Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Perempuan Sejarah Wawasan 11 Mar 2021 9 677x
Sejarah 'Aisyiyah

‘Aisyiyah Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Oleh: Hajar NS

Pertemuan digelar di rumah Kiai Ahmad Dahlan, dihadiri Kiai Dahlan, Kiai Fachrodin, Kiai Mochtar, Ki Bagus Hadikusumo, bersama enam perempuan muda kader Dahlan, yaitu Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busjro, Siti Wadingah, dan Siti Badilah. Peristiwa itu terjadi 1335 H atau 107 tahun lalu, berdasarkan penanggalan hijriyah. Hasil pertemuan memutuskan berdirinya organisasi perempuan Muhammadiyah.

Terinspirasi Pribadi ‘Aisyah

Sempat bergulir usulan nama Fatimah, tetapi tidak semua menyepakati. Kuntowijoyo menuliskan, ketidaksepakatan penggunaan nama Fatimah karena akan mengesankan seolah Muhammadiyah terlalu mengagung-agungkan Fatimah sebagaimana dilakukan kaum Syiah. Bahkan menurut Kunto, pemakaian nama Fatimah, lagi-lagi dapat memberi kesan bahwa perhatian gerakan ini adalah politik, mengingat Fatimah adalah inspirasi berdirinya dinasti Fatimiyah.

K.H. Fachrodin pun mengajukan nama lain: ‘Aisyiyah. Nama itu terinspirasi dari nama istri Nabi Muhammad, yaitu Siti ‘Aisyah yang dikenal cerdas dan mumpuni. Jika Muhammadiyah berarti pengikut Nabi Muhammad, maka ‘Aisyiyah bermakna pengikut Siti ‘Aisyah. Pasangan serasi, seperti figur Muhammad dan Aisyah, bahwa ‘Aisyiyah akan berjuang berdampingan bersama Muhammadiyah.

Berdirinya ‘Aisyiyah diresmikan pada 27 Rajab 1335 H/19 Mei 1917 M, dalam perhelatan akbar nan meriah yang diadakan Muhammadiyah, bertepatan dengan momen Isra Mi’raj Nabi Muhammad. Para pimpinan ‘Aisyiyah periode pertama itu, digambarkan berpakaian seragam yang terbuat dari kain sutera dengan renda-renda.

Pemilihan nama ‘Aisyiyah dapat dibaca secara simbolik sebagai cita-cita Muhammadiyah tentang profil perempuan. Siti ‘Aisyah dikenal cerdas, penutur hadis-hadis nabi, bekerja dengan menenun bulu-bulu domba untuk mendukung ekonomi rumahtangga. Pribadi Siti ‘Aisyah adalah inspirasi, harapannya profil ‘Aisyah juga menjadi profil penggerak dan warga ‘Aisyiyah.

Peran Strategis Kiai Ahmad Dahlan

Kuntowijoyo pernah menuliskan ikhtiar Kiai Dahlan meningkatkan derajat kehidupan perempuan melalui pendidikan. Bromartani, koran berbahasa Jawa dan Melayu yang terbit di Surakarta, pada 15 September 1915, memuat berita. Seorang Kiai bernama Ahmad Dahlan alias M. Ketib Amin, mengajak murid-murid laki-laki dan perempuan ke Taman Sri Wedari. Tiga orang pencopet membuntuti anak-anak perempuan kemudian menjambret kalung mereka, namun dapat digagalkan.

Berita tersebut bukan hanya soal tindakan kriminal yang berhasil digagalkan. Jika cermat membaca, dari berita itu pula, pembaca dapat memperoleh informasi berharga, bahwa Ahmad Dahlan juga mengajar murid-murid perempuan, bahkan dengan tradisi mengajar yang humanis dan tidak umum pada masanya. Dahlan mendatangi sendiri murid-muridnya, dan membawa mereka ke Taman Sri Wedari, bahwa belajar adalah kegiatan yang menyenangkan.

Masih dalam pemberitaan Bromartani, 2 Zulkaidah 1345 H, Ahmad Dahlan diberitakan mengajar anak-anak perempuan dari Kampung Kauman, Surakarta, tepatnya di rumah Mas Kaji Muhammad Kalil. Murid-muridnya itu duduk berempat-empat atau berlima-lima. Dari berita itu, kita menyadari bahwa Dahlan merasa penting untuk mengajar anak-anak perempuan, tidak hanya anak laki-laki saja yang berhak memperoleh pengajaran, sehingga ia memerlukan datang mengajar ke Kauman, Surakarta.

Dahlan juga menganjurkan sahabat dan muridnya untuk menyekolahkan saudara atau anak perempuannya ke sekolah agama dan sekolah umum. Meski karena terobosannya yang bertentangan dengan kebiasaan, ia dituding sebagai kiai palsu, kristen alus, dan membawa kerusakan pada kehidupan perempuan Islam. Tetapi, Kiai Dahlan meyakini bahwa pembaharuan harus diawali dari perubahan cara berfikir. Pengetahuan adalah pasaknya pergerakan. Kata Dahlan, “tuntut ilmu setinggi mungkin, hak memiliki pengetahuan bukan monopoli kaum lelaki”.

Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Hasil tak mengkhianati usaha. Anak-anak perempuan yang didorongnya sekolah dan dikadernya bersama Siti Walidah maupun tokoh Muhammadiyah lainnya inilah yang kemudian menggerakkan ‘Aisyiyah. Sebut saja nama Siti Wadingah, Siti Dawimah, dan Siti Barijah yang bersekolah di sekolah umum, tepatnya di Neutraal Meisjes School, di Ngupasan. Sedangkan dua gadis Kauman lainnya, Siti Umnijah dan Siti Mundjijah bersekolah di sekolah agama.

Dalam sejarah gerakan perempuan Indonesia, ‘Aisyiyah memang bukan organisasi perempuan yang pertama berdiri. Terdapat organisasi Poetri Mardika maupun sayap perempuan Sarikat Islam yang muncul terlebih dahulu. Namun, apa yang membedakan ‘Aisyiyah dengan organisasi perempuan yang lain, bahwa ‘Aisyiyah adalah pembaharu peran perempuan berbasis nilai keagamaan, yang memungkinkan perempuan sebagai pelaku dakwah, bukan hanya menjadi sasaran dakwah.

Siap Menghadapi Tantangan Zaman

Dalam Pokok-pokok Pikiran ‘Aisyiyah Abad Kedua yang diterbitkan untuk menandai Satu Abad ‘Aisyiyah pada Muktamar ke-47 di Makassar pada 2015 lalu, kita diingatkan untuk memperteguh paham berkemajuan tentang perempuan melalui penggunaan istilah ‘Perempuan Berkemajuan’. Terdapat tiga visi gerakan ‘Aisyiyah Abad Kedua, ‘Perempuan Berkemajuan’ merupakan salah satu di antara tiga visi tersebut setelah Islam Berkemajuan dan Gerakan Pencerahan.

Visi gerakan ‘Aisyiyah melalui ‘Perempuan Berkemajuan’ ini bersifat strategis di tengah realitas kehidupan perempuan yang masih mengalami ketertinggalan, ketidakadilan, dan diskriminasi. Beratnya dampak angka kemiskinan pada perempuan termasuk dampak pandemi Covid-19, masih tingginya angka kekerasan, tingginya Angka Kematian Ibu, tingginya kematian perempuan akibat kanker, masih minimnya perempuan terlibat dalam perencanaan pembangunan maupun kebijakan publik merupakan permisalan dari kehidupan perempuan yang belum berkemajuan. Selamat Milad ‘Aisyiyah.