Pramurukti: Merawat Orang Tua dengan Hati dan Dedikasi

Wawasan 1 Jul 2021 0 53x
Pramurukti

Pramurukti

Oleh: Ners Istiqomah

Semua orang memiliki rasa cinta yang besar kepada ayah bundanya. Memiliki orang tua yang berusia panjang adalah suatu anugerah. Merawat orang tua yang sudah lanjut usia adalah ladang ibadah sekaligus pintu surga. Akan tetapi, pintu surga itu tidak mudah dilewati karena tidak semua orang sanggup dan mampu merawat ayah bundanya yang sudah renta. Apalagi jika ayah atau bundanya dalam kondisi sakit atau sudah sedemikian tua, sehingga mulai kehilangan kendali atas dirinya.

Merawat orang tua yang sakit membutuhkan kekuatan fisik dan mental yang tinggi. Dalam situasi demikian, anak-anak ada kalanya tidak mampu melakukannya sendiri, dan memilih untuk meminta bantuan kepada pengasuh orang tua, atau yang biasa disebut ‘pramurukti’. Rasulullah saw. bersabda,

ليس منا من لم يوقر كبيرنا

Artinya, “bukan termasuk golongan kami, mereka yang tidak menghormati orang-orang lanjut usia di antara kami” (HR. Ahmad no. 6937 dan Tirmidzi no. 1920).

Saat ini, dunia menghadapi penuaan penduduk dengan meningkatnya jumlah orang berumur tua dan hidup lebih lama. Berdasarkan proyeksi data penduduk lansia Indonesia diperkirakan terus meningkat. Pada tahun 2020 terdapat sejumlah 27.08 juta lansia, diperkirakan terus meningkat sehingga pada tahun 2025 akan berjumlah sebesar 33.69 juta, dan tahun 2030 akan bertambah hingga 40,95 juta lansia. Pesatnya pertumbuhan lansia dapat mengakibatkan multidampak bagi lansia maupun masyarakat sekitarnya, baik itu dampak sosial, ekonomi, jasmani, rohani, dan psikologi.

Baca Juga: Lansia Penyibak Asa

Sudah menjadi hukum alam, datangnya usia lanjut diiringi dengan mundurnya kondisi fisik serta munculnya berbagai macam penyakit. Kemunduran fisik ini seringkali juga diikuti dengan kemunduran psikis. Orang yang sudah tua cenderung lebih mudah cemas, pelupa bahkan ada kalanya pikun, dan kehilangan kendali emosi sehingga berlaku seperti anak kecil. Hal ini sangat mudah dipahami, mengingat kendali semua perilaku fisik maupun psikis manusia terletak di otak. Jika terdapat sel-sel dan syaraf-syaraf di otak kita yang sudah mulai aus, maka kendali pun menjadi kendor.

Seringkali orang tua juga mengeluh dan menunjukkan sikap-sikap negatif lainnya yang menjadi ujian berat bagi anak yang merawat. Tidak mustahil, suatu saat tumpukan kelelahan itu akan membuat anak kehilangan kendali emosinya, yang mengakibatkan ia bersikap atau mengucapkan sesuatu yang melukai hati orang tua meskipun tanpa dikehendakinya. Belum lagi jika si anak memiliki rumah tangga sendiri yang menuntut waktu dan perhatiannya.

Dalam kondisi demikian, menyerahkan perawatan orang tua kepada pramurukti adalah salah satu jalan keluar yang baik. Berbeda dengan seorang anak, pramurukti bekerja tidak dengan melibatkan emosi. Dengan demikian, ia tidak menanggung beban mental sebagaimana beban yang ditanggung seorang anak. Bagi siapa saja yang pernah merasakan beratnya merawat orang tua, pasti akan sangat berterima kasih kepada para pramurukti, penyambung kasih buah hati kepada orang tuanya yang tak mampu mewujudkannya sendiri.

Mengenal Pramurukti

Pramurukti adalah seseorang yang telah mendapatkan pendidikan non-formal dan pelatihan secara intensif tentang dasar-dasar perawatan orang sakit, serta memperoleh sertifikat sebagai tanda ia mampu menjadi pramurukti. Berdasarkan pengertian tersebut hakekat pramurukti adalah seseorang yang diberi wewenang untuk melaksanakan perawatan dasar pada orang sakit sesuai dengan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya, di bawah pengawasan seorang dokter atau perawat.

Pramurukti berfungsi sebagai pemberi pelayanan atau perawatan yang bersifat membantu orang sakit untuk memulihkan kesehatannya, penyambung lidah atau perantara antara perawat atau dokter dengan pasien, dan pendamping orang sakit dalam proses pemulihan kesehatan/penyembuhan, sehingga orang sakit merasa ditemani dan diberi semangat untuk sembuh.

Seorang pramurukti dituntut untuk mempunyai pemahaman dan keterampilan dalam proses hygiene (pembersihan) diri perseorangan, pemeliharaan kebersihan lingkungan, pemenuhan gizi lansia, pencegahan dan pertolongan pertama pada kecelakaan lansia. Selain itu, ia harus menerapkan prinsip Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pengasuhan lansia sesuai dengan tuntunan agama, akhlak karimah, hablunminallah, dan habblunminnas.

Baca Juga: Menggali Kebijaksanaan dari Pribadi Zuhud Pak AR

Seorang pramurukti harus segera dapat beradaptasi, tidak hanya dengan lansia yang akan dirawatnya, namun juga dengan anggota keluarga lain, maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Pramurukti diwajibkan untuk memahami karakter dan hal penting apa saja yang dibutuhkan oleh lansia tersebut. Lingkungan sekitar merawat lansia juga harus dikuasai. Hal ini menjadi langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan.

Pramurukti harus memiliki keterampilan komunikasi yang handal agar dapat mengambil hati lansia yang dirawatnya. Penting baginya untuk berusaha menyelami kepribadian lansia dan menyesuaikan bagaimana gaya komunikasi yang tepat dan sesuai. Tidak hanya pintar dalam membawakan diri, namun juga harus bisa menjadi teman berbagi bagi para lansia.

Kunci keberhasilan saat lansia terletak pada adanya rasa empati yang tinggi. Kesabaran serta keikhlasan sebuah pengabdian diri harus ada di setiap momen merawat lansia. Sebab tingkat sensitivitas yang dimiliki lansia tentu berbeda dengan orang yang berada di masa produktif. Rasa untuk selalu ingin dimengerti dan dihormati kerap muncul sehingga tidak ada alasan bagi seorang pramurukti untuk mengesampingkan rasa empatinya. Pramurukti juga harus mampu memberikan dorongan secara halus agar lansia tersebut perlahan bisa melakukan  segala sesuatunya sendiri dan tidak terus tergantung dengan orang lain, terutama dengan pramurukti.

Seseorang pramurukti yang bertugas merawat orang sakit maupun lansia sehat harus menunjukkan penampilan sebagai berikut. Pertama, memiliki dan menguasai ilmu yang sesuai dengan tugasnya, memiliki dan menguasai ketrampilan yang diperlukan, dan mampu menerapkan secara tepat. Kedua, memiliki perilaku yang sesuai dengan tugasnya atau profesinya, antara lain sopan santun, penuh pengertian, perhatian , dan bela rasa yang  tinggi, penuh dedikasi, rajin, cekatan, percaya diri, jujur, dapat dipercaya, bertanggung jawab, berani mengakui kesalahan, serta bertindak sesuai wewenangnya.

Pramurukti juga harus memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Orang sakit adalah manusia dan sesama kita. Pramurukti juga harus menghormati martabat manusia yang luhur sejak lahir sampai mati, menghormati hak asasi manusia, melayani tanpa paksaan, menghormati iman kepercayaan orang sakit, dan penghayatannya.

Tinggalkan Balasan