Refleksi Milad ‘Aisyiyah ke-104: Merekat Persatuan, Menebar Kebaikan di Masa Pandemi

Wawasan 18 Mei 2021 4 381x
LOGO MILAD AISYIYAH 104

LOGO MILAD AISYIYAH 104

Oleh: Tri Hastuti Nur R

“Merekat Persatuan, Menebar Kebaikan di Masa Pandemi” merupakan tema milad ‘Aisyiyah ke-104 yang jatuh tanggal 19 Mei 2021. Tema ini sangat kontekstual sebagai respons atas berbagai persoalan bangsa dan keumatan saat ini, di tengah pesatnya perkembangan dunia digital dan kondisi pandemi Covid-19.

Bangsa Indonesia dihadapkan pada kondisi terfragmentasinya masyarakat dalam berbagai kelompok dikarenakan perbedaan identitas, perbedaan pilihan politik, dan perbedaan status sosial ekonomi. Kekuatan masyarakat sipil yang seharusnya menjadi penyeimbang bagi kuasa negara dan kuasa korporat, namun dihadapkan pada konflik horizontal (bahkan dalam kelompok agama) yang membuat rapuh kekuatan masyarakat sipil.

Negara, dalam banyak kasus (investasi hingga pembuatan kebijakan), telah berkomplot dengan korporat yang menyebabkan jurang ekonomi semakin lebar antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Asa peningkatan kesejahteraan masyarakat masih dihadapkan pada tantangan yang besar.

Masyarakat pun semakin mudah diadu domba dan dimanfaatkan oleh kepentingan elite dalam proses-proses politik. Dunia digital justru memperkuat perbedaan antar kelompok hanya dikarenakan perbedaan pilihan politik. Agama dan identitas (etnis, suku) telah dijadikan alat bagi kepentingan politik untuk mendulang suara dan tidak jarang mengadu domba masyarakat. Hoaks dan fake news (berita bohong) berseliweran di media sosial tanpa kontrol dan nalar kritis masyarakat pengguna media sosial (digital native).

Polarisasi kelompok karena identitas menjadi semakin besar, dikipas-kipas oleh buzzer melalui media sosial. Hal yang menyedihkan adalah kita terlena dalam perbedaan identitas, dan melupakan nilai dasar bernegara, yaitu akses kesejahteraan bagi semua warga negara.

Jika merunut pada sejarah berdirinya Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang terus berdakwah dengan berlandaskan pada Islam sebagai rahmatan lil alamin, Islam pembawa rahmat bagi semesta, maka dakwah kita harus inklusif untuk semua golongan, menembus batas identitas, dan merekat persatuan dari Sabang hingga Merauke.

Keteladanan dakwah inklusif, implementasi Islam rahmatan lil alamin banyak diteladankan oleh pendiri Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Kiai Ahmad Dahlan dikenal berhasil menciptakan kerja sama harmonis dengan semua kelompok masyarakat. Beliau juga bersahabat dekat dengan pendeta dan pastur (Alwi Shihab: 1998). Bahkan Kiai Ahmad Dahlan juga tidak segan mengadopsi sistem pendidikan Barat dalam mengembangkan sekolah Muhammadiyah dalam metode pengajarannya, yaitu mewajibkan pelajaran umum di sekolah, di samping pengajaran agama.

Baca Juga

Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Jejak-jejak ‘Aisyiyah pun menunjukkan legacy (warisan) tentang pentingnya persatuan di Indonesia dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Kongres Perempuan I tahun 1928, yang juga diilhami oleh Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 tentang pengakuan tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu, sebagai identitas bersama, yaitu Indonesia. Wakil ‘Aisyiyah yang hadir dalam kongres yang digelar di Yogyakarta ini adalah Siti Munjiyah dan Siti Hayinah. Siti Hayinah hadir menyampaikan pidato dengan tema Persatuan Manusia.

Mengapa Hayinah mengangkat isu persatuan? Karena baginya, persatuan merupakan suatu alat untuk mencapai maksud yang besar. Isi pidato Munjiyah dalam salah satu penggalan orasinya menyampaikan, “…dengan adanya gerakan ini, mulai sadar dan bangunlah bangsa kita, perempuan Indonesia, dari tidurnya yang nyenyak, suara yang berderu-deru senantiasa menghampiri telinga mereka, dan memang sudah waktunya kita kaum perempuan mulai maju sebab matahari telah terbit dan menyilaukan mata kita” (Susan Blackburn, 2007).

Jejak-jejak menggelorakan semangat persatuan bagi bangsa Indonesia untuk kemajuan bangsa di tengah kebodohan dan kemiskinan saat itu, telah dipikirkan dan diprediksi oleh para pemimpin ‘Aisyiyah bahwa Aisyiyah akan berdakwah melampaui pulau-pulau di Indonesia yang berlatar belakang bahasa yang beragam. Pada tahun 1930, ‘Aisyiyah menyelenggarakan kursus Bahasa Indonesia di setiap cabang ‘Aisyiyah untuk mengembangkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sementara pada milad ke-104 tahun ini, ‘Aisyiyah sudah berdakwah di 458 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Baca Juga

Lima Karakter Gerakan ‘Aisyiyah

Pada milad kali ini, ‘Aisyiyah harus memperkuat dakwahnya dengan nilai Islam wasathiyah di tengah masyarakat majemuk di Indonesia dan semakin menguatnya paham Islam yang konservatif di masyarakat. Dakwah dengan nilai Islam wasathiyah ini merujuk pada Risalah Pencerahan hasil tanwir Muhammadiyah di Bengkulu pada poin pertama, yaitu beragama yang mencerahkan; mengembangkan pandangan; sikap dan praktik keagamaan yang berwatak tengah (wasathiyah); membangun perdamaian; menghargai kemajemukan; menghormati harkat martabat kemanusian, laki-laki maupun perempuan. Makna poin ini sungguh kuat, bahwa Muhamamdiyah dan ‘Aisyiyah hadir untuk membawa misi kemanusiaan bagi semesta, tidak hanya pada golongan tertentu dan memberikan penghargaan yang tinggi atas kemajemukan.

Poin risalah ini sejalan dengan QS. al-Hujurat [49]: 13 yang menyatakan (artinya), Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”.

4 thoughts on “Refleksi Milad ‘Aisyiyah ke-104: Merekat Persatuan, Menebar Kebaikan di Masa Pandemi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *