Muda

Self-Harm: Mengenali, Memahami, dan Mengatasi

self-harm

Oleh: Aninda Khairunnisa Sudiaji*

Fenomena self-harm belakangan ini banyak dilakukan oleh para remaja. Banyak dari mereka yang mengalami frustasi, stres, hingga depresi sehingga mulai melukai dirinya sendiri dan mengunggahnya ke media sosial. Jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan jiwa dan fisik.

Apa itu self-harm?

Dilansir dari halodoc.com, self-harm atau self-injury merupakan perilaku seseorang yang menyakiti dirinya sendiri secara fisik. Hal ini dilakukan sebagai cara seseorang mengatasi tekanan emosional atau mengatasi perasaan yang sangat kuat dan sulit untuk diekpresikan secara verbal.

Self-harm dapat dilakukan dengan melukai tubuh dengan benda tajam, benda tumpul, atau benda di dekatnya. Seseorang yang melakukan self-harm juga bisa melukai dirinya sendiri dengan cara menyayat kulit, memukul bagian tubuh, membenturkan kepala ke dinding, atau menjambak rambut.

Self-harm sendiri menggambarkan berbagai hal yang dilakukan seseorang terhadap diri mereka sendiri dengan sengaja dan sering kali secara sembunyi-sembunyi. Sehingga objek dari self-harm ini adalah diri sendiri.

Mengapa seseorang melakukan self-harm?

Ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan self-harm sebagai bentuk pelampiasan, mengalihkan perhatian, atau mengatasi suatu emosi. Dikutip dari alodokter.com, ada 3 alasan:

Pertama, self-harm dapat terjadi pada orang-orang yang sedang mengalami permasalahan hidup dan sosial seperti korban perundungan di kantor maupun di sekolah atau tertekan oleh tuntutan orang-orang di sekitarnya.

Baca Juga: Self-Love: Mulailah Mencintai Diri Sendiri

Kedua, berbagai trauma psikologis, seperti kehilangan dan pelecehan emosional, fisik atau seksual, juga dapat membuat seseorang merasa hampa, mati rasa, dan rendah diri. Seseorang yang mengalaminya (penderita) menganggap dengan menyakiti diri sendiri mengingatkannya bahwa dia masih hidup dan merasakan sesuatu seperti orang normal lainnya.

Ketiga, self-harm juga bisa muncul sebagai gejala penyakit mental tertentu, seperti depresi, gangguan makan, gangguan stres pasca trauma (PTSD), gangguan penyesuaian, atau gangguan penyesuaian kepribadian ambang.

Jenis-jenis self-harm

Dilansir dari siloamhospitals.com, self-harm dikategorikan menjadi 3 jenis berdasarkan tingkat keparahannya: pertama, major self-mutilation merupakan tingkat paling parah bahkan dapat mengancam jiwa seperti memotong jari, mencungkil bola mata, dan sebagainya.

Kedua, stereotypic self-injury merupakan tindakan menyakiti diri sendiri yang dilakukan secara berulang-ulang namun tidak seserius major self-mutilation. Seringkali, orang dengan gangguan autisme akan melakukan tindakan menyakiti diri sendiri seperti ini. Contoh dari stereotypic self-injury seperti membenturkan tangan dan kaki berulang kali atau membenturkan kepala ke dinding.

Ketiga, superficial self-mutilation cenderung tidak separah jenis tindakan lainnya. Namun, tindakan ini tidak boleh diabaikan. Tindakan superficial self-mutilation biasanya berupa pemotongan kulit dengan benda tajam, mencabut rambut sekuat mungkin, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana mengatasinya?

Mengutip langsung dari akun Instagram @psikologid, ada beberapa aktivitas yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau menggantikan self-harm, sebagai berikut:

Pertama, dengan berteriak sekeras mungkin dengan membenamkan wajah di bantal. Kedua, menulis isi pikiran di secarik kertas, lalu merobek atau membakar kertas tersebut. Ketiga, mengambil es batu, lalu taruh di bagian tubuh yang ingin dilukai.

Keempat, mempersilakan diri untuk menangis dan melepas beban dalam diri. Kelima, melakukan olahraga untuk menyalurkan enegi dan emosi yang sedang membuncah. Keenam, berkonsultasi dengan profesional untuk penanganan lebih lanjut.

*Penulis merupakan Mahasiswa KPI UMY, dan wartawan magang Suara ‘Aisyiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *