Riza Azyumarridha Azra Si Anak Singkong

Inspirasi 6 Sep 2021 0 106x
Riza Azyumarridha Azra

Riza Azyumarridha Azra

“Ekonomi kerakyatan adalah tonggak keberhasilan ekonomi nasional. Ekonomi nasional dengan pengabdian kepada masyarakat adalah jalan terbaik menuju kesejahteraan nasional”. Riza Azyumarridha Azra (CEO Rumah Mocaf).

Siapa bilang singkong hanya dapat direbus, digoreng, dan dijadikan jajanan tradisional? Di tangan kreatif Riza Azyumarridha Azra, singkong diolah menjadi produk dengan harga jual tinggi. Lebih dari itu, berbekal singkong, ia bersama teman-temannya di Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Banjarnegara dapat memberdayakan dan mengangkat harkat martabat hidup masyarakat sekitar.

Memulai dari Nol

Resah dan gelisah; perasaan itulah yang dialami Riza ketika mengetahui rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Banjarnegara, Jawa Tengah. Berangkat dari keresahan itu, ia dan teman-teman AMM Banjarnegara kemudian menginisiasai Sekolah Inspirasi Pedalaman (SIP). Tiap minggu, ia berpindah dari satu desa ke desa lainnya untuk mengajar dan menginspirasi anak-anak yang putus sekolah.

Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang petani singkong yang merupakan orang tua dari siswa SIP. Petani singkong itu mengadu dan menangis: singkongnya hanya dihargai Rp200 per-kilogram di pasar. Kejadian itu terjadi pada 2014. Pada tahun itu juga, ia menentukan sikap untuk mendampingi petani singkong Banjarnegara agar dapat berdaulat menentukan harga sendiri.

Pria kelahiran Banjarnegara tahun 1991 itu kemudian ngangsu kawruh (mengambil ilmu) dari para pakar, praktisi, dan akademisi di bidang teknologi pangan. Mereka menyarankan untuk mengolah singkong menjadi modified cassava flour (tepung singkong termodifikasi) atau disebut mocaf, karena dinilai sebagai produk pangan masa depan.

Baca Juga: Jejak Emas Filantropi Muhammadiyah-Aisyiyah

Antara tahun 2014-2016, Riza dan teman-temannya mengajarkan cara mengolah singkong menjadi mocaf ke para petani di desa-desa sumber singkong. Menurut Riza, awalnya ia sebatas melakukan gerakan sosial. Sehingga ketika para petani sudah dapat mengolah singkong menjadi mocaf, ia dan teman-temannya beralih memikirkan hal lain yang dapat dikerjakan. “Akan tetapi, timbul permasalahan baru,” ujarnya ketika dihubungi Suara ‘Aisyiyah.

Permasalahan pertama, karena merupakan produk baru, petani mengalami kesulitan dalam proses pemasaran. Mereka lebih fokus menanam dibanding memasarkan. Permasalahan kedua, para volunteer tidak digaji. Tidak jarang mereka mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Riza mengungkapkan, selain semangat dan strategi pemberdayaan yang tepat, tidak dapat dinafikan bahwa kegiatan pemberdayaan juga membutuhkan dana.

Dari dua permasalahan itu, Riza mencoba menggabungkan antara konsep gerakan sosial dengan bisnis. Dicetuskanlah Rumah Mocaf yang berkonsep wirausaha sosial (sociopreneurship). Kehadiran Rumah Mocaf ini menjadi solusi dari dua permasalahan yang sebelumnya menghantui para petani dan relawan.

Tiga Klaster Pemberdayaan

Menurut Riza, karena Rumah Mocaf lahir dari rahim semangat pemberdayaan, maka profit (keuntungan) yang didapat juga digunakan untuk tujuan mensejahterakan kehidupan masyarakat. Konsep wirausaha sosial menekankan prinsip bisnis yang tidak mencemari lingkungan, memperhatikan daya dukung alam, serta keberpihakan atas nasib subyek yang terlibat di dalamnya.

Ia menyebut ada tiga klaster masyarakat yang menerima manfaat dari kehadiran Rumah Mocaf. Pertama, para petani singkong. Secara bertahap, sejak Riza dan teman-teman AMM Banjarnegara melakukan pemberdayaan, para petani singkong terangkat derajatnya. Mereka tidak lagi mengeluh dengan harga jual singkong. Kedua, ibu-ibu ‘Aisyiyah. Mereka berperan mengolah singkong menjadi mocaf. Ketiga, relawan pemberdayaan. Selain tetap melakukan pendampingan, para relawan ini memainkan peran penting di balik eksistensi Rumah Mocaf. Mereka melakukan branding, pemasaran, melakukan inovasi produk turunan, dan sertifikasi produk internasional.

Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah ini menceritakan bahwa setiap 2 pekan sampai 1 bulan sekali, tiga klaster tersebut berkumpul bersama untuk merundingkan harga. Transparansi, akuntabilitas, dan musyawarah sangat ditekankan dalam proses pengelolaan dan pengembangan Rumah Mocaf. Mereka menyebutnya dengan “demokratisasi ekonomi”.

Demokratisasi ekonomi meniscayakan keterlibatan semua pihak di dalam Rumah Mocaf. Ada ruang bagi tiga klaster tersebut untuk bertukar pikiran dan saling memberi pertimbangan demi kebaikan Rumah Mocaf.

Kehadiran Rumah Mocaf yang berkonsep wirausaha sosial akhirnya memunculkan perputaran ekonomi baru. Tidak sekadar mengangkat ‘martabat’ singkong yang selama ini menjadi tumbuhan termarginalkan. Lebih dari itu dan yang lebih penting, mereka mengangkat martabat para petani singkong khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. Saat ini, Rumah Mocaf telah memberi lapangan pekerjaan kepada lebih dari 450 masyarakat di daerah Banjarnegara.

Prestasi

Dalam satu bulan, Rumah Mocaf dapat menghasilkan minimal 30 ton mocaf, yang kemudian diolah menjadi berbagai produk turunan. Total ada 35 produk turunan yang dikembangkan, di antaranya adalah mie dan kue semprong,  Menurut Riza, pengembangan produk turunan itu adalah untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa mocaf layak menjadi alternatif bahan pangan pengganti tepung terigu dan gandum.

Produk Rumah Mocaf tidak hanya diminati oleh pasar nasional, tapi juga internasional. Saat ini, tercatat ada lebih dari 150 agen Rumah Mocaf di seluruh Indonesia. Adapun untuk pasar internasional, Riza menyebut telah rutin mengekspor produknya ke dua negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura. Terbaru, Rumah Mocaf mengekspor 60 ton tepung mocaf ke Inggris.

Kinerja Riza dan teman-teman AMM Banjarnegara mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Di internal Muhammadiyah, gerakan pemberdayaan masyarakat ini didukung dan dikolaborasikan dengan MPM PP Muhammadiyah dan PDM Banjarnegara. Bersama Rumah Mocaf, Riza dan istrinya Wahyu Budi Utami, mendapat penghargaan Kick Andy Heroes 2021. (Sirajuddin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *