggih apapun teknologi yang dibuat, ia tetap perlu ditempatkan sebagai alat dan sarana, bukan sebagai tujuan utama. Dalam konteks pendidikan atau pengasuhan anak, ia tidak bisa menggantikan peran dan fungsi seorang guru di sekolah maupun seorang ibu di rumah.

Pola pengasuhan anak merupakan kebutuhan dasar yang sedari dini bahkan sejak di dalam kandungan sudah harus diberikan secara maksimal. Kebutuhan dasar ini memiliki tiga aspek penting, yaitu fisik, psikologis, dan afektif. Dalam istilah yang sering digunakan adalah pola pengasuhan 3 (A), Asah, Asih, dan Asuh.

Menurut Dyah Pikanthi (2005), Pola Asah bermaksud sebagai stimulasi atau rangsangan secara mental yang diberikan kepada anak sejak dini. Kebutuhan secara psikologis ini sangat penting untuk perkembangan anak seperti kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, kepribadian, produktifitas, dan lainnya.

Kemudian maksud Pola Asih adalah di mana anak memerlukan kasih sayang dari kedua orang tuanya, anggota keluarga, dan lingkungan sekitar. Kebutuhan secara afektif ini akan menciptakan suasana atau ikatan batin yang kuat dan sangat penting bagi kelangsungan tumbuh kembang seorang anak, seperti penanaman pendidikan agama atau nilai-nilai yang baik serta melatih simpati dan mengasah empati sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Sementara Pola Asuh adalah di mana seorang anak memperlukan kebutuhan makanan yang bergizi, kebutuhan secara fisik yang menyangkut perawatan dasar, pemberian sandang, pangan bagi kelangsungan hidupnya.

Baca Juga: Perbedaan Pola Asuh dalam Keluarga

Seiring berkembangnya zaman, ketiga pola pengasuhan 3 (A) tersebut tentu juga perlu dikembangkan, baik dari segi makna maupun dalam praktiknya. Jika pola pengasuhan dilihat dari perspektif perempuan berkemajuan, dalam hal ini orang tua khususnya para ibu yang senantiasa mendampingi belajar dan tumbuh kembang anak di rumah, maka perlu memahami bahwa ketika bicara pendidikan, pada hakikatnya sedang bicara tentang masa depan.

Bicara tentang menyiapkan generasi baru, penerus cita-cita perjuangan agama dan bangsa. Yang perlu diubah juga adalah anggapan bahwa hakikat pendidikan bukanlah sekadar “membentuk”, tetapi pendidikan adalah “menumbuhkan”. Tentu menumbuhkan sifat dan nilai-nail yang baik ke dalam diri anak. Karena ia menumbuhkan, maka hal paling fundamental yang dibutuhkan adalah lahan yang subur dan iklim yang baik. Lahan yang subur itu di antaranya adalah keluarga, sekolah, dan lingkungan.

Selain menumbuhkan dari aspek kognitifnya (asah) dan kebutuhan jasmani (asuh), di dalam tiga lahan itulah, khususnya keluarga dan lingkungan, aspek afektif (asih) seperti akhlak, karakter, kejujuran, etika, moral, sopan santun, hal-hal baik anak bisa ditumbuhkan. Ketiga lahan tersebut perlu menjadi lahan yang subur dengan sering disiram, disemai, dan dijaga iklimnya agar anak tumbuh menjadi baik.

Memang tidak mudah dan mungkin hasilnya belum bisa kita lihat dan nikmati sekarang. Tapi sejatinya pendidikan dan pola pengasuhan adalah proses pembiasaan. Penilaiannya bukan hari ini, tetapi hari esok. Anak ibarat sebuah biji, ia masih berproses tumbuh dalam pembiasaan, sehingga belum nampak batang, daun, dan bunganya. Tapi suatu saat, dia akan tumbuh menjadi bunga yang semerbak menebarkan wangi dan keindahan bagi sekelilingnya. Tugas orang tua adalah memastikan biji itu tumbuh dan berkembang ke arah yang diharapkan.

Untuk itu, menjadi tanggung jawab orang tua bagaimana menyiapkan masa depan bagi generasi baru. Masih dalam ruang-ruang keluarga, paling tidak ada tiga komponen mendasar pola pengasuhan abad 21 yang perlu dilakukan, sebagai pelengkap dan pengembangan dari pola pengasuhan Asah, Asih dan Asuh.

Pertama, orang tua perlu memastikan anak memiliki karakter atau akhlak. Karakter ini ada dua, yaitu karakter moral (iman, takwa, jujur, rendah hati, dll) dan karakter kinerja (ulet, tangguh, pekerja keras, tidak mudah menyerah, tuntas, dll). Tentu orang tua tidak ingin anak-anaknya tumbuh hanya menjadi anak yang jujur tapi dia malas, atau dia seorang pekerja keras tapi culas. Dua karakter ini sangat penting untuk dimiliki.

Kedua, orang tua perlu melatih dan mengasah anak supaya memiliki kompetensi, antaranya berfikir kritis dan kreatif. Selain itu, kompetensi yang juga sangat penting untuk dimiliki dan dikuasai anak pada era sekarang ini adalah kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Era sekarang bukan lagi berfokus untuk mengembangkan keahlian individu, tetapi juga kemampuan bersosial.

Ketiga, di tengah arus keterbukaan informasi dan teknologi, maka pola pengasuhan anak perlu diarahkan supaya anak mempunyai kemampuan terhadap literasi (keterbukaan wawasan akan baca, budaya, teknologi, dan keuangan).

Zaman sudah berubah, sekarang masuk abad ke-21, yang itu menuntut sebuah paradigma pola pengasuhan yang baru. Dalam konteks perempuan berkemajuan, para ibu dituntut untuk menjadi seorang pembelajar sejati, terus membuka diri, dan adaptif terhadap segala perubahan dalam rangka menyiapkan generasi dengan pola pengasuhan yang diperlukan bagi anak-anaknya hari ini.

Ada seloroh yang mengatakan, “anak abad 21, orang tua abad 20, pola pengasuhan abad 19”. Kita berharap pola pengasuhan ke depan, anak-anaknya abad 21, cara orang tua mendidik dengan pendekatan abad 22, dan fasilitas pendidikan pun sudah abad 23, makin canggih dan makin kreatif. Tentu kecanggihan pendidikan dan pola pengasuhan itu tetap harus dibarengi dengan nilai-nilai karakter dan akhlak yang melekat dalam diri anak didik yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, anak merupakan anugerah dari Allah swt. yang tidak terhingga nilainya dan tidak boleh disia-siakan. Anak adalah aset penting dalam kehidupan pribadi (agama), sosial (masyarakat) maupun berbangsa. Untuk itu, peranan seorang ibu sebagai madrasah pertama dan tiangnya sebuah Negara sangat penting dan strategis dalam pola pengasuhan bagi buah hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *