Berita

Seminar Pra-Muktamar: Muhammadiyah Perlu Merevitalisasi Islam Berkemajuan di Tingkat Global

Surakarta, Suara ‘AisyiyahInternasionalisasi gerakan Muhammadiyah merupakan sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah matang dan mampu untuk memperluas syiar dakwahnya ke mancanegara. Di dalam proses internasionalisasi ini, tujuannya bukan sekadar memperkenalkan, tetapi juga menempatkan dan menjadikan Muhammadiyah sebagai bagian tak terpisahkan dari umat Islam di level global.

“Tujuannya bukan hanya agar masyarakat dunia mengenal Muhammadiyah, tapi juga sekaligus Muhammadiyah akan berada di mana-mana, menjadi satu bagian dalam syiar Islam secara keseluruhan,” ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sofyan Anif pada Senin (30/5).

Oleh karena itu, lanjut dia, program internasionalisasi ini harus menjadi usaha kolektif seluruh kader persyarikatan, baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Dalam hal ini, UMS telah dan akan terus turut serta mendukung dan mendorong upaya internasionalisasi tersebut dengan berbagai cara.

Dalam Seminar Pra-Muktamar Ke-48 dengan tema “Internasionalisasi Gerakan Muhammadiyah” itu, hadir menjadi pembicara kunci Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Menurut dia, tema yang diangkat dalam seminar ini merupakan satu bentuk ikhtiar untuk menyaring berbagai macam masukan yang penting dan stretagis mengenai langkah-langkah persyarikatan dalam mewujudkan program internasionalisasi Muhammadiyah.

Baca Juga: Fonds-Dachlan: Program Internasional Pertama Muhammadiyah

Program internasionalisasi, kata Haedar, sesungguhnya sudah menjadi agenda penting bagi Muhammadiyah sejak Muktamar Muhammadiyah di Jakarta tahun 2000. Program ini lalu ditegaskan ulang di Muktamar Muhammadiyah di Makassar tahun 2015. “Program internasionalisasi sejatinya merupakan langkah Muhammadiyah sejak awal berdiri, meski saat itu lebih terbatas pada dunia Islam. Yang dalam pernyataan pikiran Muhammadiyah abad kedua disebut kosmopolitasime Muhammadiyah, yang merupakan bagian dari pencerahan Muhammadiyah,” terangnya.

Sebagai program berkelanjutan dan jangka panjang, menurut Haedar, yang diperlukan saat ini adalah pengembangan lebih jauh dalam wujud revitalisasi dan transformasi internasionalisasi Muhammadiyah untuk lebih memberi dampak. Tujuannya adalah agar kehadiran Muhammadiyah di dunia internasional lebih massif dan sistematik.

“Gambar besarnya ada dalam pernyataan pikiran Muhammadiyah abad kedua, bahwa Muhammadiyah hadir untuk melakuan transformasi gerakan pencerahan dalam dunia kemanusiaan semesta. Wujudnya adalah melakukan aktualisasi kosmopolitanisme itu melalui gerakan internasionalisasi Muhammadiyah,” ujar Haedar.

Dalam perspektif kosmopolitanisme Islam, lanjut Haedar, ada nilai relevansi yang bisa dihadirkan oleh Muhammadiyah, yakni dengan menghadirkan pandangan Islam wasathiyah berkemajuan yang bersifat universal. Nilai relevansi itu seiring dengan konteks dunia yang sedang mengalami globalisasi, berkembangnya paradigma posmodernisme, dan paradoks kemajuan.

“Maka Muhammadiyah dengan Islam yang berkemajuan tentu perlu hadir kembali untuk memperkuat peran revitalisasi dan transformasi Islam berkemajuan di tingkat global,” tegas Haedar. (sb)

Related posts
Aksara

Kisah Pengorbanan Kiai Ahmad Dahlan dalam Membangun Muhammadiyah

Judul               : Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Masa Awal Penulis             : Syuja’ Penerbit           : Al-Wasat Tahun              :…
Berita

Haedar Nashir Harap Nasyiatul Aisyiyah Aktif Menggelorakan Pandangan Islam Berkemajuan

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP Nasyiatul ‘Aisyiyah menggelar Puncak Milad Ke-94 Nasyiatul ‘Aisyiyah pada Ahad (25/7). Hadir dalam kesempatan tersebut Chamamah Soeratno…
Berita

Siti Noordjannah Djohantini: Warga Aisyiyah Harus Punya Pemikiran Islam Berkemajuan

Pekalongan, Suara ‘Aisyiyah – Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini memberi apresiasi bagi warga ‘Aisyiyah Pekalongan yang mampu mengelola potensi untuk…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.