Berita

Seminar Pra-Muktamar: Muhammadiyah Harus Menghadirkan Wajah Baru dalam Berdakwah

Magelang, Suara ‘AisyiyahSebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid, Muhammadiyah diharapkan dapat menebarkan pesan persatuan, kedamaian, dan kemajuan bagi semesta alam. Harapan itu disampaikan Lilik Andriyati, Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) ketika memberikan sambutan dalam Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah Ke-48 pada Senin (23/5).

Seminar dengan tema “Dakwah Muhammadiyah di Tengah Populisme dan Evangelisme” itu menghadirkan beberapa narasumber kompeten, yakni Burhanuddin Muhtadi, Irfan Junaidi, Pendeta Jocky Manuputty, Fathurrahman Kamal, Ai Fatimah Nur Fuad, dan Agus Miswanto. Lilik berharap, harapannya seminar ini akan menghasilkan ide-ide luar biasa sehingga bisa menjadi masukan untuk muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah. “Harapannya Muhammadiyah berperan aktif untuk bisa menjadi gerakan pencerah menuju Indonesia berkemajuan,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dadang Kahmad mewakili PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa fenomena yang akan datang itu ditentukan oleh fenomena hari ini dan yang telah lalu. Menyitir Q.S. al-Hasyr ayat 18, ia menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk selalu mengevaluasi perjalanan hidup yang telah lalu untuk menghadapi masa yang akan datang.

Demikian pula dengan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan. Menurut Dadang, masa yang akan datang bagi Muhammadiyah akan lebih rumit lagi. Jika di abad pertama gerak laju Muhammadiyah dapat dibilang sukses dengan segala pembangunan fisik dan manusianya, maka dalam mengarungi abad kedua belum tentu Muhammadiyah akan berhasil karena orientasi dan mad’u yang dihadapi berbeda dari abad sebelumnya.

Baca Juga: Seminar Pra-Muktamar: Muhammadiyah Mulai Lirik Sektor Industri dan Pariwisata Halal

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar dakwah Muhammadiyah harus responsif terhadap perubahan zaman. Apalagi, pola keberagamaan masyarakat mengalami perubahan seiring dengan kemajuan teknologi, perubahan kehidupan sosial masyarakat, dan nilai/ajaran yang dipahami.

Dadang menjelaskan bahwa keberagamaan di Indonesia saat ini mengalami banyak dinamika, terutama karena dipengaruhi oleh berbagai ideologi asing. Hal itu dapat diamati dari munculnya wacana dan/atau paham pluralisme agama, relativisme agama, feminisme, liberalisme, rasionalisme, dan sekularisme. Selain itu juga ada perubahan cara dan belajar beragama oleh generasi muda.

Menghadapi kondisi itu, ia lantas menyampaikan beberapa strategi yang bisa digunakan Muhammadiyah dalam menghadapi populisme beragama tersebut. Strategi itu meliputi: kukuh pada nilai Islam, menjadi teladan dalam berperilaku, bermanfaat dan mempunyai tanggung jawab sosial, dan mampu mengelola perubahan.

Sebagai pungkasan, Dadang berpesan, “Muhammadiyah sebagai organisasi yang mengusung semangat pembaruan harus menghadirkan wajah baru dalam berdakwah melalui berbagai platform media dan berbasis digital, sehingga cocok dengan karakter komunitas virtual. Tanpa begitu, ya akan susah”. (sb)

Related posts
Haji

Jalin Silaturahmi, PCIM Arab Saudi Gelar Temu Jemaah Haji Muhammadiyah

Jemaah haji diminta untuk menjaga diri baik jelang Armuzna maupun saat berlangsung puncak haji. Hal tersebut disampaikan oleh Anwar Abbas, Ketua PP…
Wawasan

Mengantisipasi Infiltrasi Salafi

Oleh: M. Husnaini* Pimpinan dan aktivis Muhammadiyah di banyak tempat kerap mengeluhkan fenomena masuknya Salafi ke lingkungan Muhammadiyah. Salafi memang diakui memiliki…
Berita

Abdul Mu’ti Ajak Warga Muhammadiyah Sikapi Pemilu 2024 dengan Arif dan Bijaksana

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP Muhammadiyah mengawali Pengajian Umum tahun 2024 dengan mengusung tema “Muhammadiyah dan Pemilu 2024”. Pengajian yang berlangsung secara…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *