Prinsip Hidup Beragama dalam Masyarakat Plural

Wawasan 24 Feb 2021 0 53x
Masyarakat Plural

Masyarakat Plural

Oleh: Siti ‘Aisyah

Di tengah era globalisasi, keragaman kehidupan beragama semakin kompleks. Gesekan dan konflik terkadang tidak dapat dihindari. Untuk mewujudkan kehidupan beragama pada masyarakat plural diperlukan keteguhan dan komitmen dalam ber-Islam, pemahaman dan toleransi terhadap kehidupan beragama umat lain, serta kearifan dan kesantunan dalam menyikapi keragaman kehidupan beragama.

Problem dan pertanyaan tentang bagaimana menyikapi keragaman kehidupan beragama pada masyarakat plural terus muncul. Isu-isu yang dihadapi terus berkembang, seperti pernikahan beda agama, mengucapkan atau menjawab salah antar pemeluk agama yang berbeda, ucapan selamat hari raya kepada pemeluk agama yang berbeda, perawatan jenazah, doa dan bantuan kepada orang tua yang non-Muslim, dan bantuan kemanusiaan kepada non-Muslim. Respons masyarakat terhadap masalah tersebut beragam, sejalan dengan paham agama yang dianutnya.

Terdapat beberapa prinsip dasar dalam kehidupan beragama dalam masyarakat plural, antara lain; (a) pengakuan adanya pluralitas kehidupan beragama; (b) koeksistensi damai dalam kehidupan beragama; (c) keadilan dan persamaan dalam kehidupan beragama; (d) menjaga hubungan baik antar umat beragama, dan; (e) kerja sama antar sesama umat beragama.

Pluralitas Kehidupan Beragama

Prinsip pluralitas ini berdasar pada QS. al-Baqarah [2]: 148 dan QS. al-Maidah [5]: 48.

Artinya, “dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. al-Baqarah [2]: 148).

Ada kata kunci dalam ayat tersebut, yaitu wijhah (kiblat) yang bermakna arah, tujuan, orientasi, pandangan, dan praktik keagamaan. Al-Quran telah menegaskan bahwa tiap komunitas ada kiblatnya yang menimbulkan adanya orientasi dan praktik keagamaan masing-masing komunitas.

Lebih lanjut, pengakuan adanya keragaman praktik kehidupan beragama ada dalam QS. al-Maidah [5]: 48, yang mengisyaratkan bahwa masing-masing umat beragama memiliki syir’ah (aturan) dan minhaj (jalan terang). Hal ini berarti tiap agama memiliki praktik keagamaannya sendiri.

Artinya, “…untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (QS. al-Maidah [5]: 48).

Allah swt. juga menegaskan adanya kitab-kitab suci agama-agama terdahulu yang pernah dikenal Nabi Muhammad saw. pada masanya, dan al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad membawa kebenaran dan mengkonfirmasi kitab-kitab yang ada sebelumnya. Realitas kehidupan agama pada masa kenabian Muhammad saw., baik di Makkah maupun di Madinah, terdapat umat Nasrani, Yahudi, bahkan paganisme.

Untuk merespons keragaman kehidupan beragama, Allah justru menganjurkan agar ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalam hal ini, umat Islam dituntut menjadi pemenang (sabiq) dengan menunjukkan praktik-praktik keagamaan yang terbaik, yaitu amaliah-amaliah keagamaan yang terbaik bagi kehidupan masyarakat pada umumnya. Nabi Muhammad saw. telah meneladankan kearifan dan keteguhan prinsipnya  ketika berkomunikasi dengan umat non-Muslim dalam ber-fastabiqul khairat.

Menjaga Koeksistensi Damai

Dalam masyarakat plural, terdapat pengakuan adanya eksistensi bagi setiap umat beragama. Masing-masing umat mengakui eksistensi dirinya dan diri umat lain, karena eksistensi suatu umat tidak akan terwujud tanpa adanya pengakuan umat lainnya. Hal yang penting diwujudkan adalah adanya koeksistensi damai. Untuk mewujudkannya, masing-masing harus menjaga kedamaian, tidak saling memusuhi.

Dalam hal ini, Islam menuntunkan bagaimana menegakkan kedamaian dalam kehidupan beragama, yaitu agar berlaku damai kepada orang-orang non-Muslim yang cenderung pada kedamaian (QS. al-Anfal [8]: 61); berbuat baik dan berlaku adil pada mereka yang tidak memerangi dan tidak mengusir umat Islam, dan larangan berkawan dan bekerja sama dengan orang-orang non-Muslim yang memerangi dan mengusir umat Islam (QS. al-Mumtahanan [60]: 8-9).

Isyarat menegakkan kedamaian secara umum dituliskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 208, yang artinya, “hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam (perdamaian) secara total, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.

Mewujudkan Keadilan dan Persamaan

Manusia di hadapan Allah memiliki kedudukan setara. Yang membedakan tingkat kedudukannya adalah ketakwaan dan amal baiknya (QS. al-Hujurat [49]: 13; QS. al-Mulk [67]: 2). Dalam hal hubungan kemanusiaan, Islam menegaskan bahwa keadilan adalah prinsip utama semua agama yang diturunkan kepada semua Rasul yang diutus Allah swt. Firman Allah,

Artinya, “sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (QS. al-Hadid [57]: 25).

Prinsip keadilan bersifat universal, karena itu upaya penegakan keadilan tidak membedakan hubungan keluarga maupun antar agama. Allah swt. menegaskan bahwa orang-orang mukmin harus mampu bertindak sebagai penegak keadilan, baik terkait dengan kepentingan pribadi, keluarga, maupun adil terhadap orang-orang yang tidak disukai, termasuk berlaku adil terhadap orang-orang non-Muslim (QS. an-Nisa’ [4]: 135; QS. al-Maidah [5]: 8).

Menjaga Hubungan Baik

Dalam mewujudkan kehidupan beragama di masyarakat plural, semua umat beragama hendaknya senantiasa menjaga hubungan sosial yang baik, tanpa mengusik tata keyakinan peribadatan, dan tata nilai yang dianut masing-masing komunitas umat beragama. Dalam hal ini, umat Islam tidak dibenarkan mencampuradukkan agama dengan keyakinan dan peribadatan agama lain.

Untuk itu, Islam menuntunkan agar saling menghormati (QS. an-Nisa’ [4]: 86), bila berdiskusi dilakukan dengan santun (QS. al-‘Ankabut [29]: 46), dan tidak dibenarkan memaki sesembahan antar agama yang berlainan karena berpotensi akan berlanjut pada saling memaki dan berujung adanya konflik antar umat beragama (QS. al-An’am [6]: 108).

Menjalin Kerja Sama

Untuk memahami prinsip ini, diperlukan pemahaman komprehensif dan kontekstual terhadap ayat-ayat al-Quran dan sirah Rasulullah Muhammad saw. dalam hubungannya dengan non-Muslim. Ayat-ayat al-Quran yang dikumpulkan dalam tematik ini ada sepuluh, yaitu QS. al-Maidah [5]: 2, 51, 57; QS. ali-Imran [3]: 28; QS. an-Nisa’ [4]: 89, 139, 144; QS. at-Taubah [9]: 34; dan QS. al-Mumtahanah [60]: 1, 13.

Dari sepuluh ayat tersebut, hanya satu ayat yang mengisyaratkan adanya kerja sama dengan non-Muslim, yaitu QS. al-Maidah [5]: 2, yang memuat anjuran bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan, serta larangan kerja sama dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Sementara sembilan ayat lainnya menegaskan larangan menjalin kerja sama dan persahabatan dengan orang lain agama.

Dalam sirah Rasulullah Muhammad saw., pada masa awal setelah hijrah ke Madinah, beliau membentuk persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshor, serta membentuk persatuan dengan golongan non-Muslim yang ada di Madinah, terutama orang-orang Yahudi yang banyak tinggal di kota itu. Pada masa itu, Nabi Muhammad saw. mencanangkan Piagam Madinah yang mengatur hubungan dan tanggung jawab sosial masyarakat Madinah yang berbeda agamanya. Dalam piagam itu antara lain dirumuskan, “kelompok-kelompok Yahudi merupakan satu umat bersama orang-orang mukmin”.

Bagi orang Yahudi agama mereka, dan bagi orang Islam agama mereka. Dalam perkembangannya, orang-orang Yahudi secara diam-diam berusaha untuk menghancurkan orang-orang Muslim, bahkan bersekutu dengan orang-orang yang memusuhi Islam dari kalangan kafir Quraisy. Mereka melanggar perjanjian yang telah ditandatangi dalam Piagam Madinah. Terhadap golongan inilah larangan bekerja sama dan menjalin persahabatan, karena mereka telah bekerja sama dengan orang-orang yang memusuhi serta mengusir Nabi dan umat Islam.

Pengecualian

Mencermati hal tersebut, dapat dipahami bahwa kerja sama dan hubungan persahabatan dilarang dilakukan terhadap; (a) orang-orang yang menghina dan memperolok agama; (b) orang-orang kafir yang mengingkari kebenaran, dan; (c) orang-orang yang melakukan penindasan dengan cara memerangi dan mengusir kaum Muslimin.

Selama orang-orang non-Muslim tidak melakukan hal tersebut, maka tidak dilarang untuk berhubungan baik dengan orang lain agama (QS. al-Mumtahanah [60]: 9). Allah juga melarang orang-orang yang beriman melakukan pelanggaran dan bertindak melampaui batas karena kebencian mereka terhadap golongan yang pernah mengganggu kebebasan beragama mereka. Sebaliknya, mereka diperintahkan untuk melakukan kerja sama dalam kebaikan dan takwa, bukan kerja sama dalam berbuat dosa dan kejahatan.

Dengan demikian, bantuan kemanusiaan dari orang-orang maupun lembaga non-Muslim yang diberikan secara murni, tidak mengikat, dan tanpa tendensi mempengaruhi keyakinan beragama, serta barang yang disumbangkan adalah barang-barang yang halal, hukumnya mubah diterima. Barang-barang tersebut, baik yang berupa uang, pakaian, maupun obat-obatan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kemanusiaan, keperluan rumah sakit, maupun disalurkan pada pihak-pihak yang memerlukan, baik yang beragama Islam maupun bukan. Hal ini termasuk kerja sama dalam kebaikan. Rasulullah saw. pernah menerima sesuatu pemberian dari non-Muslim dan juga pernah memberikan sesuatu untuk non-Muslim.

Demikian juga membantu anak-anak yatim dan orang-orang miskin non-Muslim, seperti para korban bencana. Semangat QS. al-Maun untuk menyantuni yatim dan miskin tidak dibatasi pada orang-orang Islam saja.

Leave a Reply