Wawasan

Prokrastinasi: Perilaku Menunda Pekerjaan yang Mengganggu Produktivitas

Oleh: Desi Eka*

Dalam kehidupan sehari-sehari, setiap orang tentu memiliki kegiatan atau pekerjaan yang harus diselesaikan. Akan tetapi, pada kenyataanya ada sebagian orang yang lebih suka menunda pekerjaan karena menganggap pekerjaan tersebut masih bisa diselesaikan di lain waktu. Perilaku inilah yang kemudian disebut sebagai prokrastinasi.

Mengutip dari Verrywellmind.com pada tulisan yang berjudul What Is Procrastination?, prokrastinasi adalah sebuah tindakan menunda pekerjaan sampai pada menit terakhir atau bahkan melampaui batas waktunya. Beberapa peneliti mengartikan prokrastinasi sebagai bentuk kegagalan dalam mengatur diri sendiri yang ditandai dengan penundaan tugas yang tidak logis meskipun dapat menimbulkan konsekuensi negatif.

Jenis-jenis Prokrastinasi

Berdasarkan pembagiannya, prokrastinasi sendiri memiliki dua jenis. Pertama, adalah prokrastinasi aktif. Yaitu orang yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan secara sengaja dengan tujuan supaya mereka mendapatkan tantangan baru. Biasanya mereka merasa mendapatkan ide ketika mendekati deadline, sehingga mereka akan mengerjakan pekerjaanya pada akhir waktu karena menganggap bahwa hasilnya bisa sempurna. Prokrastinasi jenis ini tentu memiliki sisi positif.

Kedua, adalah prokrastinasi pasif. Yaitu orang yang melakukan kebiasaan menunda pekerjaan karena memiliki masalah ataupun kelemahan. Orang yang memiliki kebiasaan prokrastinasi dengan jenis ini biasanya akan menunda pekerjaan karena merasa kesulitan untuk mengerjakannya.

Penyebab Prokrastinasi

Melansir dari halodoc.com, faktor terbesar yang menyebabkan seseorang sering melakukan prokrastinasi adalah karena adanya gagasan tertentu yang ada dalam diri orang tersebut. Contohnya adalah seseorang yang selalu mengatakan, “aku harus merasa terinspirasi atau termotivasi agar dapat mengerjakan suatu pekerjaan pada waktu tertentu”.

Selain itu, ada faktor-faktor lain yang bisa menyebabkan prokrastinasi terutama yang berkaitan dengan gangguan kesehatan mental, yaitu:

Pertama, akademik. Dalam sebuah analisis tahun 2007 yang diterbitkan oleh Psychological Bulletin ditemukan sebanyak 80-90 persen mahasiswa menunda tugas-tugas secara teratur. Ada juga beberapa distorsi kognitif utama yang menyebabkan mahasiswa sering menunda pekerjaan atau tugas, yaitu suka meremehkan jumlah waktu dalam pengerjaannya, dan melebih-lebihkan motivasi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Kedua, Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) . ADHD merupakan jenis gangguan mental yang membuat penderitanya merasa sulit untuk fokus. Kebanyakan orang dewasa yang mengidap ADHD juga mengalami prokrastinasi. Saat orang tersebut merasa terganggu karena adanya distraksi dari luar maupun dari pikirannya sendiri, maka ia akan merasa sulit untuk memulai suatu pekerjaan. Apalagi jika ia merasa bahwa pekerjaan tersebut terasa sulit atau tidak menarik.

Baca Juga: Emotional Sponge: Rasa Empati Berlebihan yang Berujung Merugikan Diri Sendiri

Ketiga, Gangguan Obsesif Kompulsif (OCD). OCD merupakan gangguan mental dimana penderitanya merasa ketakutan dan cemas secara berlebihan. Prokrastinasi menjadi hal yang cukup umum bagi para pengidap OCD. Salah satu hal yang menjadi alasan adalah karena orang yang menderita OCD sering dianggap sebagai sosok perfeksionis maladaptif dan tidak sehat. Hal inilah yang membuat orang tersebut merasa takut membuat kesalahan, dan ragu apakah yang dilakukannya sudah benar atau salah.

Keempat, depresi. Rasa putus asa, tidak berdaya, dan kekurangan energi bisa mengakibatkan seseorang merasa sulit untuk memulai dan menyelesaikan suatu tugas meskipun itu adalah hal yang sangat mudah sekalipun. Seseorang yang sedang depresi melakukan prokrastinasi karena ia tidak mengetahui bagaimana cara mengerjakaanya pekerjaanya.

Cara Mengatasi Prokrastinasi

Melansir dari Psychology Today dalam tulisan berjudul 11 Ways to Overcome Procrastination yang ditulis oleh Elizabeth Lombardo, ada beberapa cara untuk mengatasi prokrastinasi.

Pertama, hilangkan sifat perfeksionisme. Orang yang memiliki kepribadian perfeksionis biasanya akan melakukan pekerjaan saat merasa waktunya sudah pas agar mendapatkan hasil yang sempurna. Padahal tanpa disadari mereka sudah membuang banyak waktu.

Kedua, bagi tugas-tugas besar menjadi beberapa bagian. Saat mendapati tugas yang yang tampak berlebihan, maka seringkali timbul keinginan untuk menunda tugas tersebut. Oleh karena itu, bagi tugas besar menjadi beberapa bagian. Seperti halnya menulis buku, maka bisa memilih mengerjakan dari membuat kerangka, mengidentifikasi setiap babnya, kemudian baru berkomitmen untuk menuntaskan tulisan tersebut dalam satu waktu.

Ketiga, buat jadwal dan bersikaplah realistis. Saat menerima tugas baru, maka usahakan untuk langsung membuat jadwal pengerjaannya. Jika jadwal sudah ditetapkan maka coba untuk mulai melakukannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa dalam membuat jadwal carilah cara yang mempermudah diri sendiri. Contohnya jika diri sendiri termasuk orang yang suka mengerjakan tugas di pagi hari, maka buatlah jadwal sesuai jam tersebut.

Keempat, memaafkan diri sendiri. Berhentilah menyalahkan diri sendiri atas kesalahan dimasa lalu. Menyalahkan diri hanya akan memperburuk keadaan. Belajarlah dari pengalaman untuk tidak lagi menunda-nunda pekerjaan.

Menunda pekerjaan karena menunggu waktu yang tepat memang tidaklah buruk. Akan tetapi jika bisa melakukan pekerjaan atau tugas sekarang, lalu mengapa harus dikerjakan di lain waktu? Cobalah untuk berhenti menjadi prokrastinasi, jangan sampai karena terbiasa menunda pekerjaan menjadikan diri sendiri menjadi tidak produktif.

*Penulis merupakan Mahasiswa KPI UMY, dan wartawan magang Suara ‘Aisyiyah

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *