Refleksi Hari Kartini: Kesetaraan Gender dalam Pendidikan Islam

Perempuan Wawasan 21 Apr 2021 0 90x
Kartini dan Kesetaraan Gender dalam Pendidikan Islam

Kartini dan Kesetaraan Gender dalam Pendidikan Islam

Oleh: Mahsunah

Setiap April bangsa Indonesia diingatkan akan sosok Kartini, perempuan yang lahir pada April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, sebagai pejuang. Ia adalah pendobrak belenggu adat yang mengekang kebebasan perempuan untuk memperoleh hak-haknya, terutama dalam memperoleh pendidikan yang layak. Beratnya perjuangan Kartini untuk memperoleh hak menuntut ilmu tergambar dalam lirik lagu berikut, “… utas rantai pengekang yang membalut jiwa Sang Putri, sudah putus direjang, itu oleh Ibu Kartini, dst.

Sayang, saat Kartini dewasa kajian terhadap kandungan al-Quran masih ditabukan. Padahal al-Quran berbicara jelas tentang perlunya ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Artinya, “Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. al-Baqarah [2]: 29).

Baca Juga

Kartini dan Dalil tentang Emansipasi Perempuan

Allah menciptakan bumi seisinya untuk manusia agar dimanfaatkan dan dikelola bagi kemaslahatan hidup menuju kesejahteraan lahir-batin, duniawi-ukhrawi. Untuk melaksanakan itu semua diperlukan ilmu. Rasulullah pun berpesan, “man arādad-dunya fa’alaihi bil ‘ilmi, man arādal ākhirah fa’alaihi bil ‘ilmi, wa man arādahumā fa’alaihi bil ‘ilmi”. Artinya, “barang siapa menghendaki dunia maka harus dengan ilmu, siapa menghendaki akhirat harus dengan ilmu, dan siapa menghendaki keduanya harus dengan ilmu”.

Dalam hal ini Islam tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam kewajiban dan hak memperoleh ilmu. Di zaman Rasul saw. pun terdapat beberapa ‘ilmuan’ perempuan. Selain istri dan putri Nabi, para sahabat, juga Asma binti Abu Bakar, dan Fatimah binti Khattab.

Urgensi dan Arah Pendidikan Islam

Dari beberapa ayat al-Quran dan hadits dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah pendidikan moral, akhlak, serta pengembangan kecakapan dan keahlian. Dalam bahasa Arab, pengertian pendidikan adalah tarbiyah, yang makna bahasanya adalah meningkatkan atau membuat sesuatu lebih tinggi. Dalam diri manusia terdapat bibit-bibit kebaikan yang dapat dikembangkan, tetapi dapat terhambat atau mati jika tidak dipelihara dan dikembangkan.

Oleh karena itu, suasana pendidikan keluarga yang sesuai dengan nilai-nilai ajarah Islam sangat diperlukan. Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah disebutkan bahwa keluarga merupakan tiang utama kehidupan umat dan bangsa sebagai tempat sosialisasi nilai-nilai yang paling intensif dan menentukan. Karena itu, menjadi kewajiban setiap anggota Muhammadiyah untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah yang dikenal dengan Keluarga Sakinah.

Di tengah media elektronik dan media cetak yang semakin terbuka, keluarga-keluarga di lingkungan Muhammadiyah kian dituntut perhatian dan kesungguhan dalam mendidik anak-anak dan menciptakan suasana yang harmonis agar terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif dan terciptanya suasana pendidikan keluarga yang positif sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Apa sejatinya tujuan pendidikan Islam? Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, sebagaimana dikutip Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani telah merumuskan tujuan pendidikan Islam, yaitu: membentuk akhlak mulia; persiapan kehidupan dunia akhirat; untuk menumbuhkan semangat ilmiah (scientific spirit); menyiapkan pelajar dari segi profesi, teknik, penguasaan pekerjaa; memelihara kerohanian dan keagamaan.

Baca Juga

TK ABA: Lembaga Pendidikan Anak Tertua dan Pertama di Indonesia

Sementara itu, Sastrapedja membagi perubahan pengetahuan manusia, bahwa manusia menjadi sempurna dengan ilmu pengetahuan yang merupakan perwujudan dari kebenaran. Pengetahuan menjadi sumber perbuatan, ditujukan untuk hal-hal yang bermanfaat, bahkan pengetahuan tidak hanya dikaitkan dengan tindakan, tetapi dikaitkan dengan kajian tentang pekerjaan untuk memperoleh pekerjaan. Di satu sisi, Drucker memperkenalkan istilah knowled worker, yaitu kelompok pekerja yang mempunyai pendidikan formal, dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan teoritik dan analitik serta mindset tertentu dan lebih-lebih “kebiasaan untuk belajar terus menerus”.

Islam mendorong manusia untuk selalu menuntut ilmu, mengajarkan ilmu, dan mendorong penggalian ilmu. Firman Allah yang mengisyaratkan penggalian ilmu ini terdapat pada QS. Rum [30]: 48, QS. Nuh [71]: 15-20, QS. al-Ghosyiyah [88]: 17, QS. Fatir [35]: 35, QS. al-Hijr [15]: 22, QS. al-An’am [6]: 95. Dalam surat az-Zumar [39]: 9, Allah menegaskan bahwa orang yang berilmu tidak sama dengan yang tak berilmu.

أمن هو قنت ءاناء اليل ساجدا وقائما يحذر الأخرة ويرجوا رحمة ربه، قل هل يستوى الذين يعلمون والذين لا يعلمون، إنما يتذكر أولوا الألباب

Artinya, “Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung, ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. az-Zumar [39]: 9).

Hadits riwayat Ahmad mempertegas, “perumpamaan orang yang berilmu di bumi ini bagaikan bintang di langit sebagai pedoman dalam kegelapan di darat dan di laut. Maka apabila bintang-bintang itu tertutup awan tebal dikhawatirkan manusia akan tersesat jalannya”.

Ayat maupun hadits di atas menekankan bahwa Islam sangat menganjurkan penanaman keimanan, jiwa beragama, semangat belajar dan bekerja kepada umatnya. Sebab pendidikan yang tepat dapat mengantarkan seseorang pada masa depan yang cerah.

Tinggalkan Balasan