Sikap Muslim Atas Perang Asimetris Palestina-Israel

Wawasan 22 Jun 2021 0 187x
Perang Asimetris Palestina-Israel

Perang Asimetris Palestina-Israel

Oleh: Siti Majidah

Pada bulan Mei 2021, dunia kembali dikejutkan dengan pecahnya konflik antara Palestina dan Israel di wilayah Yerussalem Timur. Konflik yang terjadi di Syeikh Jarrah pada pertengahan Ramadan kemarin merupakan konflik terburuk setelah konflik Israel dan Palestina di tahun 2014. Konflik ini bermula dari adanya bentrok antara warga Palestina dan Israel terkait dengan ancaman penggusuran pemukiman Palestina di wilayah tersebut.

Pada bulan suci Ramadhan 2021 yang lalu ketegangan di wilayah ini muncul bermula dari adanya larangan untuk warga muslim berkumpul di situs-situ bersejarah seperti Masjid al-Aqsa dan ditambah dengan adanya rencana Israel untuk mengusir warga Palestina dari Syeikh Jarrah. Konflik pun memanas hingga ke Yerussalem Timur, Masjid al-Aqsa dan Jalur Gaza.

Tercatat kurang lebih 250-an orang meninggal akibat konflik ini dengan jumlah paling banyak dari warga sipil Palestina dan jumlah korban luka-luka mencapai 1200-an jiwa. Jumlah ini pun akan terus bertambah jika tidak segera dilakukan gencatan senjata di antara kedua pihak.

Sejarah Syeikh Jarrah

Jika merunut kepada akar sejarahnya, Syeikh Jarrah yang merupakan wilayah di Yuressalem Timur ini dinisbatkan kepada nama ulama dan salah satu amir (Gubernur) yang bernama lengkap Syaikh Husamuddin bin Syarfuddin Isa al-Jarrahi (w. 598 H). Syeikh Jarrah merupakan dokter dan penasehat pribadi Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau merupakan ulama yang berperan besar mempengaruhi Shalahuddin Al-Ayyubi agar berpindah dari sekte Syiah menjadi Sunni. Atas jasa-jasa beliau inilah banyak peziarah yang berbondong-bondong mendatangi maqbarah (kuburan) Syeikh Jarrah, bahkan banyak sekali kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di sana setiap tahunnya.

Wilayah Syeikh Jarrah adalah pemukiman yang dihuni oleh pengungsi dari Palestina yang terusir dari tanah kelahiran mereka ketika Israel masuk ke negara Palestina pada tahun 1948. Di bawah dukungan pemerintah Yordania dan lembaga bantuan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), pada tahun 1956 diberikan bantuan untuk 28 pengungsi Palestina untuk membangun pemukiman di sekitar Syeikh Jarrah.

Civic Coalition for Palestinian Rights in Jerusalem (CCPRIJ) memberikan tanah kepada para pengungsi dari Palestina dan biaya pembangunannya ditanggung oleh asistensi United Nations Relief and Work Agency (UNRWA). Pada tanggal 4 Juni 1967, kesepakatan pembagian wilayah ini disetujui oleh pihak Palestina dan Israel dan diakui oleh Hukum Internasional. Akan tetapi, pada tahun 1972, asosiasi dari Israel mengajukan gugatan ke pengadilan untuk mengusir warga Palestina yang bermukim di sana.

Baca Juga: Hajriyanto Y. Thohari: Amerika adalah Penulis Skenario Penjajahan Israel Atas Palestina

Mereka berdalih bahwa pada tahun 1970, Undang-Undang tentang urusan Hukum dan Administrasi Israel yang menetapkan orang Yahudi yang kehilangan harta benda di Yerussalem Timur pada tahun 1948 berhak mengklaim kembali harta mereka. Tentunya klaim sepihak ini melanggar hukum Internasional atas keputusan Mahkamah Internasional Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang menetapkan wilayah Syeikh Jarrah menjadi bagian dari Palestina.

Sejak adanya keputusan UU 1970, penderitaan warga Palestina yang bermukim di sana bermula, karena di dalam UU tersebut warga Palestina yang menetap di kawasan Syeikh Jarrah tidak dapat mengklaim kembali harta dan tanah milik mereka. Pencaplokan secara paksa oleh warga Israel atas tanah hunian Palestina semakin menjadi-jadi, bahkan disertai dengan aksi kekerasan dan penyerangan secara brutal. Pada tahun 2008-2009, ketegangan di wilayah Syeikh Jarrah semakin meningkat ketika terjadi pengusiran kepada beberapa warga Palestina di wilayah tersebut.

Bagaimana Sikap Kita?

Konflik yang semakin memanas antara Israel dan Palestina disikapi beberapa pihak dan tokoh dunia. Sebut saja imam besar Al-Azhar Assyarif, Syeikh Ahmad Tayyib yang menyebutkan bahwa tindakan represif Israel ini sebagai perbuatan biadab karena telah melecehkan tempat suci umat Muslim dan berlaku semena-mena karena melakukan pengusiran secara paksa.

Selain Ahmad Tayyib, tokoh muslim lainnya seperti Presiden Turki Reccep Erdogan, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi juga turut mengecam tindakan brutal Israel atas Palestina. Bahkan dukungan dan kecaman atas aksi brutal Israel juga datang dari warga sipil dan tokoh politik negara Eropa dan belahan dunia lainnya.

Di dalam negeri, konflik antara Israel dan Palestina juga mendapatkan beragam respons antara yang pro dan kontra. Sejumlah elite dan warga negara mulai memberikan pendapat mereka. Bagi yang pro dengan Israel mulai melancarkan narasi-narasi yang mencibir, seperti: “untuk apa menggalang dana untuk Palestina sedangkan masalah pengangguran di Indonesia saja masih banyak”. Selain itu juga memandang sinis aksi solidaritas untuk Palestina, bahkan ada yang memfitnah dai kondang Indonesia Ustadz Adi Hidayat yang berhasil mengumpulkan dana hingga Rp30 Miliiar.

Baca Juga: ‘Aisyiyah Mengutuk Agresi Militer Israel terhadap Palestina

Menjadi sebuah keprihatinan bersama karena kegaduhan pun berlanjut hingga ke media-media sosial dengan narasi-narasi negatif yang dibangun oleh netizen, tidak hanya oleh pendengung media sosial (buzzer), namun juga oleh sejumlah elit politik yang justru semestinya memberikan keteladanan baik dalam bersikap ataupun berbicara.

Bagi Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan merupakan populasi muslim terbesar di dunia, mendukung Palestina merupakan sebuah keharusan. Tidak hanya karena alasan kemanusiaan namun karena eratnya kesatuan sesama muslim. Rasulullah saw. bersabda, perumpamaan orang-orang beriman di dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa sesama kaum muslim semestinya ikut merasakan penderitaan dan kesulitan saudaranya yang lain, terlebih melihat penderitaan bangsa Palestina akibat agresi militer Israel yang sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu. Israel yang merupakan negara bentukan Inggris menduduki Palestina sejak tahun 1948, dan telah melakukan banyak perbuatan di luar nilai-nilai kemanusiaan dalam perampasan paksa tanah-tanah milik warga Palestina. Selain itu, masalah Palestina juga mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal, melanggar kontitusi, dan merupakan bentuk penjajahan yang dzalim atas bangsa lain.

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. juga menyebutkan, salah seorang di antara kalian tidaklah sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR BUkhari dan Muslim).

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah telah mengimplementasikan hadis ini dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar walaupun tidak saling kenal dan berbeda tanah airnya. Maka dari itu, seorang Muslim yang sempurna imannya tidak akan rela membiarkan saudaranya didzalimi, diserbu, bahkan terancam jiwa dan hartanya akibat agresi dari negara lain.

Jika kita flashback ke belakang, tentunya kita akan mendapati bahwa hubungan antara Indonesia dan Palestina merupakan hubungan ibarat saudara yang sangat dekat. Tidak hanya karena ikatan sesama Muslim, namun juga karena sama-sama menjunjung nilai kemanusiaan, seperti menolak adanya penjajahan.

Baca Juga: Orang Palestina, Orang Hebat

Palestina merupakan negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia  yang saat itu membutuhkan pengakuan secara de jure dari negara lain. Bahkan dalam beberapa bencana alam yang menimpa Indonesia, seperti pada gempa Padang 2009 dan tsunami di Sulawesi 2018, Palestina juga turut membantu Indonesia dengan mengirimkan 20 truk bantuan kemanusiaan.

Dengan begitu, jika kita tidak mampu membantu secara fisik dan harta, maka sudah sepatutnya kita tumbuhkan sikap simpati dan empati atas penderitaan bangsa Palestina. Selain itu, mari kita mengawal bersama langkah-langkah pemerintah untuk mendesak PBB agar menghentikan agresi Militer Israel dan menghentikan narasi-narasi negatif di media sosial. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, “Muslim yang baik adalah muslim yang menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak menyakiti muslim lainnya?”  (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Nasa’i).

Tinggalkan Balasan