Berita

PP Muhammadiyah Terima Silaturahmi DPP Ahlulbait Indonesia

Jakarta, Suara ‘AisyiyahDewan Pimpinan Pusat (DPP) Alhulbait Indonesia (ABI) mengunjungi PP Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Menteng, Jakarta Pusat. Rombongan DPP ABI terdiri dari Ketua Umum Habib Zahir bin Yahya, Wakil Ketua Umum Ahmad Hidayat, Anggoda Dewan Syura Muhsin Labib, Sekjen Sayyid Ali Ridha, Wakil Bendahara Umum Fatah Masinai, dan Ketua Bidang Humas dan Penerangan Dede Azwar.

Menyambut kedatangan rombongan DPP ABI, dari pihak Muhammadiyah hadir Ketua PP Muhammadiyah Syafiq Mughni, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, dan perwakilan Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah dan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.

Kepada Muhammadiyah, ABI menegaskan bahwa mereka berdiri di atas prinsip kebangsaan, ukhuwah, toleransi, dan perdamaian. ABI juga mengambil pelajaran dari Muhammadiyah terkait pelayanan di bidang sosial dan pendidikan. “Kami pun ingin menjadi ormas yang bermanfaat bagi masyarakat luas, komunitas, dan umat manusia,” tutur Habib Zahir, Selasa (7/6).

ABI juga ingin meretas kesalahpahaman dan memperkuat ukhuwah antarsesama. Sebagai kelompok minoritas, mereka mengaku sering mengalami kendala mengenai inisiatif ukhuwah yang diusahakan. Stigma yang salah kepada pengikut ABI, kata Habib Zahir, terlampau kuat.

Baca Juga: Merekat Persatuan dengan Islam Wasathiyah

Menanggapi hal ini, Ketua PP Muhammadiyah Syafiq Mughni mengatakan perlunya silaturahmi, sifat lapang dada terhadap perbedaan, dan keterbukaan dari semua pihak. Menurutnya, silaturahmi seperti ini penting untuk mengurai kesalahpahaman di antara berbagai komunitas iman.

“Kita anggap perbedaan itu sebagai sesuatu yang wajar. Yang penting adalah bagaimana menyikapinya secara dewasa. Kita perlu saling mengenal agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dengan saling mengenal dan memahami itulah kemudian kita saling mencintai,” kata dia.

Dalam konteks iman, kata Syafiq Muhammadiyah juga punya pengalaman sebagai kelompok minoritas. Karena itu, terhadap perbedaan yang ada Muhammadiyah memiliki pendekatan yang rasional dibandingkan dengan emosional.

“Kita punya problem yang sama. Yang penting komunikasi tidak boleh terputus, walaupun perbedaan-perbedaan itu sering mewarnai dakwah kita, tapi insyaAllah Muhammadiyah lebih demokratis dan rasional dalam menghadapinya dengan dewasa dan tetap tidak mengkompromikan apa yang telah menjadi akidah sampai terjadinya sinkretisme dan lain-lain,” pungkasnya.

Menyambung Syafiq, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya relasi multikultural dan kedewasaan dalam menghadapi perbedaan yang ada. “Kita bisa jadi komunitas karena saling memahami dan saling menerima. Kita ini sebetulnya bisa memilah mana yang prinsip yang jadi keyakinan kita dan pada hal tertentu mana yang muamalah, yang dengan sikap itu kita tidak mewarisi konflik dari generasi terdahulu dan mulai membangun paradigma baru yang dalam konteks relasi multikultural, itulah yang sejatinya dibutuhkan,” pungkasnya. (ppm/sb)

Related posts
Berita

PP Muhammadiyah dan Metro TV Buka Peluang Kerja Sama Penguatan Karakter Generasi Muda Indonesia

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Rabu (25/1), PP Muhammadiyah menerima silaturahmi dari jajaran pimpinan Metro TV. Pertemuan berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah Cik…
Berita

Muhammadiyah Kecam Aksi Pembakaran Al-Quran di Swedia

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Tindakan Rasmus Paludan yang membakar al-Quran mendapat kecaman keras dari umat Muslim seluruh dunia. Di Indonesia, Sekretaris Umum…
Berita

PP Muhammadiyah Terima Silaturahmi Duta Besar Tunisia untuk Indonesia

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Rabu (18/1), bertempat di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Duta Besar Tunisia untuk Indonesia Riadh Dridi ditemani diplomat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *