Muda

Red Flags dalam Hubungan

red flag
red flag

red flag (foto: unsplash)

Oleh: Dede Dwi Kurniasih

Dalam menjalin sebuah hubungan, kadang pasangan atau bahkan diri kita sendiri, memunculkan sikap atau perilaku yang tak sehat. Perilaku yang biasa disebut red flags ini menjadi sinyal bagi pasangan tersebut dan harus menjadi perhatian untuk mengambil keputusan: melanjutkan atau mengakhiri hubungan karena berdampak pada kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental. Yuk, kenali empat tandanya saat berada dalam relasi toksik atau beracun.

Menurut John Gottman dalam bukunya The Four Horsemen of Marriage, ada empat hal yang dapat memprediksi terjadinya perceraian. Artinya, jika keempat hal ini terdapat dalam sebuah hubungan, maka cepat atau lambat hubungan ini akan berakhir. Tentu hal ini mengkhawatirkan. Namun, indikator ini bisa menjadi alat bagi kita untuk mengukur “nilai” relasi yang kita jalani.

Pertama adalah kritik. Lho, apa kita tidak boleh mengkritik meski bertujuan agar partner kita lebih baik? Pertama-tama, kita perlu membedakan antara kritik dan keluhan. Mengeluh lebih menekankan pada perilaku. Misalnya, “aku tidak suka kamu mengupil di depanku”.

Sementara kritik, penekanannya pada subjeknya, misalnya “kamu mengupil terus deh, jorok banget sih”. Dalam keluhan, kita tidak suka ketika seseorang melakukan satu hal spesifik dan tidak menunjuk pada subjeknya. Masalah ada pada perilakunya. Sementara kritik menyatakan bahwa masalah ada pada orangnya, karena itu kita merasa terganggu dengan yang dilakukan.

Baca Juga: Mengenal Toxic Parenting

Kedua adalah defensif. Kita pasti pernah dalam posisi disalahkan dalam sebuah hubungan. Mungkin kita tidak sengaja melakukan kesalahan dan partner kita tahu. Kita tidak terima disalahkan kemudian balik menyalahkannya. Misalnya dengan melontarkan perkataan, “Enggak kok aku enggak gitu, kok kamu merasa aku begitu sih?” atau “Iya aku memang begitu, tapi aku begitu karena kamu begitu”.

Nah, itulah yang disebut defensif. Tentu saja hal itu bukan perilaku yang baik untuk membangun relasi. Sobat muda, kita harus ingat bahwa hubungan bukanlah pertandingan sepakbola. Jadi, tidak perlu ada serangan balik. Bersikap dewasa adalah kuncinya.

Perilaku ketiga adalah penghinaan. Jika muncul penghinaan dalam sebuah relasi, maka kita sudah masuk ke ranah yang lebih parah dibanding perilaku-perilaku sebelumnya. Buat sobat muda yang jika dalam penyelesaian masalah masih melakukan ejekan sarkas, meremehkan profesi, menjelekkan fisik, itu adalah big red flags.

Hati-hati! Dalam hubungan, jika sudah muncul penghinaan, maka cepat atau lambat, relasi akan berakhir. Gottman pernah menyampaikan bahwa penghinaan adalah prediktor terbaik dalam perpisahan. Dalam penelitiannya, dia bahkan tidak menemukan penghinaan sedikit pun di pernikahan stabil dan bahagia.

Keempat, a stone walling. Biasanya dikenal dengan membatu, jadi tembok, tidak merespons, sengaja membuang muka. Dalam konteks saat ini, perilaku ini seperti tidak membalas chat obrolan atau bahkan memblokir nomor partner.

Meski begitu, beberapa hal tesebut biasanya akan ada, meski dalam relasi yang stabil dan bahagia, walau lebih jarang terjadi dan permasalahan tersebut langsung diselesaikan dengan sigap. Jadi, kalau kita mengkritik teman, jangan lupa untuk meminta maaf secara spesifik. Namun, jika salah satu pihak tidak memiliki niatan untuk mengurangi semua red flags tersebut, bahkan melakukan penghinaan, maka sudah saatnya mengakhiri relasi.

Bagaimana kalau ternyata red flags tersebut melekat pada diri kita? Bersikap dewasalah. Ingat bahwa ada cara yang lebih pantas, waktu yang lebih tepat, dan konteks yang lebih pas untuk mengungkapkan emosi. [12/22]

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *