Ramadhan dan Hikmah Menahan Marah

Kalam 9 Apr 2020 0 258x

Oleh : dr. H. Agus Taufiqurrohaman, M.Kes, Sp.S. (Dokter RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Dosen F. Kedokteran UII)

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, ada seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Darda’ pernah bertanya kepada Nabi,

عَنْ اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قُلْتُ  يَا رَسُوْلَ اللهِ، دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِى اْلجَنَّةَ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَغْضَبْ. وَ لَكَ اْلجَنَّةُ. الطبرانى فى الاوسط رقم

Dari Abu Darda’, ia berkata : Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya atas suatu amal yang bisa memasukkan saya ke surga”. Rasulullah SAW bersabda, “Jangan marah, maka bagimu surga”. [HR. Thabarani dalam Al-Ausath no 2353]

Sebaliknya, kita selamat dari murka Allah juga dengan menahan marah:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو اَنَّهُ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص: مَاذَا يُبَاعِدُنِى مِنْ غَضَبِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ؟ قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. احمد

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah SAW,“Ya Rasulullah, apa yang bisa menjauhkan saya dari murka Allah ‘Azza waJalla ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Jangan marah”. [HR. Ahmad juz 2, hal. 175]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيّ ص: اَوْصِنِى، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Nasehatilah saya, ya Rasulullah”. Rasulullah SAW bersabda, “Jangan marah”. Orang itu mengulanginya beberapa kali.Nabi SAW bersabda, “Jangan marah”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 99]

Bahkan salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah mampu menahan kemarahannya, sebagaimana tertera dalam surat Ali Imron 133-134:

وَ سَارِعُوْآ اِلى مَغْفِرَةٍِ مّنْ رَّبّكُمْ وَ جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموتُ وَ اْلاَرْضُ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ. اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ اْلكظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَ اْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ، وَ اللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ. ال عمران:133-134

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafqahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [QS. Ali ‘Imran : 133 – 134

Mengendalikan kemarahan bukanlah hal yang mudah, perlu latihan terus menerus. Mungkin selama ini ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, amarah kita langsung memuncak, tangan jadi gemetar mau memukul, sumpah serapah siap berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja. Beruntunglah jika kita mampu menahannya sehingga kemarahan itu tidak berlanjut, maka kita termasuk golongan  orang yang kuat. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ. اِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ اْلغَضَبِ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang kuat itu ialah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah”. [HR. Bukhari juz 7, hal 99/Muslim juz 4, hal. 2014]

Kebiasaan marah disamping akan mengakibatkan kita tidak disukai orang lain, juga memberikan dampak buruk bagi diri kita sendiri. Perasan marah mengakibatkan dampak yang tidak baik bagi jantung. Menurut Profesor Ichiro Kawachi dan kawan kawan orang tua yang memiliki kebiasaan marah memiliki resiko tiga kali lipat mengidap sakit jantung dibandingkan yang lain. Bahkan ilmuan Mark Hendersond dari Universitas John Hopkin menemukan bahwa laki laki yang cepat naik darah/marah lebih mudah serangan jantung.

Hal ini tetap terjadi walaupun mereka bukan berasal dari keturunan pengidap sakit jantung. Sumber lain menyebutkan bahwa orang yang mudah emosi memiliki kadar protein interleukin 6 (IL 6) lebih tinggi, sehingga mengakibatkan terjadinya proses arteriosklerosis yang bisa disusul dengan gangguan jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu menahan marah sangatlah  penting kesehatan kita.

Diantara cara yang dinasihatkan Nabi agar kita mampu mengendalikan amarah seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Baihaki :

” Jika kamu marah, maka diamlah”. Kemudian tentunya kita lanjutkan dengan berdzikir. “Ketahuilah, dengan mengingat Allah batinmu akan tenang”(QS Ar-Ra’d ; 28). Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan imam Abu Dawud, Nabi bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ. وَ اِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ. وَ اِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِاْلمَاءِ، فَاِذَا غَضِبَ اَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ. ابو داود رقم

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari syetan dan sesungguhnya syetan itu diciptakan dari api, dan hanyasanya api itu dipadamkan dengan air, maka apabila salah seorang diantara kalian marah hendaklah ia berwudlu”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 249, no. 4784]. Kemarahan itu karena godaan syetan, syetan terbuat dari api, api mati dengan air.

Mudah mudahan ramadhan kali ini benar benar kita jadikan sebagai media latihan bagi kita untuk pandai menahan kemarahan. Dan mungkin perlu lebih ketat lagi, demi menjaga kesempurnaan ibadah puasa kita sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w ;  “Jika salah seorang di antara kalian melaksanakan ibadah puasa, maka janganlah ia mengucapkan perkataan kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ia dicaci oleh orang atau hendak diajak bertengkar, maka hendaknya ia mengatakan ‘Aku sedang puasa’”(Muttafaqun ‘alaih). 

Dengan  dilatihkan selama ramadhan, maka sudah seharusnya kita menjadi pandai mengendalikan kemarahan. Sehingga tidak ada lagi dari anak bangsa ini yang menjadikan kemarahan dan kekerasan sebagai cara untuk menyampaikan aspirasi dan menuntut penyelesaian masalah. Kita tahu kemarahan dan kekarasan bukanlah solusi yang baik, bahkan kadang mengakibatkan masalah baru yang lebih besar. Wallaahu a’lamu bishshowab.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 5, Mei 2017, Rubrik Kalam

Sumber ilustrasi : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151007124713-277-83388/sifat-pemarah-bisa-memperpendek-usia

Leave a Reply