Pola Pengasuhan Anak Modal Kepribadian Masa Depan (2)

Parenting 4 Apr 2020 0 221x

Oleh : Susilaningsih Kuntowijoyo

Anak merupakan amanah dari Allah SWT yang menjadi tanggungjawab orangtua untuk menjadikannya sebagai muslim/muslimah generasi penerus. Untuk itu orangtua memang harus memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai agar pelaksanaan tanggungjawabnya terlaksana dengan baik.  

Materi dalam Pengasuhan Anak

Membentuk kepribadian adalah membentuk karakter, dan materi bagi pembentukan karakter adalah nilai. Misalnya mengajari anak untuk rajin belajar, maka perlu juga mengajari menyenangi mata pelajarannya, dan untuk itu perlu disampaikan bahwa ilmu itu  menyenangkan.  Jenis nilai yang disampaikan mesti meliputi empat hubungan manusia, hubungan dengan Allah SWT, hubungan dengan diri sendiri, hubungan social, dan hubungan dengan alam (hablum minallah, hablum minannafsi, hablum minanaas, hablum minal ‘alam). Dalam bentuk nilai keempat hubungan itu disebut sebagai nilai spiritualitas, nilai tentang konsep diri, nilai social, dan nilai tentang alam lingkungan. Berikut ini akan disampaikan jabaran masing-masingnya.

Nilai Spiritualitas. Sebagai seorang muslim nilai hubungan dengan Allah sudah harus dibentuk sejak usia dini, yang akan membentuk kesadaran tentang keberadaan Allah dalam kehidupannya, bahwa Allah menyayangi dirinya, bahwa Allah tempat mengadukan harapan (berdoa), bahwa perintah Allah wajib ditaati, dan seterusnya. Nilai spiritualitas tidak hanya cukup disampaikan melalui ajakan melaksanakan dan ketaatan melakukan ibadah wajib saja, misalnya shalat, tetapi juga melalui pengenalan tentang semua aspek kehidupan. Nilai spiritualitas juga harus melandasi dalam pengenalannya tentang hubungan dengan manusia lain dan alam lingkungan, bahkan juga hubungan dengan diri sendiri. Secara psikologis adanya kesadaran spiritual itu akan menumbuhkan rasa aman dan tenteram.

Nilai tentang Diri (Konsep Diri). Konsep diri atau nilai diri adalah gambaran seseorang tentang dirinya, yang terdiri dari konsep diri positif atau negatif (Hurlock 1978). Seseorang harus mengenali konsep diri sendiri sehingga mampu berhubungan, berdialog, dengan diri sendiri. Konsep diri merupakan inti pola kepribadian, dan konsep diri memengaruhi bentuk berbagai sifat. Bila konsep diri positif anak akan dapat mengembangkan sifat-sifat percaya diri, harga diri, dan kemampuan untuk melihat dirinya secara realistis. Kemudian individu tersebut dapat menilai hubungan dengan orang lain secara tepat, dan ini menumbuhkan penyesuaian social yang baik. 

Sebaliknya bila konsep diri negative pada individu tersebut akan terkembangkan perasaan tidak mampu dan rendah diri. Seseorang menjadi merasa ragu dan kurang percaya diri, sehingga menumbukan penyesuaian pribadi dan penyesuaian social yang buruk. Konsep diri terbentuk dari pernilaian, sikap penerimaan, dan perilaku orang lain terhadap dirinya, yang dimulai dari lingkungan keluarga terutama orangtua.

Bila dirinya merasa diterima oleh orangtuanya dan lingkungan keluarganya dengan penuh curahan kasih sayang maka akan terbentuk  konsep diri positif.  Bila penerimaan tetang kehadiran dirinya itu dapat meluas pada lingkungan luar keluarga, yaitu dari teman sebaya dan masyarakat sekitar maka konsep diri itu menjadi semakin kuat. Sebaliknya bila perasaan diri diterima oleh lingkungan terutama oleh orangtuanya dan keluarganya tidak terbentuk, mungkin karena adanya sikap tidak peduli atau bahkan penolakan dari keluarganya termasuk orangtuanya terhadap dirinya maka pada individu tersebut akan terbentuk konsep diri negative. 

 Konsep diri positif akan menjadi modal untuk terbentuknya pribadi yang sehat, dan modal untuk dapat berhubungan dengan dirinya secara baik,  maka dalam proses pengasuhan anak orangtua mesti memahami bagaimana seharusnya konsep diri anak dibentuk.                   

Nilai Hubungan Sosial. Membangun nilai-nilai hubungan sosial juga harus dimulai semenjak dalam proses pengasuhan,  mendampingi proses pembentukan konsep diri positif untuk dapat membangun hubungan social yang baik sehingga dapat merasa damai dan nyaman dalam kehidupannya dengan orang lain.  Ada lima nilai dasar dalam hubungan sosial yang dapat menjadi modal untuk membangun hubungan social yang baik yaitu nilai-nilai damai, cinta, bahagia, semangat, ikhlas (peace, love, happy, power, pure : diambil dari pelatihan Living Values Education (LVE)).

Peace, damai,  adalah menjadi tenang di dalam hati, perasaan damai bersumber dari adanya perasan positif terhadap diri sendiri dan orang lain.  Perasaan damai dapat terbentuk bila hubungan dengan orang lain itu penuh cinta kasih dan tanpa suasana ancam-mengancam.  Proses pengasuhan anak bertanggung-jawab untuk membentuk kesadaran membangun rasa damai.

Love, cinta,  baik rasa dicintai maupun rasa mencintai adalah modal untuk memiliki jiwa yang sehat sehingga memudahkan seseorang untuk hidup secara produktif, karena individu  dapat beraktifitas dengan merasa aman dan damai. Rasa cinta merupakan fitrah atau potensi bawaan manusia yang bersumber dari sifat Rahman dan Rahim Allah yang terpercik pada setiap jiwa manusia melalui cinta ibu yang bersifat natural (natural/unconditioned love). Agar supaya potensi rasa cinta itu dapat tumbuh perlu usaha pengembangan mulai masa proses pengasuhan. Dengan selalu merasa diterima dan dicintai khususnya oleh orangtuanya maka rasa cinta pada anak akan berkembang.

Happy, bahagia,  merupakan produk dari rasa damai dan rasa dicintai. Dengan dimilikinya  rasa bahagia seseorang dapat memberikan kebahagiaan pada orang lain. Rasa bahagia memang diharapkan dimiliki setiap saat oleh setiap orang. Namun suatu saat rasa sedih mungkin juga muncul. Untuk menyikapi adanya rasa sedih itu perlu dibentuk sikap positif (husnudhan) dalam menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan, atau ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.   

Power, semangat,  merupakan suasana hati yang gairah dalam kehidupan sehingga mampu berkarya secara produktif. Semangat dapat muncul sebagai produk dari adanya suasana damai, cinta, dan bahagia. Sehingga apabila tiga nilai itu sudah tertanam dan menjadi bagian dari sifoat dari anak dalam masa pengasuhan maka suasana semangat akan menaungi kehidupan anak sehari-hari.

Power, ikhlas,  adalah sikap suka rela atau tulus dalam melakukan suatu tindakan. Ikhlas meniadakan sikap pamrih dan menghalau sifat egois. Dalam Islam ikhlas adalah melakukan sesuatu yang diniatkan karena Allah semata. Lawan sikap ikhlas adalah rasa egois yang muncul dari adanya kesadaran keakuan, yang sebenarnya perlu dimiliki individu untuk membangun identitas diri, yang juga perlu dikembangkan semenjak usia dini. Daya social dan sikap ikhlas perlu dikembangkan juga sejak usia dini untuk mengimbangi perkembangan daya aku, sehingga seseorang dapat bersikap berbagi tanpa pamrih dalam kehidupan sosialnya.

Nilai Hubungan dengan Lingkungan Alam. Kesadaran tentang pentingnya untuk memelihara lingkungan alam ternyata tidak otomatis muncul pada diri individu.  Adanya kerusakan lingkungan alam yang menimbulkan berbagai bencana alam akibat dari keteledoran manusia merupakan bukti nyata.  Untuk memiliki kesadaran tentang pemeliharaan lingkungan alam perlu adanya proses internalisasi dan sosialisasi semenjak usia dini.

Pembentukan kesadaran tersebut dapat dimulai dengan pengenalan dan pembiasaan hidup bersih dan rapi mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekatnya. Selanjutnya anak juga dibiasakan untuk mengagumi,  mencintai, dan memelihara tanaman, binatang, dan jenis lingkungan yang lain. Dengan sendirinya pengenalan bahwa alam dan seisinya ini merupakan ciptaan Allah SWT yang harus dikagumi, dicintai, dan  dijaga, merupakan landasan spiritual yang harus digunakan dalam proses pengenalan lingkungan.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi April 2017, Rubrik Keluarga Sakinah

Sumber ilustrasi : https://celotehbergizi.wordpress.com/2016/01/01/tanggungjawab-mendidik-anak-ada-di-pundakmu-sang-ayah/

Leave a Reply