Berita

Seminar Pra-Muktamar II: Mencari Formula Dakwah Muhammadiyah di Era Teknologi Digital

Yogyakarta, Suara ‘AisyiyahRektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Muchlas mengatakan bahwa sejak berdiri tahun 1912, Muhammadiyah telah banyak memberi dedikasi, pengabdian, dan sumbangan yang besar bagi kemanusiaan, khususnya bagi bangsa Indonesia. Meski begitu, Muhammadiyah perlu menyadari bahwa ia kini tengah menghadapi tantangan yang luar biasa. Salah satunya adalah disrupsi teknologi digital.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam forum Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah 2022, Kamis (10/3). Di dalam forum yang mengangkat tema “Media, Masyarakat Digital, dan Dakwah Muhammadiyah” itu, Muchlas mengatakan bahwa Muhammadiyah harus memainkan peran aktif, tidak hanya merespons secara reaktif. Muhammadiyah perlu melakukan transformasi digital sehingga menjadi pelaku dari transformasi digital, yakni menempati puncak transformasinya sebagai disruptor.

“Sebagai disruptor tentu kita perlu melakukan banyak upaya agar persyarikatan kita bisa mengambil peran yang lebih signifikan di dalam mempengaruhi pihak-pihak lain, khususnya di dalam segmen dakwah Muhammadiyah agar dakwah kita di era teknologi digital ini menjadi semakin efektif,” terangnya.

Oleh sebab itu, menurut Muchlas, tema yang diangkat di dalam seminar ini sangat relevan dengan kondisi terkini, di mana Muhammadiyah punya kewajiban untuk bisa merespons disrupsi teknologi digital dalam rangka menjadi disruptor digital dan melakukan transformasi digital. Selain itu, lanjutnya, seminar ini juga perlu sebagai bahan untuk Muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah di Surakarta.

Baca Juga: Perdana, ITB AD Jakarta Gelar Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto mengatakan bahwa Steering Committee (SC) Muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah sengaja menyiapkan atau menyelenggarakan seminar dengan tema yang berbeda dan mengundang para ahli untuk bisa sharing dengan Muhammadiyah tentang berbagai hal yang sedang terjadi di dunia ini, terutama di Indonesia. “Terutama kita meminta masukan dan saran kira-kira kiprah yang perlu dilakukan Muhammadiyah ke depan seperti apa,” ujarnya.

Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah, kata Agung, bukan agenda seremonial pergantian kepemimpinan saja, tetapi yang lebih penting adalah untuk menetapkan program dan kebijakan yang memberikan dampak kemaslahatan bagi umat dan bangsa. Oleh karenanya, Muktamar harus disiapkan secara serius dengan melibatkan banyak ahli dan pakar untuk mendiskusikan sebaik-baiknya sehingga nanti program yang diputuskan dan dilaksanakan oleh Muhammadiyah-‘Aisyiyah adalah program yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara dalam rangka akselerasi Indonesia yang berkemajuan, Islam yang berkemajuan, dan dunia yang berkemajuan.

Lebih lanjut, menurut Agung, saat ini masyarakat tengah berada di era disrupsi tekonologi digital yang semakin lama semakin nampak keperkasaan dan kuasanya di dalam mendisrupsi hampir seluruh aspek kehidupan kita. Apalagi, bagi banyak orang media sosial sudah menjadi ruang untuk mencari informasi mengenai apapun. Sehingga, jelasnya, sudah sewajarnya kalau dikatakan bahwa masyarakat saat ini sangat bergantung pada media sosial.

“Kita masuk revolusi teknologi digital. Yang namanya revolusi itu selalu kejam. Revolusi itu hanya untuk mereka yang mendukung revolusi itu sendiri. Dan bagi mereka yang tidak mendukung atau bagi mereka yang tidak mau menyesuaikan diri dengan revolusi, maka dia akan terlindas. Bukan hanya ketinggalan, dia akan terlindas oleh revolusi itu sendiri,” tegas Agung.

Agung mengingatkan bahwa pada masa lalu, Muhammadiyah‘Aisyiyah bisa mewarnai kehidupan modern. Kemampuan tersebut, katanya, merupakan modal sekaligus peringatan. “Kalau Muhammadiyah tidak menyesuaikan diri dan mengambil peran, maka Muhammadiyah bukan hanya akan ketinggalan, tetapi Muhammadiyah akan terlindas,” imbuhnya.

Oleh karenanya, ia menegaskan bahwa di era revolusi teknologi digital ini, Muhammadiyah harus memainkan peran dan bahkan leading. (sb)

Related posts
Berita

Sandiaga Uno Sebut Halal Entrepreneur sebagai Potensi Besar Perekonomian Indonesia

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Menurut data Dinas Kependudukan Catatan Sipil tahun 2022, terdapat 87% masyarakat muslim yang ada di Indonesia. Data tersebut…
Berita

Haedar Nashir: Muhammadiyah Harus Serius Memperkuat Basis Ekonomi Umat

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Memperkuat basis ekonomi umat adalah jihad fii sabilillah. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam…
Berita

Seminar Pra-Muktamar: Muhammadiyah Mulai Lirik Sektor Industri dan Pariwisata Halal

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Muhammadiyah kembali menggelar Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah Ke-48, Kamis (12/5). Seminar yang dipandu oleh Universitas Muhammadiyah Bandung sebagai tuan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.