Riset PPNA: Resiliensi Ibu Berpengaruh terhadap Kondisi Kesehatan Mental Anak

Berita 30 Des 2021 0 74x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dalam situasi pandemi, resiliensi merupakan hal yang mahal, karena seseorang dituntut untuk mampu beradaptasi dengan situasi yang baru. Ketua Umum PP Nasyiatul ‘Aisyiyah Diyah Puspitarini mengatakan, resiliensi seorang ibu sangat mempengaruhi kondisi kesehatan mental anak.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam forum Diseminasi Riset “Resiliensi Ibu dan Kesehatan Mental Anak” yang berlangsung pada Rabu (29/12) secara daring. Riset yang dilakukan PP Nasyiatul ‘Aisyiyah bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak hendak melihat kaitan resiliensi ibu dengan kesehatan mental anak.

Riset tersebut dikerjakan oleh sebuah tim yang beranggotakan Anisia Kumala, Elisa Kurnia Dewi, Elyusra Muallimin, Risni Yuhan, dan Uswatun Hasanah. Mewakili tim peneliti, Uswatun Hasanah dalam forum tersebut menyampaikan bahwa persoalan kesehatan mental mengalami peningkatan dalam beberapa rentang waktu terakhir.

Ia menjelaskan, kasus kesehatan mental merupakan permasalahan global. Data Unicef (2021) menunjukkan bahwa 1 dari 7 remaja (10-19 tahun) mengalami gangguan mental. Kondisi itu diperparah ketika Covid-19 merebak.

Beberapa sebab yang membuat seseorang mengalami gangguan mental adalah bullying, dampak negatif gawai, dan pandemi. Adapun faktor-faktornya adalah seperti kesehatan emosional, kesejahteraan psikologis, kesejahteraan sosial, dan faktor biologis.

Baca Juga: Koping Relijius: Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Uswatun mengatakan, kesehatan mental memang erat kaitannya dengan resiliensi. “Kesehatan dan resiliensi mempunyai keterkaitan. Hal ini mengingat keluarga mempunyai peran sentral dalam mengasuh anak. Dan hal yang dapat memperkuat resiliensi adalah kemampuan beradaptasi,” ungkapnya.

Mengambil sampel 200 responden, riset ini menyimpulkan bahwa: pertama, status perkawinan mempunyai pengaruh paling besar dalam peningkatan resiliensi ibu karena berhubungan dengan dukungan serta peran kedua orang tua dalam pengasuhan anak.

Kedua, hal utama yang harus diperhatikan adalah pendidikan anak. Dengan semakin tinggi pendidikan yang diberikan kepada anak, kata Uswatun, maka kecenderungan anak untuk memiliki kesehatan mental yang baik akan lebih memungkinkan.

Ketiga, beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan mental adalah penguatan ketahanan keluarga, misalnya dalam bentuk menjaga keutuhan rumah tangga dan orang tua memainkan peran sebagai orang tua dengan cara yang adil dan setara. “Dengan terciptanya ketahanan keluarga yang tangguh, maka jaminan pada anak untuk mendapatkan pendidikan lebih baik akan dapat terwujud,” terang Uswatun.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ulfah Mawardi mengatakan bahwa penguatan pengasuhan keluarga merupakan salah satu program prioritas KPPA. Perempuan yang berdaya, katanya, berkorelasi positif dengan kesehatan mental anak.

Mengenai hasil penelitian ini, ia memberi respons positif dan menilai penting untuk dielaborasikan dan disosialisasikan secara lebih luas sebagai bahan penguatan keluarga dan kesehatan mental anak. “Ini harus ditindaklanjuti dalam bentuk rekomendasi-rekomendasi,” tegas Ulfa. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *