Serba-serbi Seragam Nasional ‘Aisyiyah (2)

Sejarah 20 Jul 2020 0 139x

Motif Kain Seragam ‘Aisyiyah

Lanjutan dari Serba-serbi Seragam Nasional Aisyiyah (1)

Motif kain seragam ‘Aisyiyah itu telah menjadi paten-nya ‘Aisyiyah, meski belum sampai mengurus hak patennya. Di setiap kain seragam ‘Aisyiyah yang dijual, disertai tempelan kertas bertuliskan, “Barang siapa meniru, menjiplak dan menjualbelikan seragam resmi organisasi ‘Aisyiyah akan mendapat sanksi hukum”.

Bahkan untuk menjaga keamanan produksi dan penjualan kain seragam, PPA tetap membeli kain seragam produksi pabrik yang masuk kategori cacat, dengan setengah harga, untuk kemudian didayagunakan menjadi aneka produk kreatif, seperti dompet, kipas, dll.  

Penjualan kain seragam dipusatkan di Kedai ‘Aisyiyah, yang terletak di timur PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Dari kedai ‘Aisyiyah, baru kemudian didistribusikan melalui Pimpinan ‘Aisyiyah di daerahnya masing-masing, sedari PWA – PRA. Bagi PWA-PRA yang menyertakan surat dari institusinya, akan mendapat diskon atau potongan harga. Pemesanan bisa melalui telepon, surat, dan nantinya, pihak kedai ‘Aisyiyah akan mengirimkan lewat paket. Tak jarang, kata Dyah Pikanthi, karyawan kedai, ketika berada di Yogya, mereka bisa langsung membelinya ke kedai ‘Aisyiyah. 

Yulia Qamariyanti, misalnya, dari PWA Kalimantan Selatan (Kalsel), kebetulan ia sedang berada di Yogya untuk menempuh studi S3 di UGM. Ia sering menyempatkan diri mampir di kedai, untuk membelanjakan pesanan teman-teman PWA Kalsel, baik itu seragam, atau perangkat organisasi lainnya, seperti buku notulen, buku kas, dsb. 

Di kedai ‘Aisyiyah, informasi dari Dyah, ada dua jenis kain baju seragam, halus dan biasa. Kain halus dijual dengan harga Rp. 25.000,- per meter, sedangkan kain biasa Rp. 20.000,- per meter. Saat ini, PPA sedang dalam proses mengusahakan kain baju seragam berbahan katun, berangkat dari usulan warga ‘Aisyiyah yang lain. Pernah ada usulan pengadaan kain seragam berbahan sutra, tapi PPA masih belum mengusahakan dengan pertimbangan, untuk menjaga agar tidak ada kesenjangan sosial dan ekonomi berdasar jenis kain seragam di acara-acara resmi Aisyiyah. 

Bawahan baju seragam, bisa berupa kain jarik dan sarung. Dijual dengan harga 25 ribu per meter untuk kain jarik berbahan tekstil, dan 85 ribu ribu untuk jarik dan sarung batik. Semula, ketika diterbitkan keputusan tentang seragam ‘Aisyiyah, belum ada aturan tentang bawahan. Baru kemudian, perlahan, terbit aturan tentang seragam bawahan, yaitu rok hitam. Usulan datang dari warga ‘Aisyiyah, menginginkan supaya bawahan tidak berupa rok tapi berupa jarik. PPA segera hunting jarik yang sepadan atau cocok dikenakan dengan baju seragam ‘Aisyiyah. Mereka cukup mencarinya di para pengusaha batik ‘Aisyiyah, karena banyak juga warga ‘Aisyiyah yang berprofesi sebagai saudagar batik. Dari jarik, berkembang, bawahan baju seragam bisa juga berupa sarung sesuai ketentuan. 

Kedai tidak hanya menjual baju seragam dan kain jarik atau sarung, tapi juga menyediakan kerudung berwarna kuning menyesuaikan aturan. Berbeda dengan baju seragam dan bawahan, kerudung tidak dijual secara terpusat, karena tidak ada aturan baku tentang kerudung seperti halnya baju seragam dan bawahan. Bedanya, kata Dyah, yang sudah 7 tahun bekerja di kedai, kerudung yang dijual di kedai menyertakan lambang ‘Aisyiyah. Harga jual di kedai, bisa saja berubah ketika sampai di tangan warga ‘Aisyiyah di daerah, dengan mempertimbangkan ongkos kirim atau jalan, sekaligus kas organisasi. Di Kalsel, pengalaman Yulia, seragam biasa dijual oleh Majelis Ekonomi, warga ‘Aisyiyah bisa membeli seragam dengan mencicil, untuk meringankan pembayaran.  Cara ini besar kemungkinan tidak hanya dipraktikkan di Kalsel saja, tapi juga di daerah yang lain. 

Untuk menghindari salah jahit, seperti salah atau terbalik meletakkan lambang ‘Aisyiyah, para karyawan kedai sudah sejak dini mengarahkan pada pembeli, bagaimana cara menjahit baju seragam ‘Aisyiyah yang benar. Tatik dari PCA Pakualaman, yang kebetulan sedang membelikan seragam Aisyiyah di kedai untuk dikenakan salah satu anggotanya pada Musycab, berbagi pengalaman, biasanya ia akan mengarahkan penjahitnya supaya menjahit seragam dengan benar. Adapun Yulia, untuk menghindari salah jahit, ibu-ibu Aisyiyah membawa contoh baju seragam  yang benar kepunyaan teman yang lain pada penjahit, atau menjahitkan ke anggota Aisyiyah yang berprofesi sebagai penjahit.

Jika merujuk pada aturan organisasi, seragam nasional ‘Aisyiyah dikenakan pada acara-acara resmi ‘Aisyiyah. Hanya saja, tak jarang kita melihat warga ‘Aisyiyah mengenakan seragam nasional bukan di acara resmi ‘Aisyiyah, misalnya saja ketika wisuda anak atau cucunya, pengajian, atau pada kesempatan yang lain, bahkan ketika menghadiri resepsi walimatul ‘ursy.

Wardanah pernah mendapat cerita dari temannya, bahwa seragam ‘Aisyiyah sengaja dikenakan ketika berlangsung akad nikah. Baju seragam Aisyiyah itu dipakai oleh ibu mempelai, baik pengantin laki atau perempuan. Kedua orangtua itu, sengaja memutuskan memakai baju seragam ‘Aisyiyah, karena keduanya sama-sama keluarga besar ‘Aisyiyah-Muhammadiyah, dalam bahasa Wardanah, mungkin saking mantapnya sehingga mengenakan seragam ‘Aisyiyah. Bisa jadi, warga Aisyiyah yang masih mengenakan seragam ketika berlangsung kegiatan di luar acara resmi ‘Aisyiyah, lebih dikarenakan, tidak sempat berganti pakaian, sehingga masih bertahan memakai baju seragam, meski tidak lagi berada di acara ‘Aisyiyah. 

Wardanah kemudian mengingatkan pada warga ‘Aisyiyah atau keluarga warga ‘Aisyiyah, agar tak sembarangan memberikan baju seragam Aisyiyah ke orang lain, atau meloakkan begitu saja ketika baju itu tidak lagi terpakai. Jika ingin mewariskan, bisa diberikan pada warga ‘Aisyiyah lain yang membutuhkan. Kita tentu tidak ingin, menemukan bukan warga ‘Aisyiyah, bahkan pengamen atau pemulung mengenakan baju seragam ‘Aisyiyah ketika menjalankan aktifitasnya. (Hajar Nur Setyowati)

 

Leave a Reply