Serba-serbi Seragam Nasional ‘Aisyiyah (1)

Sejarah 20 Jul 2020 0 170x

Model Baju ‘Aisyiyah dengan Bawahan Sarung

Kain batik warna hijau bermotif tulisan ‘Aisyiyah, sudah tidak asing lagi bagi warga ‘Aisyiyah. Itulah seragam nasional ‘Aisyiyah yang biasa dipakai pada acara resmi ‘Aisyiyah. 

Seingat Wardanah, penasehat PP Aisyiyah, ihwal seragam, pertama kali diputuskan pada Muktamar ‘Aisyiyah, 1965, di Bandung. Muktamar itu lebih sering diingat, menandai era ‘Aisyiyah sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Pengaturan seragam ‘Aisyiyah kala itu, baru sebatas baju warna hijau dan kerudung kuning polos. Pada Muktamar ‘Aisyiyah berikutnya, 1968, di Yogyakarta, seragam yang dikenakan peserta malah tidak tampak sama, tapi beraneka ragam jenis warna hijau, dan kerudung kuning, entah hijau daun, hijau tua, hijau muda, atau warna hijau lainnya.  

Keputusan tentang seragam akhirnya dicabut. Masa itu, tradisi berseragam belum populer, ditambah masih labilnya situasi ekonomi, dan warna seragam yang cenderung tidak sama. Dalam hal ini, berarti, ‘Aisyiyah telah mengawali ide seragam lebih sebagai perangkat identitas anggota organisasi. Seragam bukan hal baru bagi ‘Aisyiyah sebagai organisasi. Pada foto pengurus ‘Aisyiyah Cabang Banyuwangi, tertanda Tahun 1936, mereka, 14 orang, berfoto menggunakan baju yang sama, kain kebaya bercorak. (dok. Keluarga Junus Anis). Di foto yang lain, Siti Walidah atau Nyai A. Dahlan, bersama pimpinan Aisyiyah yang lain, di atas mimbar Kongres ‘Aisyiyah Ke 17, tahun 1926, di Yogyakarta, mengenakan kerudung yang sama, satu dengan lainnya. Songket Kauman, bahkan pernah menjadi semacam kerudung khas warga ‘Aisyiyah Kauman, ketika kerajinan songket Kauman sedang berjaya. 

Kembali ke seragam ‘Aisyiyah, setelah orde baru, semakin banyak organisasi perempuan macam Dharma Wanita, PKK,  dan kebanyakan telah menetapkan seragamnya masing-masing. Usulan mulai datang dari warga ‘Aisyiyah, entah lewat surat atau dalam forum-forum resmi ‘Aisyiyah, supaya Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menerbitkan keputusan tentang seragam ‘Aisyiyah. Informasi dari Wardanah, yang sudah mengikuti muktamar ‘Aisyiyah sejak 1962 itu, aspirasi itu muncul setelah para pimpinan ‘Aisyiyah semakin sering mendapat undangan, dan tertera di dalam undangan agar mengenakan seragam masing-masing organisasi. Mereka kebingungan mesti mengenakan pakaian apa, sedangkan perihal seragam belum diatur oleh organisasi. 

PPA merespon baik usulan seragam itu, sampai kemudian Wardanah mempertemukan PPA dengan Drs. Suharjo, kakaknya yang notabene adalah Kepala Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Kakaknya kerap membawa desain batik, hasil pekerjaan murid-murid SMSR, dan dilihatnya bagus-bagus. Wardanah lantas menawarkan untuk membuat desain batik seragam ‘Aisyiyah. Bertempat di rumahnya, di Kotagede, Suharjo mendesain batik seragam ‘Aisyiyah di depan Wardanah bersama anggota PPA yang lain. Tak perlu waktu lama, ujar Wardanah, setelah diperbagus, desain itu dibawa ke rapat PPA, dan disetujui sebagai desain seragam ‘Aisyiyah. Batik dipilih dengan pertimbangan kekhasan Yogyakarta, kota lahirnya ‘Aisyiyah, sedangkan desain batik dengan mencantumkan tulisan ‘Aisyiyah, dan warna hijau-kuning, adalah identitas warna ‘Aisyiyah. 

Perihal seragam nasional ‘Aisyiyah dengan kain batik seperti sekarang, pertama kali diputuskan pada Muktamar ‘Aisyiyah di Solo, 1985. Baru pada Muktamar ‘Aisyiyah selanjutnya, 1990, di Yogyakarta, seragam ‘Aisyiyah tersebut untuk pertama kalinya resmi dipakai. 

Produksi seragam diserahkan pertama pada Perusahaan Batik Danar Hadi, kemudian berganti lagi ke pusat produksi yang lain. Prinsipnya, produksi seragam ‘Aisyiyah hanya terpusat di satu tempat, dan tidak dijual bebas, karena hak penjualan ada di tangan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, baru kemudian didistribusikan melalui Pimpinan ‘Aisyiyah di tingkat Wilayah sampai ranting. Wardanah memaparkan alasannya, pertama, menjaga orisinalitas atau keaslian; kedua, penjualan itu adalah income atau pemasukan bagi PPA dan pimpinan ‘Aisyiyah di bawahnya; ketiga, seragam itu memang hanya dipakai oleh warga ‘Aisyiyah. 

Di salah satu kabupaten di Jawa Timur, kata Wardanah, pernah ada perusahaan yang mencoba-coba membikin seragam ‘Aisyiyah. Kainnya jelek, dan dijual dengan harga murah. Begitu sampai informasi itu, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah segera mendatangi, dan menegur perusahaan yang bersangkutan. Tak hanya sekali, Wardanah bahkan pernah mendapati sendiri, kain seragam ‘Aisyiyah dijual bebas di salah satu toko di Yogyakarta. Semua kain seragam ‘Aisyiyah yang dijual di toko itu, lantas diborong, sambil memberi tahu agar tak menjual lagi kain seragam ‘Aisyiyah. (Hajar Nur Setyowati)

Baca selanjutnya di Serba-serbi Seragam Nasional Aisyiyah (2)

 

Leave a Reply