PR TB ‘Aisyiyah : Pendampingan Kelompok Terdampak TBC Melalui Rumah Singgah

Berita 3 Sep 2020 0 32x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah- PR TB ‘Aisyiyah laksanakan Seminar Daring bertajuk “Pendampingan Kelompok Terdampak TBC melalui Rumah Singgah: Bermitra, Berdaya, Berkelanjutan!” secara via Zoom,  yang disiarkan secara langsung melalui Youtube PR TB ‘Aisyiyah (02/09).

Seminar yang dihadiri 152 peserta ini, terdiri dari 12 Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA), para pengelola program TBC Care tingkat provinsi dan kabupaten/kota, manajer kasus (pendamping untuk pasien TBC resisten obat), organisasi mitra yakni PELKESI dan PERDHAKI, 14 organisasi mantan pasien dari berbagai propisi, organisasi masyarakat sipil serta peserta umum dari kalangan pegiat sosial.

Dalam sambutannya, Rahmi Aulina Agam selaku Medical Specialist PR TBC ‘Aisyiyah berharap, kegiatan ini dapat mengedukasi  dan mematahkan stigma TBC. “Mengingat tidak hanya  pasien TBC dan keluarganya saja yang membutuhkan edukasi, namun juga komponen masyarakat lainnya,” pungkasnya.

Selanjutnya, Rohimi Zamzam, Authorized Signatory PR TB ‘Aisyiyah mengutip nasehat KH. Ahmad Dahlan ‘Harus bersungguh-sungguh hati dan tetap tegak pendirian’. Intinya, jelas Rohimi, walaupun kondisinya membuat was-was, tapi kita juga Faiza Azamta Fatawakkal ‘Alallah, Innallaha Yuhibbul Mutawakkileen yang kita kuatkan. Mari kita bersatu, untuk penderia TBC yang akan kita bantu, tegasnya.

Lebih lanjut, Siti Aisyah selaku Ketua Dewan Pembina PR TB ‘Aisyiyah memberikan gambaran tentang Kiprah ‘Aisyiyah dalam mengusung Perempuan Berkemajuan serta komitmen dalam penanggulangan TBC.  Mengutip yang disampaikan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, bahwa ‘Aisyiyah adalah ibu negeri. “Sehingga ketika negeri sedang sakit, maka Ibu tidak akan bisa tidur. Begitu juga dengan ‘Aisyiyah dalam penanggulangan TBC dan Melawan COVID-19,” imbuhnya.

Dalam sesi seminar daring, berbagai teknik dan strategi untuk pemberdayaan ekonomi dan membangun jejaring juga turut disampaikan oleh Tri Hastuti Nur Rochimah, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. “Setidaknya ada 5 strategi yang penting untuk diperhatikan; penguatan kelembagaan, kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi itu sendiri, advokasi dan membangun jaringan, serta melakukan monitoring dan evaluasi serta pembelajaran dari tahapan pemerbedayaan itu sendiri,” jelasnya. Secara spesifik,Tri juga menyampaikan analisis gender dalam pemberdayaan yang melihatnya dari kebutuhan praktis dan strategis.

Terkait pemberdayaan ekonomi untuk pasien atau orang terdampak TBC yang keberlanjutan, Tri menegaskan “Pemberdayaan ekonomi diawali dengan pemetaan kebutuhan dan potensi pasien atau keluarga pasien berbasis kom unitas. Pemberdayaan ekonomi ini bisa dengan model pendampingan kelompok maupun individu,” tambahnya.

Hasil Needs Assessment Pengembangan Shelter PR TBC ‘Aisyiyah, disampaikan Bunga Pelangi, MKM (Community Development Coordinator), bahwa 12 Shelter di 14 wilayah kerja TBC Care ‘Aisyiyah ditemui berbagai tantangan saat memilih shelter, dan serta terkait pengelolaannya selama ini. Setidaknya dinilai dari 4 aspek yakni aspek edukasi, psikososial, penegakan hak asasi manusia dan kesetaraan gender, serta pemberdayaan ekonomi yang akan dilakukan dalam pengembangan shelter. Selanjutnya dipaparkan pengalaman dan praktek baik antara ‘Aisyiyah dengan Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara (YAHINTARA) dalam mengembangkan shelter.

Ruli Oktavian selaku Ketua YAHINTARA menyampaikan berbagai terobosannya dalam program rumah sehat, serta mengedukasi komunitas di Garut, Jawa Barat.  Sebagai organisasi professional – kumpulan para arsitek berkomitmen untuk menjalankan peran dengan mencoba memberikan kontribusi pada masalah hunian dan lingkungan sebagai Langkah preventive dalam eliminasi penyakit TBC. Secara khusus, Bapak Ruli menyampaikan “Kolaborasi dan sinkronisasi kegiatan dengan berbagai komunitas sangat diperlukan, memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Insya Allah selalu dalam lindungan Allah SWT.”

Ketua Majelis Kesehatan PDA Garut, Sakinah memberikan informasi pengalaman baik kolaborasi pentahelix dan komitmen PDA dalam melaksanakan program penanggulangan TBC. Rumah singgah yang ada di Desa Sukamentri, Kecamatan Garut Kota merupakan wujud kepedulian terhadap pasien TBC (Baik TBC Sensitif Obat maupun RO) yang kurang mampu dan rumahnya tidak layak huni untuk diinapkan sementara (2 minggu-2bulan) di awal pengobatan. Harapannya adalah dapat memutus rantai penularan dari TBC. Tidak hanya itu, rumah singgah TBC juga dicanangkan untuk menjadi pusat kegiatan mendukung eliminasi TBC, Desa Siaga TBC dan tentunya sebagaimana marwah organisasi ‘Aisyiyah –menjadikannya Desa Sehat Qoryah Thoyyibah ‘Aisyiyah (DSQTA). Dalam penutupan paparannya, dr Ginna juga mengutip pesan dari Ninik Annisa, MA (pada peresmian shelter): “Dengan ikhlas berkolaborasi, insya Allah Jaya”.

Acara seminar daring ini ditutup dengan sambutan dari Tuti Alawiyah, Program Manager PR TBC ‘Aisyiyah, memberikan arahan replikasi dan adaptasi praktik baik dari pengalaman kolaborasi lintas sektor, serta mempersiapkan strategi berkelanjutan dari penanggulangan TBC melalui upaya pemberdayaan. (Bunga & Rakhma-/PR TBC ‘Aisyiyah)

Leave a Reply