Relasi Keluarga, Ruh Perlindungan Anak (2)

Anak 29 Jul 2020 0 80x

Lanjutan dari Relasi Keluarga, Ruh Perlindungan Anak (1)

Yang terjadi di luar sana, adalah terus meningkatnya kasus-kasus terhadap anak – baik korban atau dengan pelaku anak menjadi persoalan kian rumit. “Sebab pasti akan melibatkan banyak orang seperti orangtua, guru, masyarakat dan sebagainya. Juga akan semakin rumit ketika pilihannya jatuh pada penggunaan hukum pidana,” ungkap pakar hukum pidana Universitas Muhammadiyah Malang, Dr Tongat SH, M.Hum. Mengingat dampak negatif seperti stigmatisasi, dehumanisasi, dan prisonisasi menurutnya akan sangat rentan pada anak. 

 “Persoalan hukum anak akan mengusik sensitivitas publik akan rasa keadilan. Karenanya penyelesaian masalah hukum anak kerap terganggu opini publik yang kadang justru merugikan kepentingan anak. Keterlibatan opini publik dalam pelbagai kasus justru seringkali menyasar pada pengabaian terhadap kepentingan terbaik anak yang kebetulan terposisi sebagai pelaku maupun korban,” ucap Tongat. 

Kondisi seperti ini dinilai peserta seminar Ustad Bahtiar Nashir, tercipta di antaranya karena fatherless, negara tanpa ayah, tanpa perlindungan.  Dengan kata lain, biangkerok dari peristiwa ini adalah ‘ketiadaan’ ayah. “Ketika saya menjadi pendamping Dai Cilik Idola, twitter dan facebook saya banyak diikuti atau di add oleh mereka, anak-anak yang merindukan sosok ayah,” ucapnya. Menurut Bahtiar, bukan berarti mereka anak-anak yang tinggal di panti atau di manapun. Tetapi mereka adalah anak-anak yang tinggal bersama orangtua lengkap tapi masih rindu sosok ayah akibat terlalu sibuk.

***

Kekerasan yang terjadi pada anak, menyumbang beragam masalah baik fisik, psikhis, maupun sosialnya. Karena itu, perlindungan anak menjadi kewajiban keluarga. Pasalnya, trauma mendalam akan dialami anak korban kekerasan dan kejahatan seksual, sepanjang hidupnya. Lebih dari itu, kekerasan yang pernah dialami itu juga bisa menyeretnya untuk menjadikannya sebagai pelaku kejahatan yang sama, pada anak lain. 

Menurut Alimatul bahkan banyak kasus menunjukkan para korban kekerasan seksual pada usia anak mengalami perkembangan penyimpangan seksual pada usia dewasanya, dan itu sangat sulit untuk disembuhkan. “Trauma mendalam akan dialami oleh anak korban kekerasan dan kejahatan seksual sepanjang hidupnya. Bahkan banyak kasus menunjukkan para korban kekerasan seksual pada usia anak mengalami perkembangan penyimpangan seksual pada usia dewasanya, dan itu sangat sulit untuk disembuhkan,” ucapnya. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatinkan dan memerlukan tindakan pencegahan untuk terjadinya korban-korban berikutnya yang melibatkan berbagai pihak.

Di dalam dunia yang sudah global dan berkembang sedemikian rupa diselingi kemajuan teknologi yang menjadikan dunia tanpa batas inilah, aktivitas intelektual Muhamamdiyah-‘Aisyiyah untuk merespon permasalahan sosial dan kemanusiaan dari sudut pandang Islam, menjadi sangat diperlukan. Dengan demikian akan ada satu patokan bersama dalam menghadapi problema sosial dan kemanusiaan yang kian memrihatinkan, bernama kekerasan anak. 

Memang, yang dibahas dalam seminar nasional  masih lebih pada  anak-anak sebagai korban kekerasan dalam arti normatif : penganiayaan, bullying, pelecehan hingga kekerasan seksual,  trafficking. Bagaimana dengan anak-anak yang terdiskriminasi karena mereka menjadi korban dan terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)? Ini memang belum tersentuh sama sekali. Padahal, angka anak-anak terinfeksi HIV dari waktu ke waktu terus melesat tinggi. Mereka adalah anak-anak yang kemudian terdiskriminasi dalam pergaulan sosial, ketika harus belajar dan sekolah tidak mau menerimanya karena diketahui terinfeksi HIV atau diketahui ibunya adalah Orang Dengan HIV&AIDS (Odha). Mungkin ini juga perlu direnungkan bersama. (Fadmi Sustiwi)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3 Maret 2016, Rubrik Kesehatan

Leave a Reply