Berita

Seminar Pra-Muktamar: Muhammadiyah Harus Jadi Aktor Perdamaian dan Integrasi Sosial Dunia

Kupang, Suara ‘Aisyiyah Zainur Wula, Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang mengatakan bahwa di usianya yang memasuki satu dekade di abad kedua, Muhammadiyah ingin terus bergerak maju, berkembang, dan memberikan kontribusi baik di tingkat nasional maupun internasional. Pernyataan itu ia sampaikan ketika memberikan sambutan dalam Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah Ke-48 dengan tema “Kerja Sama Antar Iman dan Integrasi Sosial” yang digelar di UM Kupang, Rabu (25/5).

Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah sudah mengembangkan sasaran dakwahnya hingga ke luar negeri, yakni dengan mendirikan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PCIA/A) dan Amal Usaha Muhammadiyah-‘Aisyiyah (AUM/A) di berbagai belahan dunia. “Ini adalah suatu anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada kita sekalian, teristimewa kepada persyarikatan Muhammadiyah untuk mengabdikan dirinya, mengembangkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan mewujudkan keadaban manusia universal,” kata Wula.

Tak lupa, ia menyampaikan terima kasih kepada PP Muhammadiyah yang telah memberikan kepercayaan kepada UM Kupang untuk menyelenggarakan Seminar Pra-Muktamar ini. Rektor dari Kampus Multikultural ini berharap, kegiatan ini dapat membawa misi penting bagi perdamaian dan integrasi sosial dalam membangun peradaban manusia dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni. Menurutnya, seminar ini penting bukan hanya bagi Muhammadiyah, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Syafiq menjelaskan bahwa dipilihnya UM Kupang sebagai tuan rumah dalam seminar kali ini bukan tanpa alasan. UM Kupang punya posisi yang khas, di mana 75% mahasiswanya adalah non-muslim. Posisi serupa juga dimiliki oleh Unimuda Sorong dan UM Sorong. Kondisi ini, kata dia, menunjukkan bahwa Muhammadiyah memandang penting multikulturalisme, bukan hanya di dalam retorika tetapi telah menjadi gerak nyata.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa tema yang diangkat dalam seminar ini punya tautan dengan tema yang diusung Muhammadiyah di Muktamar. Muktamar Muhammadiyah mengusung tema  “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta”.

Baca Juga: Seminar Pra-Muktamar: Muhammadiyah Harus Menghadirkan Wajah Baru dalam Berdakwah

Memajukan Indonesia, menurut Syafiq, memerlukan kerja keras dalam berbagai bidang. Yang dalam upaya memajukan itu, Muhammadiyah ingin menggerakkan bersama-sama sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang inklusif, yang di dalamnya terdapat nilai-nilai kemanusiaan universal.

“Kalau kita berjuang untuk menegakkan keadilan bagi semuanya tanpa pandang bulu, maka itulah ajaran Islam. Kalau kita ingin memakmurkan seluruh masyarakat tanpa kecuali, maka itulah ajaran Islam. Kita ingin menghormati sesama, itulah ajaran Islam yang sebenar-benarnya. Inilah prinsip yang menjadi sangat penting bagaimana Muhammadiyah telah bergerak di dalam memajukan Indonesia menjadi Indonesia yang kita cita-citakan bersama,” ujar Syafiq.

Mengenai frasa mencerahkan semesta, Syafiq menjelaskan bahwa menjadi negara yang maju tidak mungkin bisa tanpa adanya upaya membangun relasi yang baik dengan negara-negara lain. Mencerahkan semesta, kata dia, adalah bagian dari perjuangan yang dibangun oleh Muhammadiyah.

Syafiq melihat bahwa saat ini, ada tantangan besar yang dihadapi dunia. Banyak konflik, ketegangan, dan peperangan terjadi di berbagai belahan dunia. Semua itu terjadi karena adanya ketidakadilan. Menurutnya, tidak mungkin ada perdamaian tanpa keadilan. Oleh karena itu, keadilan yang sejati harus dibangun untuk bersama-sama mencapai kedamaian.

Di dalam masyarakat dunia saat ini juga masih terjadi persaingan untuk memperebutkan hegemoni global. Persaingan antar satu negara dengan negara lain untuk bisa mendominasi kepentingan-kepentingan global, baik di sektor ekonomi, politik, dan sebagainya. “Terus terjadi dan tidak ada habisnya,” tuturnya.

Dengan kondisi ini, mau tidak mau, Muhammadiyah harus melibatkan diri di lingkup global. Caranya adalah dengan mendakwahkan Islam yang dikembangkan oleh Muhammadiyah, yakni berciri moderat. Islam yang mengajarkan keseimbangan antara lahir dan batin, antara individu dan masyarakat, antara kepentingan duniawiyah dan ukhrawiyah. Ini, kata Syafiq, adalah bagian ciri dari masyarakat yang dibangun oleh persyarikatan Muhammadiyah.

“Muhammadiyah ingin membangun masyarakat yang berada di tengah pusaran dunia, menjadi mercusuar untuk menggambarkan keunggulan ajaran agama, pentingnya moral agama, dan kemudian menjadi sinar yang mencerahkan bagi alam semesta. Muhammadiyah ingin turut hadir di dalam proses-proses perdamaian dan integrasi sosial, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia,” papar Syafiq melanjutkan. (sb)

Related posts
Berita

PP Muhammadiyah dan Aisyiyah Temui Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Sampaikan Undangan Muktamar Ke-48

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP Muhammadiyah, PP ‘Aisyiyah, beserta Panitia Pusat Muktamar ke-48 melakukan audiensi dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di…
Berita

PP Muhammadiyah dan DPP PGMI Sepakat Desak Revisi UU Sisdiknas

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP Muhammadiyah mendapat kunjungan dari DPP Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI), Kamis (15/9). Pertemuan itu berlangsung di Gedung…
Berita

Terima Kunjungan Dewan Keamanan Thailand, PP Muhammadiyah Sampaikan Urgensi Pendidikan

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP Muhammadiyah menerima kunjungan dari Dewan Keamanan Nasional Thailand, Rabu (15/9). Dalam kunjungan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.