Siti Bazaroh Harawi: Bendahara Pertama Aisyiyah

Inspirasi 23 Agu 2021 0 349x
logo aisyiyah

logo aisyiyah

Oleh: Syukriyanto AR

Nyai Harowi adalah bendahara pertama Pimpinan Pusat (Hoofd Bestur) ‘Aisyiyah. Ia merupakan salah satu dari tiga perempuan muda yang sudah menikah yang oleh Kiai Ahmad Dahlan dilibatkan dalam kepengurusan ‘Aisyiyah. Sementara, dua perempuan lain adalah Nyai Fatimah Wasool Jakfar dan Nyai H. Abdullah.

Nama kecilnya adalah Siti Bazaroh. Ayahnya, Ahmad Badar, adalah putra K. H. Ihsan. Kiai Ahmad Badar satu saudara dengan Nyai Fakhruddin (Sri Mulyati), Nyai Sarbini, dan Kiai Yunus Ihsan. Maka dari itu, Nyai Harowi adalah kemenakan Nyai Fakhruddin dan Nyai Sarbini. Ia memiliki hubungan sepupu dengan Prof. Sumitro, tokoh kepanduan Hizbul Wathan yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Kwartir Pusat Hizbul Wathan. Nyai Harowi juga sepupu dari Azan Syarbini, mantan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Kiai Ahmad Badar, ayah Siti Bazaroh, juga salah satu santri Kiai Dahlan. Bersama Kiai Syuja’, ia kerap ditugasi oleh Kiai Dahlan untuk mengajari murid-murid baru cara berwudhu, salat, ibadah yaumiyah, dan belajar membaca serta menulis al-Quran di Langgar Kidul.

Siti Bazaroh adalah salah satu peserta pengajian terbatas Wal ‘Ashri yang diadakan di Langgar Kidul selepas Maghrib, pengajian yang dikenal dengan nama Maghribi School. Maka dari itu, Siti Bazaroh termasuk salah satu murid langsung dan dekat dengan Kiai Dahlan.

Baca Juga: Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Pada waktu itu, ada tiga pengajian Wal ‘Ashri. Pertama, pengajian Wal ‘Ashri khusus untuk para pemuda dan sebagian besar pernah belajar di pesantren. Ketua kelompok pengajian ini adalah R. H. Hadjid, santri termuda dari Kauman. Pengajian ini diadakan setiap hari sekitar pukul 07.00-08.00.

Kedua, pengajian Wal ‘Ashri untuk ibu-ibu dan buruh perempuan yang diadakan setiap hari sekitar pukul 08.00-09.00. Pengajian ini diadakan atas permintaan Nyai Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) karena beliau memandang kaum perempuan perlu memiliki kesadaran mengisi dan memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang baik (amal saleh).

Ketiga, pengajian Wal ‘Ashri terbatas yang santrinya terdaftar dan menggunakan sistem presensi. Pengajian ini hanya diikuti sekitar 16 orang dan Siti Bazaroh adalah salah satu anggota pengajian Wal ‘Ashri yang terbatas itu.

Siti Bazaroh juga menjadi salah satu anggota perkumpulan Sopo Tresno di masa awal. Dalam organisasi ini, ia dibersamai oleh Siti Munjiyah, Siti Bariyah, Siti Badilah, Siti Busro, Siti Aisyah, Nyai Fatimah Wasool, Nyai H. Abdullah, Siti Zuhriyah, Siti Umniyah, Siti Dawimah, Siti Wadingah, Siti Wasilah, Siti Wakirah, Siti Hayyinah, Siti Walidah (bukan istri Kiai Dahlan, tetapi adik bungsu dari Siti Bariyah sekaligus putri dari Kiai Lurah Hasyim Ismail), Siti Dalalah, dan lain-lain.

Saat itu, letak rumah Siti Bazaroh berdekatan dengan Langgar Kidul dan bahkan satu halaman dengan rumah Kiai Dahlan. Karena itu, Kiai Dahlan sangat mengenalnya. Tak hanya itu, Siti Bazaroh juga teman sepermainan putri-putri Kiai Dahlan, yakni Siti Aisyah dan Siti Busro. Sehingga, ketika dibentuk Pimpinan ‘Aisyiyah pertama, Siti Bazaroh ditunjuk oleh Kiai Dahlan menjadi bendahara.

Baca Juga: ‘Aisyiyah Reposition in the Reform Movement Problem

Saat itu, Siti Bazaroh terbilang sangat aktif di ‘Aisyiyah. Dialah yang menggalang dana untuk menggerakkkan organisasi. Dia pula yang rajin menghubungi dan menarik sumbangan dari para dermawan, khususnya pengusaha, di masa awal. Meskipun saat itu wilayah dakwah ‘Aisyiyah masih terbatas di Kauman, Suronatan, Notoprajan, dan sekitarnya, namun sudah membutuhkan dana dan waktu yang banyak karena banyak pula kegiatannya.

Beberapa pembiayaan yang dilakukan ‘Aisyiyah masa itu adalah untuk pembangunan Musala Putri ‘Aisyiyah yang dibangun sejak tahun 1921 dan baru selesai tahun 1922. Selain itu, digunakan pula untuk membiayai kegiatan remaja putri dan pendidikan anak-anak di Kauman dan sekitarnya yang kemudian menjelma menjadi Dirasatul Athfal (DA), Dirasatul Banat (DB) untuk anak-anak setingkat sekolah dasar, dan pengajian Tajmilul Akhlak untuk anak-anak sekitar 10-15 tahun.

Di sana diajari bagaimana membaca al-Quran, doa-doa, dan ibadah yaumiyah. Selain itu, remaja diberi keterampilan yang berkaitan dengan kesehatan, memasak, mendesain dan menjahit pakaian, menyulam, membuat kain songket, menya-nyi, hingga membentuk grup paduan suara NA dan lain-lain. Sementara kelompok yang lebih dewasa dilatih berpidato (menjadi mubalighat), menulis, keorganisasian, dan kepemimpinan.

Di antara peserta pendidikan ini banyak yang di kemudian hari menjadi aktivis dan guru di lingkungan ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah. Beberapa di antaranya adalah Siti Bazimah (putri Siti Dawimah), Siti Astinah, Siti Asma’, Siti Zuhrah (Ketua Nasyiatul ‘Aisyiyah sebelum menjadi ortom), Siti Baroroh, Siti Hadifah, Siti Dawisah, Siti Tujimah, Siti Jamimah, Siti Jumhanah, Siti Jamharoh, Siti Sa’adah, Siti Nizmah, Siti Junadah.

Baca Juga: Sejarah Berdirinya Musala Perempuan Pertama di Indonesia

Tak hanya diajari keagamaan dan keterampilan, para peserta didik juga dikirim sebagai mubalighat ke berbagai daerah seperti ke Bausasran, Lempuyangan, Srandakan, Wonopeti, Sewugalur, Wonokromo, Blawong, dan sebagainya.

Dalam upaya penggalangan dana, Ny. Harowi dan teman-temannya didukung pula oleh para pengusaha batik di Kauman, Suronatan, Notoprajan, Karangkajen, Kotagede, dan lain-lain. Mereka mendatangi para pengusaha seperti H. Bilal, H. Mas’ud, H. Ibrahim, dan H. Kohari. Berkat kegigihannya itu, maka kas ‘Aisyiyah selalu cukup sehingga dapat mendanai jalannya organisasi ini agar tetap stabil. Bahkan berkembang hingga kini dan terus maju ke berbagai daerah di luar Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *