Sambut Mahasiswa Baru PTMA, Haedar Nashir Sampaikan Kuliah Umum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

Berita 4 Okt 2021 0 134x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyambut gembira kehadiran mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA). Pilihan untuk melanjutkan pendidikan di PTMA, menurutnya, adalah tindakan yang tepat mengingat PTMA kini tengah memasuki fase baru sebagai perguruan tinggi yang terdepan dan menjadi kepercayaan masyarakat umum.

Sambutan hangat dari Haedar Nashir itu disampaikan dalam Kuliah Umum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang dihadiri oleh mahasiswa baru dari 164 PTMA. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa pemahaman yang benar tentang Islam dan Muhammadiyah akan membawa individu dan/atau masyarakat pada pandangan dan sikap hidup yang positif dan berguna bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Haedar menegaskan, pembahasan tentang al-Islam dan Kemuhammadiyahan adalah satu kesatuan nilai yang berkait kelindan. Pasalnya, Islam merupakan landasan gerak Muhammadiyah sebagai sebuah entitas gerakan. Secara normatif, sebagaimana tertera dalam AD (Anggaran Dasar) Muhammadiyah, identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah.

“Ketika kita memperbincangkan Muhammadiyah sebagai gerakan, mau tidak mau kita akan berbicara tentang Islam sebagai asas, sebagai nilai yang fundamental, bahkan sebagai cita-cita luhur yang diperjuangkan oleh Muhammadiyah,” ujar Haedar, Senin (4/10).

Islam dan Muhammadiyah

Merujuk pada definisi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam kitab Masalah Lima (al-masail al-khamsah), Haedar Nashir mengungkapkan bahwa Islam adalah “agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ialah apa yang diturunkan Allah dalam al-Quran dan yang tersebut dalam al-Sunnah maqbulah, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat”.

Adapun ditinjau dari aspek kebahasaan, Haedar menyebut Islam mempunyai empat makna fundamental dan fungsional. Pertama, kepasrahan atau ketundukan kepada Allah swt. Makna ini sebagaimana termaktub dalam Q.S. an-Nisa: 125. Kedua, selamat atau keselamatan. Siapapun yang beragama Islam, kata Haedar, sesungguhnya dia harus menjadi orang-orang yang selamat dalam kehidupan di dunia dan lebih-lebih di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Maryam: 47.

Ketiga, kedamaian. Setiap Muslim yang menginginkan hidup damai, kata Haedar mengutip Q.S. al-Anfal: 61, harus senantiasa menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah swt. Ketakwaan ini beriringan dengan pengamalan nilai-nilai Islam yang mengantarkan pada kehidupan yang selamat dan menebar keselamatan. Keempat, kebersihan atau kesucian. Mengutip Q.S. asy-Syu’ara’: 88-89, Haedar mengatakan bahwa umat Islam harus menjadi orang yang selalu mengamalkan laku kehidupan yang bersih dan suci, tetapi pada waktu bersamaan jangan merasa diri paling suci, apalagi sampai menganggap orang lain kotor, salah, dan sesat.

Empat makna Islam itu, papar Haedar, harus menjadi ruh, alam pikiran, dan orientasi tindakan dalam kehidupan dengan dasar Islam. Harapannya adalah agar lahir nilai kehidupan yang utama, baik oleh individu dan lebih-lebih masyarakat bangsa.

Baca Juga: Membumikan (Kembali) Gerakan Ilmu dalam Muhammadiyah

Sementara itu, jelas Haedar, Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan, seorang ulama berpikiran mau, dengan membawa misi dakwah dan tajdid. Di satu sisi, jelasnya, Muhammadiyah berusaha menanamkan nilai-nilai Islam yang fundamental kepada masyarakat, seperti akidah, ibadah, dan akhlak mulia. Di sisi yang lain, Muhammadiyah juga juga berusaha membawa umat dan bangsa ke suatu kehidupan yang maju di dalam urusan muamalah duniawiyah.

“Kiai Ahmad Dahlan –dengan Islam yang menjadi pondasi gerakannya—ingin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya; yang maju pendidikannya, kesehatannya, sosial-ekonominya. Hidup menjadi orang-orang yang bermartabat mulia, baik laki-laki maupun perempuan, dan saling memuliakan antarmanusia laki-laki dan perempuan, maupun yang berbeda agama, suku, ras, dan golongan untuk menjadi orang-orang yang memberi kemanfaatan hidup di dalam kehidupannya,” terang Haedar.

Sambutan Hangat

Setelah menyampaikan kuliah umum tentang al-Islam dan kemuhammadiyahan, Haedar tak lupa menyampaikan pesan kepada para mahasiswa baru PTMA. Ada tiga pesan utama yang ia sampaikan, yakni agar para mahasiswa ini menjadi: (a) manusia yang memberi manfaat bagi keluarga, bangsa, dan kemanusiaan universal; (b) pemimpin di masa depan, dan; (c) pandai bergaul dengan banyak pihak.

Sebagai pungkasan, Haedar menyampaikan, “selamat datang, selamat belajar, dan insyaAllah akan jadi kader Muhammadiyah, jadi kader umat, jadi kader bangsa, dan jadi kader kemanusiaan semesta yang menjadi kebanggan orang tua, kebanggaan Muhammadiyah, kebangsaan bangsa, bahkan jadi kebanggaan seluruh manusia di muka bumi ini karena Ananda hadir menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi semesta alam”. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *