Profil Kiai Ahmad Dahlan: Pikiran dan Gerakan yang Melampaui Zaman

Inspirasi 9 Jun 2021 0 121x
Kiai Ahmad Dahlan

Kiai Ahmad Dahlan

Muhammad Darwisy lahir di Kauman, Yogyakarta pada 1 Agustus tahun 1868 M. Ia lahir dari pasangan suami-istri Abu Bakar bin Sulaiman dan Siti Aminah binti Ibrahim. Secara silsilah, Darwisy termasuk keturunan Maulana Malik Ibrahim, satu di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa pada masa-masa awal.

Silsilahnya adalah sebagai berikut: Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana ‘Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kiai Ilyas, Kiai Murtadla, Kiai Muhammad Sulaiman, Kiai Abu Bakar, Muhammad Darwisy.

Dengan latar keluarga demikian, tidak heran jika sejak kecil Darwisy dididik dengan pendidikan agama yang kuat. Awalnya, Darwisy dididik secara langsung oleh ayahnya. Selanjutnya, secara bertahap, ia berguru ke berbagai ulama. Di antara guru Darwisy di awal pengembaraan keilmuannya adalah Kiai Saleh Darat, Kiai Muhsin, Kiai Muhammad Noor, dan Kiai Abdul Hamid. Selanjutnya, Darwisy juga berguru ke Kiai Mahfudz Termas, Kiai Nawawi al-Bantani, Syaikh Kholil Bangkalan, dan Syaikh Khatib al-Minangkabawi.

Baca Juga: Jejak Perjuangan Siti Walidah

Sementara itu, selama dua perjalanan haji, Darwisy banyak beririsan dengan pemikiran pembaharu Islam. Sebut misalnya Ibn Taymiyah, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha. Perjumpaan dengan pemikiran-pemikiran mereka itulah yang kemudian mempengaruhi corak berpikir dan gerakan Darwisy. Dalam perjalanan haji itu jugalah Muhammad Darwisy berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Gebrakan Kontroversial: Meluruskan Arah Kiblat

Gebrakan awal Kiai Ahmad Dahlan yang berimbas pada terlontarnya beragam tuduhan tidak mengenakkan terhadapnya adalah perihal perjuangannya meluruskan arah kiblat. Pada masa itu, hanya sedikit masjid/musala yang arah kiblatnya lurus ke Masjidil Haram di Makkah. Sebagian ada yang ke arah barat laut, ada juga yang ke selatan dan utara. Kondisi tersebut terjadi karena masjid/musala seringkali dibangun dengan mengikuti susunan jalan dan kerapian bangunan.

Sebagai seorang ahli falak –ditambah bantuan perangkat kompas dan peta–, Kiai Ahmad Dahlan memulai proyek pelurusan arah kiblat di Masjid Gedhe Kauman. Proyek tersebut dinilai Kiai Dahlan sangat perlu mengingat salat merupakan tiang agama yang seyogyanya dikerjakan secara baik, benar, dan tepat. Termasuk perihal ketepatan arah kiblat.

Pada masa itu, apa yang dilakukan Kiai Dahlan memang melampaui zamannya. Upaya mengintegrasikan pemahaman agama dengan disiplin ilmu umum belum banyak dilakukan. Apalagi, Kiai Dahlan menggunakan perangkat yang merupakan “produk kafir”, dan pada waktu bersamaan menyelisihi status quo. Kondisi-kondisi itulah yang menjadi sebab gebrakan Kiai Ahmad Dahlan menuai banyak protes dan kecaman.

Baca Juga: Abdul Mu’ti: Muhammadiyah Harus Melihat Masa Lalu untuk Merancang Masa Depan

Untuk sementara, usaha Kiai Dahlan dapat dibilang gagal. Akan tetapi, ia tidak menyerah begitu saja. Pun demikian dengan para muridnya. Mereka dengan berani dan “sembrono” memberi garis di lantai Masjid Gedhe Kauman yang mengarah ke Masjidil Haram. Tindakan tersebut mengundang amarah Kiai Penghulu Khalil Kamaludiningrat. Lebih-lebih karena selang beberapa waktu, jamaah Masjid Gedhe terbagi menjadi dua kelompok kiblat.

Pada tahun 1899, di saat “pertikaian” seputar arah kiblat belum mereda, Kiai Ahmad Dahlan membangun surau yang arah kiblatnya sesuai dengan keyakinannya. Hanya saja, gerakan alternatif Kiai Dahlan tetap menuai ketidaksetujuan kiai-kiai tradisional. Kiai Penghulu sampai mengutus seorang utusan untuk menghadap Kiai Dahlan dengan maksud memerintahkan agar suraunya dibongkar.

Sebagaimana dijabarkan Kiai Syuja’ dalam catatannya, Kiai Dahlan pada waktu itu merasa sangat terpukul. “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. La haula wa la quwwata illa billah al-‘ali al-‘adzim. Paman, haturkanlah kepada Kiai Penghulu, H.M. Khalil Kamaludiningrat, bahwa Khatib Amin Ahmad Dahlan tidak dapat melaksanakan perintah itu, karena perintah itu sifatnya dzalim. Karena kami tidak merasa berdosa melanggar undang-undang negara dan undang-undang agama,” ujar Dahlan.

Baca Juga: Tantangan Kader Ulama Tarjih Muhammadiyah di Era 4.0

Respons Kiai Dahlan tersebut kembali memicu amarah Kiai Penghulu. Yang terjadi selanjutnya adalah perintah untuk merobohkan surau Kiai Dahlan. Kejadian tersebut terjadi pada tanggal 15 Ramadhan 1313 H.

Perobohan surau tersebut merontohkan semangat Kiai Dahlan. Dengan lesu dan gelisah, Kiai Dahlan berjalan meninggalkan rumahnya. Nyai Walidah yang mengetahui apa yang dilakukan Kiai Dahlan pun terkejut. Kejadian tersebut diabadikan Kiai Syuja’,

“Kiai, kamu itu mau ke mana?” tanya Nyai Walidah

“Hendak pergi”

“Lho, pergi ke mana?”

“Pergi ke luar Yogyakarta”

“Eh, lha saya bagaimana?” Nyai Walidah kian penasaran

“Lha, apa kamu mau ikut?”

“Lha ya saya ikut”

“Ayo segera bersiap, nanti setelah salat subuh berangkat” jawab Kiai Dahlan tegas.

Selepas subuh, Kiai Dahlan beserta istri benar-benar meninggalkan rumah. Untungnya, kakak ipar Kiai Dahlan, yakni Kiai Saleh dan istrinya berhasil menghalau kepergian Kiai Dahlan dengan menjanjikan akan membantu mendirikan surau baru. Kiai Dahlan dan Nyai Walidah sepakat dan memutuskan kembali ke rumah, dan memulai aktifitas dakwahnya lagi. (brq)

Tinggalkan Balasan