PWA dan MLH Jawa Tengah Upayakan Tahun 2025 Bebas Sampah

Berita 27 Feb 2021 0 56x

Jawa Tengah, Suara ‘Aisyiyah – Peraturan Presiden (Perpres) No. 97 Tahun 2017 menyatakan bahwa pada tahun 2025 Indonesia ditargetkan sebagai salah satu negara yang bebas dari sampah. Pernyataan tersebut berhasil menggerakkan Jawa Tengah untuk turut menyukseskan gerakan tersebut.

Tri Astuti selaku perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah menyampaikan bahwa bebas sampah bukan berarti tidak ada sampah sama sekali, melainkan sampah yang dihasilkan harus dapat dikelola dengan baik. Hal tersebut disampaikan saat webinar Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2021 pada Jumat (26/2).

Dengan sinergi dari semua pihak, diharapkan pengelolaan sampah dapat dituntaskan, sehingga misi Jawa Tengah Bebas Sampah pada Tahun 2025 dapat terwujud. Hal ini selaras dengan Gerakan Muhammadiyah Bebas Sampah (GMPS) yang dicanangkan oleh LLHPB PWA Jawa Tengah bersama MLH PWA Jawa Tengah.

“Sebanyak 30% sampah terkurangi dan 70% sampah tertangani. “Boleh menghasilkan sampah. Tapi harus dikelola dengan cara pengurangan ataupun penanganan,” ujar Astuti.

Pengurangan sampah dapat dilakukan mulai dari skala rumah tangga. Misalnya dengan membawa tas sendiri ketika berbelanja atau bisa juga dengan membawa tempat makan sendiri ketika hendak memesan makanan.

Dengan upaya pengelolaan tersebut diharapkan dapat mengurai sumber permasalahan sampah yang ada di Indonesia. Astuti menekankan bahwa pasalnya, masa aktif lokasi TPA di Jawa Tengah banyak yang akan berakhir, sehingga perlu adanya lahan TPA yang baru.

Menurut PP Nomor 81 Tahun 2012 seharusnya lokasi TPA berjarak minimal 1 km dari permukiman penduduk. “Kalau TPA sudah penuh dan tidak bisa dioperasionalkan lagi, sampah mau diproses di mana lagi?” Tanya Astuti.

Selain itu Astuti juga menyampaikan bahwa upaya DLHK dalam capaian pengurangan sampah sebanyak 19.08% pada tahun 2019. Sedangkan untuk capaian penanganan dirasa masih sangat jauh dari harapan yang seharusnya menembus angka 75%, akan tetapi baru terealisasi 49.05% di tahun 2019.

Lebih lanjut Astuti mengharapkan masyarakat dapat berkontribusi dengan tidak sekedar berprinsip ‘kumpul-angkut-buang’ sampah. Melainkan sampah harus benar-benar habis dan terolah di tingkat desa. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi biaya pengelolaan sampah di TPA.

“Kami berharap organisasi Aisyiyah dan Muhammadiyah bisa menjadi mitra kader-kader lingkungan dan juga Kader-kader penggerak masyarakat,” terangnya.

Kontributor: AF

Leave a Reply