Prinsip Bertetangga Walau Berbeda

Sosial Budaya 25 Jul 2020 0 94x

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. an-Nahl (16): 125)

Seorang muslim berkewajiban  berbuat baik kepada siapa pun termasuk tetangga sekali pun berbeda agama dan keyakinan.

Setiap manusia tentu mendambakan tempat tinggal yang nyaman, aman, dan memiliki tetangga yang baik. Islam mengajarkan untuk memelihara hubungan bertetangga sehingga dalam beberapa sabda Rasulullah Muhammad saw selalu disampaikan bahwa hubungan baik dan kepedulian terhadap tetangga sebagai ukuran keimanan seseorang. Dalam salah satu  hadits terdapat klasifikasi bertetangga, yaitu tetangga yang berlainan agama, tetangga sesama muslim sekalipun berbeda suku bangsa baik pendatang maupun penduduk asli, tetangga dan masih keluarga, yang masing-masing memiliki hak sebagai tetangga walaupun berlainan paham atau agama. 

“Berbuat baiklah dalam bertetangga dengan orang yang menjadi tetanggamu. Dengan demikian engkau dapat disebut seorang mukmin.” (H.R. Bukhori dan Muslim)

Tantangan Dakwah dalam Bertetangga

Fenomena munculnya aliran-aliran baru yang mengaku menjadi bagian dari Islam tetapi ajaran-ajarannya menyimpang jauh, mengusik ketenteraman masyarakat terutama umat Islam. Kelompok tersebut telah mendapatkan doktrin tertentu yang menguatkan pembenaran terhadap faham alirannya. Pendekatan yang dilakukan mereka dalam merekrut anggota adalah dengan  pendekatan kasih sayang, anti kekerasan, dan penberdayaan ekonomi, serta kampanye aksi sosial.

Namun dalam pelaksanaan syariat memiliki aturan tersendiri yang menyimpang dari ajaran Islam yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan As-Sunnah. Kelompok itu bahkan mengakui adanya Rasul sesudah Muhammad saw. Walaupun dalam Undang-undang salah satu pasalnya dicantumkan tentang kebebasan beragama, tetapi tidak boleh disalahartikan untuk memunculkan satu pemikiran yang dianggap “nyleneh” dengan dalih kebebasan beragama, dan diproklamasikan sebagai agama baru. Kondisi tersebut memerlukan sikap tegas untuk menghadapi mereka dalam hubungan bertetangga.  Realitasnya mereka menjadi bagian dari masyarakat yang hidup berdampingan, dan bertetangga dengan siapapun seperti warga negara lainnya. 

 Langkah-langkah Pendekatan

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Mumtahinah : 8)

Kewajiban dakwah berada di pundak setiap muslim. Adapun  yang menjadi sasaran dakwah adalah umat dakwah (yang belum menganut Islam) dan umat ijabah (yang sudah Islam tetapi pengamalannya belum sesuai dengan yang dituntunkan dalam al-Qur’an dan As-sunnah As-shahihah). Dalam kaitan tetangga yang berlainan paham atau mengikuti aliran ekstrem pun tetap menjadi kewajiban untuk mengajaknya pada jalan kebenaran. “Al-haqqu min robbika fala takunanna minalmumtarin” (“kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka janganlah kamu menjadi orang yang ragu-ragu”). 

Cara menghadapinya tentu dengan penuh kearifan karena untuk mempengaruhinya, atau mengubahnya tidak mudah tanpa strategi dakwah yang khusus diramu untuk sasaran kelompok-kelompok semacam itu. Makna yang tersirat dalam ayat di awal tulisan ini merupakan strategi dakwah yang pas untuk diterapkan.

Pertama, dengan hikmah/bijaksana. Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.  Tentu saja dengan pendekatan persuasif;. Keduamauidhah hasanah/ nasehat yang baik seperti himbauan untuk bertobat, penguatan aqidah dan syariah (ibadah, mu’amalah) dan diarahkan pada nilai-nilai kebaikan lainnya; Ketiga, mujadalah, yaitu dengan mengajaknya dialog, dan berinteraksi sosial. Selanjutnya diberikan pembinaan dan penyuluhan, serta pelibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Untuk melakukan semua itu tidak bisa sendiri, tetapi harus secara bersama-sama dengan anggota masyarakat lainnya, dengan melibatkan banyak pihak, dan dukungan dari pemerintah.  Hal yang perlu dipahami oleh setiap pelaku/subyek dakwah  adalah bahwa seluruh pribadi subyek dakwah harus mencerminkan dakwahnya, yaitu pada dirinya terdapat satu kesatuan kualitas antara iman, islam, ihsan. (Msn) 

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3 Maret 2016, Rubrik Qaryah Thayyibah

Sumber ilustrasi : kompasiana.com

Leave a Reply