Siapa yang Harus Diselamatkan?

Berita 24 Jun 2021 1 186x
Siapa yang harus diselamatkan?

Siapa yang harus diselamatkan?

Pada 23 Juni 2021, kasus Covid-19 di Indonesia menembus angka 15.308 orang. Angka tersebut menjadi rekor harian tertinggi kasus Covid-19 sejak virus itu kali pertama dinyatakan tersebar di Indonesia. Dengan penambahan angka tersebut, total kasus yang teridentifikasi di Indonesia berjumlah 2.033.421.

Implikasi dari tingginya angka kasus tersebut adalah ketersediaan kapasitas Rumah Sakit dan Shelter yang semakin menipis. Di Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah (RSMA), ada 88 RSMA yang melayani penanganan Covid-19 yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi. Dari total 3051 bed (termasuk bed ICU tekanan negatif dengan ventilator, ICU tekanan negatif tanpa ventilator, isolasi tekanan negatif, isolasi tanpa tekanan negatif, NICU, PICU, dan IGD), per-23 Juni 2021 pukul 14.00, sejumlah 2537 bed terisi.

Baca Juga: Muhammadiyah Hadir untuk Kemanusiaan Universal

Tidak hanya kapasitas RS yang semakin menipis, para tenaga kesehatan yang menjadi benteng terakhir melawan Covid-19 pun mengalami kelelahan dan dilema. Dokter Spesialis Emergency Medicine sekaligus Ketua Tim Dokter Muhammadiyah Corona Rintawan menceriterakan pengalamannya ketika “dipaksa” memilih menyelamatkan nyawa salah satu di antara tiga pasien terpapar Covid-19.

“Dalam kondisi bencana seperti sekarang, di mana fasilitas dan alat terbatas, maka diberlakukan triase bencana, artinya menyelamatkan yang paling besar kemungkinan untuk selamat, bukan yang paling jelek kondisinya. Percaya sama saya, kalian tidak akan pernah bisa membayangkan berada pada posisi seperti ini. Apakah saya yakin benar dengan pilihan ini? Tidak. Tetapi kita sebagai nakes di RS harus segera memutuskan dengan cepat sehingga salah satu pasien tersebut (mungkin) bisa selamat.

Maka tolong kalian lakukan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. Sayangi keluarga/teman-teman kalian, agar kami tidak terpaksa membuat pilihan-pilihan yang sangat berat tersebut. Dan dalam kondisi seperti sekarang, hampir setiap hari terpaksa kami lakukan,” kata Corona Rintawan (dengan beberapa perbaikan), Sabtu (19/6).

Dalam acara Mata Najwa “Takeover: Blak-Blakan Dokter”, Corona Rintawan mengabarkan situasi yang ada di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan, Jawa Timur. Menurut laporannya, ada kurang lebih 40 bed di RSM Lamongan dan semuanya terisi penuh. Tayangan video juga memperlihatkan beberapa pasien yang mengantre di luar. Pasien-pasien tersebut diperiksa di luar untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka.

Di dalam ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), kamar yang semestinya berisi satu bed –karena kondisi darurat—akhirnya harus diisi dua bed dengan jarak antar bed 1 (satu) meter. “Tidak bisa ideal, karena kondisi,” jelasnya, Rabu (23/6).

Ia menjelaskan bahwa kondisi pasien yang datang ke RSM Lamongan rata-rata sudah dalam kondisi yang buruk. Bahkan ada yang saturasi oksigennya sudah 25%.

Baca Juga: Muhammadiyah Tegaskan Konsisten Jihad Melawan Covid-19

Corona Rintawan juga menceritakan pengalamannya ketika dihadapkan pada situasi dilematis. “Dilemanya adalah mana yang harus didahulukan. Kalau banyak yang datang, dan ketika disaturasi oksigennya sama-sama buruk, ICU hanya ada satu bed dan satu ventilator, otomatis harus memilih. Nah, pemilihannya yang berat: mana yang harus kita pilih. Itu nggak mudah,” ujarnya.

Satu-satunya dokter spesialis emergensi di RSM Lamongan itu hampir setiap hari terpaksa mengalami kejadian dilematis tersebut. Ia dipaksa memilih pasien dengan presentase keselamatan tertinggi untuk diselamatkan nyawanya.

Minimnya ketersediaan bed juga patut menjadi perhatian. Dalam situasi memprihatinkan tersebut, menurut Corona, aliran dana ke RS masih banyak yang “tersangkut”. Ia menjelaskan, “yang kemarin juga masih ada tanggungan. Belum membayar. Tetapi kita harus terus mengeluarkan biaya operasional untuk membuka ruangan atau menambah bad Covid-19”.

Jaga Sesama, Bantu Semua. (sb)

One thought on “Siapa yang Harus Diselamatkan?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *