Seni untuk Menghaluskan Akal Budi, Mengapa Dilarang?

Liputan 19 Aug 2020 0 80x

Berkembangnya berbagai paham belakangan ini membuat sebagian orang mengharamkan seni. Seni tidak boleh lagi ada dalam ranah pendidikan dan lainnya karena dianggap haram. Hal tersebut terjadi pada salah satu TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) di Kalimantan Barat. TK  yang seharusnya ramai, ceria, dan menebarkan kegembiraan berubah menjadi TK yang sunyi karena siswa-siswinya dilarang berkesenian.

Kejadian itu diungkap oleh Yumi Harti, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Kalimantan Barat yang dihubungi Suara ‘Aisyiyah, melalui daring. Yumi mengungkapkan bahwa tidak dapat dipungkiri yang terjadi di TK ABA tersebut adalah pergeseran ideologi, semula acuannya ialah tarjih Muhammadiyah bergeser pada acuan lainnya. Untung saja kejadian ini tidak mempengaruhi TK-TK ABA lainnya di Kalimantan Timur. 

Kejanggalan mulai terasa ketika terdapat pendidik di TK tersebut yang menggunakan cadar. Di sisi lain, adanya lapor-an dari orang tua murid bahwa anak-anak mereka dilarang bershalawat, bernyanyi, dan melakukan tepuk-tepuk tangan.

“Pada akhirnya kami memutuskan untuk mengambil alih TK ABA tersebut agar tidak keluar dari ideologi Muhammadiyah-’Aisyiyah,” ungkap Yumi. Keputusan tersebut diambil PWA Kalimantan Barat setelah berdiskusi dengan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dan kemudian menerima banyak saran. 

Penguatan Ideologi

Antisipasi pun kemudian dilakukan. Yumi menuturkan bahwa PWA Kalimantan Timur kini akan lebih masif melakukan penguatan ideologi bagi para pendidik serta pengurus TK ABA di Kalimantan. 

“Di tingkat Ikatan Guru TK ABA (IGABA) kami juga mengadakan Baitul Arqam yang dilaksanakan secara masif. Penguatan kader dilakukan secara kolaboratif dengan Majelis Tabligh melalui pengajian dan kegiatan IGABA. Selain itu, ada pula kolaborasi lintas majelis sehingga ada kontrol kepada para pendidik,” jelasnya. Yumi berharap evaluasi dan upaya merapatkan barisan oleh PWA Kalimantan Barat bekerjasama dengan Muhammadiyah tersebut menjadi strategi yang efektif dalam penguatan ideologi.

“Kami berharap TK-TK ABA, baik yang di Kota maupun Kabupaten, mengikuti prosedur Tarjih Muhammadiyah dan acuan dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Ini kami share kepada orang tua murid maupun para pendidik,” kata Yumi.  

Penguatan Kelembagaan

Fenomena TK ABA yang beralih ideologi ini tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat. Di beberapa daerah juga ada muncul fenomena seperti ini sehingga seluruh elemen Pimpinan ‘Aisyiyah di seluruh daerah Indonesia perlu mewaspadai  dan melakukan antisipasi dengan menguatkan ideologi para pendidik di TK-TK ABA seluruh Indonesia. 

Menanggapi permasalahan yang terjadi tersebut, Ketua Lembaga Kebudayaan PP ‘Aisyiyah Mahsunah Syakir mengatakan sebenarnya jika melarang berkesenian itu menyalahi sunatullah. Ini karena seni merupakan ekspresi dari jiwa manusia, yaitu berupa suara, gerak, gambar. 

Mahsunah mengutip hadis riwayat Ahmad no 16574 “….sesungguhnya Allah itu Maha-indah dan mencintai keindahan…”. Selain itu banyak juga hadis yang meriwayatkan Rasulullah tidak melarang berkesenian. Saat ada sebuah kegiatan, tetapi sepi tanpa bunyi-bunyian, Rasullullah saw menegur, mengapa tidak ada bunyi-bunyian dan lainnya. 

“Apalagi anak-anak TK ABA kan tidak ada lagu-lagu yang mendayu, tidak ada tarian eksotis. Mereka (yang melarang lagu-red) kurang memahami dan kadang-kadang ikut mengharamkan sesuatu tanpa mengaitkannya dengan hal yang lain. Padahal dalam memahami hadis harus memperhatikan asbabul wurud, sebab hadis itu diriwayatkan sehingga jelas apa yang melatarbelakanginya,” jelas Mahsunah saat ditemui  Suara ‘Aisyiyah

Ditanya tentang manfaat kesenian bagi perkembangan anak, Mahsunah menjelaskan bahwa kesenian berpengaruh dalam pengembangan otak kanan. Jika hanya otak kiri yang dikembangkan sedangkan otak kanannya tidak, maka akan terjadi ketidakseimbangan. “Melalui nyanyian, dongeng cerita, gambar, lukisan, dapat dimasukkan pesan-pesan untuk pendidikan karakter yang sesuai dengan perkembangan  dan pertumbuhan anak. Pesan-pesan lewat permainan lewat lagu dan seni lainnya justru lebih mengena pada anak,” jelasnya lagi. 

Mahsunah menambahkan bahwa dulu ketika masuknya Islam ke Indonesia, para wali  menciptakan alat-alat permainan, gending-gending, lagu-lagu, dan musik yang menjadi  sarana dakwah. Mahsunah berharap kesenian yang diajarkan kepada anak-anak agar diarahkan pada persoalan cinta damai sehingga tidak menimbulkan kebencian dan permusuhan.

Lembaga Kebudayaan PP ‘Aisyiyah sendiri sejauh ini sudah memproduksi konten-konten kesenian seperti membuat CD/kaset lagu-lagu anak. Ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan akan lagu-lagu anak yang dirasa kurang. “LK DIY  juga sedang melakukan rekaman-rekaman lagu anak untuk disebarkan ke TK-TK ABA,” ujarnya. 

Untuk menangkal adanya gerakan lain atau ideologi lain dalam amal usaha Muhammadiyah-’Aisyiyah, Mahsunah mengatakan semua itu harus berawal dari penguatan kelembagaan, di antaranya penekanan pada al-Islam dan kemuhammadiyahan. Selain itu, lembaga di lingkungan Muhammadiyah-‘Aisyiyah juga harus ketat dalam penerimaan SDM sehingga akan mudah dalam penguatan ideologi al-Qur’an dan as-Sunnah. 

Menurut Mahsunah, setiap bulan  atau setiap pertemuan di cabang-ranting ‘Aisyiyah harus ada kultum yang berisi ideologisasi visi-misi ‘Aisyiyah, termasuk Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). “Pembekalan juga dilakukan dengan penyebaran buku pendidikan karakter sesuai akhlak Rasullah. Guru-guru itu diarahkan untuk menyampaikan cerita-cerita yang tertulis di sana kepada anak-anak,” kata Mahsunah. 

Kesimpulannya, menurut Mahsunah, jika kita kembali pada tuntunan Islam,  sebenarnya berkesenian itu tidak ada masalah asalkan kita memanfaatkan seni itu sebagai sarana dakwah. Selain itu, penampilan dalam berkesenian jangan sampai melanggar aturan Islam, misal tarian atau lagu hingar bingar yang nanti membuat maksiat. Intinya, tetap ada rambu-rambu antara yang boleh dan yang tidak. 

Kaji Ulang dalam Ranah Aksi

Apabila ditelisik lebih lanjut, ada dugaan bahwa munculnya fenomena di TK ABA tersebut ada hubungannya dengan menguatnya paham ekstrem kanan di Indonesia. Moh Soehadha, Ketua Divisi Publikasi dan Kerjasama Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan, isu ekstrem kanan-kiri merupakan isu yang muncul sejak kemerdekaan, yaitu ketika akan dirumuskan satu negara. Pada akhirnya yang dianut adalah asas tunggal. 

Saat ini, lanjut Soehadha, kondisi politik di Indonesia –terutama pada masa pemilihan Presiden–  isu-isu tentang politik identitas menguat kembali. “Kampanye banyak dilakukan  melalui media sosial sehingga siapa pun bebas menyampaikan asumsinya. Dalam kampanye itu, isu-isu tentang ekstrem kanan banyak muncul. Secara spesifik mereka
disebut dengan radikalisme, khilafah, dan sebagainya. Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa religiusitas masyarakat di Indonesia tidak akan pernah padam, tinggal bagaimana memanaj isu keagamaan tersebut dengan baik,” ujar Soehadha. 

Baca selanjutnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3, Maret 2020

Sumber ilustrasi : sekolah.data.kemdikbud.go.id

 

Leave a Reply