Hikmah

Sejarah dan Hikmah Ibadah Kurban

sejarah kurban

Kurban adalah wujud ketaatan manusia kepada Tuhan yang telah menciptakan, memelihara, dan memberi manusia rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Bagi pengikut ajaran Ibrahim as., ibadah kurban menempati posisi yang sentral. Khalilurrahman Ibrahim berhasil mengubah praktik pengurbanan manusia menjadi pengurbanan hewan.

Sejarah mencatat, Ibrahim diutus menjadi Nabi ketika paganisme dan praktik pengurbanan manusia sedang marak-maraknya. Sebagai contoh, di Kan’an, masyarakat mengurbankan bayi tidak bersalah kepada Dewa Baal. Pun demikian yang terjadi di Mesir, di mana masyarakat mengurbankan gadis cantik kepada Dewa Sungai Nil. Pada waktu itu, praktik pengurbanan manusia terjadi di banyak tempat.

Mengurbankan Putra Tercinta

Suatu ketika, Nabi Ibrahim memanjatkan doa agar dikaruniai seorang anak. Kejadian itu terjadi setelah Nabi Ibrahim hijrah meninggalkan kaumnya. Sebabnya adalah upaya Ibrahim as. untuk menyadarkan kaumnya dari kesesatan tidak mendapat respons positif. Alih-alih beriman, mereka malah menghendaki Nabi Ibrahim hangus terbakar oleh kobaran api.

Nabi Ibrahim yang selamat dari kobaran api lantas memutuskan pergi meninggalkan kampung halamannya, Ur. Ulama berbeda pendapat ke mana Ibrahim melangkahkan kakinya. Akan tetapi, sebagian besar mengatakan Baitul Maqdis. Di tempat itulah beliau berharap dapat beribadah dengan khusyuk.

Doa Ibrahim segera mendapat jawab. Dalam Q.S. ash-Shaffat [37]: 101 Allah swt. berfirman, fa basysyarnāhu bi ghulāmin halīm. Allah memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar. Dia adalah Ismail, putra yang lahir dari rahim Hajar. Disebut ghulāmin halīm adalah karena ia dengan sabar menuruti permintaan ayahnya untuk disembelih.

Berulang kali Ibrahim as. mendapatkan mimpi yang sama. Dalam mimpinya, Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengurbankan Ismail; anak yang ia mintakan kehadirannya dan anak yang begitu ia cintai. Waktu itu, Ismail disebut memasuki usia 13 tahun.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya, Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” (Q.S. ash-Shaffat [37]: 103).

Jawaban Ismail menunjukkan sikap taat, rela, patuh, dan ikhlasnya atas perintah Allah. “Ismail yang masih sangat muda itu mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia tidak akan gentar menghadapi cobaan itu, tidak akan ragu menerima qada dan qadar Tuhan. Dia dengan tabah dan sabar akan menahan derita penyembelihan itu” (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Kemenag, Jilid 8, Hlm. 301).

Sementara itu, dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menyimpulkan bahwa pilihan sikap Ismail membuktikan bahwa ia telah dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya (Jilid 11, Hlm. 281). Keimanannya kepada Allah kuat, paripurna. Ismail tidak ragu sedikitpun dengan ketentuan-Nya, bahkan jika itu berarti ia harus meninggal.

Baca Juga: Amalan Sunnah Bulan Zulhijjah

Di saat keduanya sudah pasrah dan tunduk atas perintah Allah, Ibrahim membaringkan Ismail layaknya seekor hewan yang hendak disembelih. Diceritakan bahwa Ibrahim mengasah pisaunya dengan tajam agar anaknya tidak merasa kesakitan. Sementara Ismail memilih menelungkupkan wajahnya ke tanah agar ayahnya tidak merasa iba ketika melihatnya.

Keduanya sudah siap. Akan tetapi, tatkala Ibrahim as. sudah menghunus pisaunya, terdengar suara malaikat memanggilnya. Allah berfirman dalam Q.S. ash-Shaffat [37]: 104-105, “wa nādainā an yā Ibrāhīm. Qad shaddaqta ar-ru’yā, innā kadzālika najzi al-muhsinīn”. Dan Kami panggil dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.

At-Thabari dalam Tafsir Jami’ul Bayan an Ta’wīl ayi Al-Quran menyebut, perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih anaknya merupakan bentuk ujian yang berat (Jilid 21, Hlm. 79). Atas kesabaran keduanya, Allah mengganti Ismail dengan sembelihan/domba yang besar. Ibn Abbas menyebut, domba pengganti itu digembalakan di surga (ra’ā fi al-jannah).

إنا كما جَزَيْناك بطاعتنا يا إبراهيم، كذلك نجزى الذين أحسنوا، وأطاعوا أمرنا، وعملوا في رضانا

Artinya, “sebagaimana Kami memberi pahala kepadamu dengan ketaatan kepada Kami, wahai Ibrahim, demikian pula Kami berikan ganjaran kepada orang-orang yang berbuat baik, menaati perintah kami, dan berbuat sesuatu atas keridhaan Kami” (Tafsir Jami’ul Bayan an Ta’wīl ayi Al-Quran, Jilid. 21, hlm. 78).

Demikianlah Allah menjadikan Ismail sebagai sarana untuk menguji ketaatan Ibrahim sekaligus mengubah praktik penyembelihan manusia menjadi penyembelihan hewan. Dengan ini pula, Allah menegaskan bahwa “jiwa manusia tidak boleh dijadikan sebagai sesaji kepada-Nya… Kasih sayang-Nya kepada makhluk ini menjadikan Dia melarang persembahan manusia sebagai kurban” (Tafsir Al-Mishbah, Jilid 11, Hlm. 283).

Peristiwa inilah yang melatarbelakangi ibadah kurban, yang di dalam agama Islam dilaksanakan selepas Iduladha dan tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Dengan disyariatkannya ibadah kurban, ketaatan Ibrahim dan Ismail diharapkan dapat dikenang dan dijadikan teladan oleh umat Islam. (bariqi)

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.