Siti Hayinah: Ikon Gerakan Keilmuan ‘Aisyiyah

Berita 14 Jun 2021 6 341x
Siti Hayinah

Siti Hayinah

Oleh: Hajar Nur S

Siti Hayinah merupakan salah satu tokoh generasi awal ‘Aisyiyah yang dapat menjadi ikon gerakan keilmuan ‘Aisyiyah. Dalam Kongres ‘Aisyiyah Ke-21 di Medan, untuk menyokong kepentingan belajar kaum perempuan, Siti Hayinah mengusulkan kepada kongres supaya mendirikan bibliotheek/gedungbuku/perpustakaan bagi perempuan, leeskring atau leesgezelschap, mengadakan badan yang mengusahakan terbitnya surat kabar atau majalah bagi kaum ibu, dan penerbitan kitab.

Saat menyampaikan pidato tentang “Kepentingan Lectuur Perempoean” dalam kongres, Hayinah juga menyarankan kaum istri, istilah yang juga sering dipakai untuk menyebut perempuan, untuk banyak membaca buku, berlangganan surat kabar atau majalah, dan membuat karang-mengarang.

Pidato yang dikemukakannya dalam rapat terbuka kedua kongres, menampilkan komitmen Siti Hayinah pada pendidikan perempuan. Tak segan, Hayinah menyebut sangat jahat dan durhaka besar, orang yang berani menghalang-halangi perempuan belajar dan melarang kaum istri mengetahui tulis baca, “Nyatalah mereka yang mengharamkan ini, bertabuh di ujung lidah, bergandang di ujung  bibir, demikian pun katanya itu salah dan alasannya lemah.” Siti Hayinah sepertinya senang memakai perumpamaan, seperti “tegak-tegak tantak” dan “bangun-bangun rubuh”.

Pribadi yang Senang Membaca

Dari teks pidatonya pula, tampak bahwa Hayinah senang membaca dan mengikuti perkembangan media perempuan. Wawasannya luas tentang intelektual dan penulis perempuan. Ia menyebut beberapa, dari Aisyah, Hafsah, Sakinah binti Al-Husain, Aisyiyah binti Thalhah, Amrah Aljamhiyah, Qadariyah Husein, Balsim, sampai Anisah Mei. Nama Qadariyah, Balsim, dan Anisah adalah para perempuan penulis di Mesir.

Rupanya, Siti Hayinah sudah membaca surat kabar seperti Al-Mar’atul Misriyah, Shihhatul ‘A-ilah, dan beberapa lainnya. Dari tulisan Hayinah, kita bisa tahu beberapa majalah/surat kabar perempuan/halaman perempuan yang terbit di masanya, serta para redaktris atau koresponden, ada nama Anna Sjarif (Bintang Hindia), S. Alim (Krekot Magazijn), Soekati (Wara Soesilo), Wadining (majalah di Solo), Z.S. Goenawan, dan Aida (Bintang Timur).

Baca Juga: Profil Siti Hayinah dan Siti Munjiyah: Kader ‘Aisyiyah yang Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

Kesadaran Hayinah tentang keilmuan dan pendidikan perempuan, dapat dipahami karena ia mengalami langsung usaha peningkatan kedudukan perempuan melalui pendidikan perempuan yang digerakkan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Upaya itu dimulai Dahlan dari kampung Kauman. Siti Hayinah adalah puteri nomor tiga dari enam bersaudara, anak Haji Narju, pengusaha batik terkenal. Saat itu, Kauman merupakan sentrum industri batik yang melahirkan banyak saudagar batik. Ayah Siti Hayinah salah satunya.

Santri Kiai Ahmad Dahlan

Siti Hayinah lahir di Yogyakarta pada tahun 1906. Hayinah termasuk kader santri perempuan yang mendapat didikan langsung dari Kiai Ahmad Dahlan dan istrinya, Nyai Ahmad Dahlan. Putri Haji Narju ini termasuk generasi kedua dari kader-kader Kiai Ahmad Dahlan yang mengenyam pendidikan di Sekolah Netral (Neutraal Meisjes School). Dia seangkatan dengan Siti Zaenab, Siti Aisyah, Siti Dauchah, Siti Dalalah, Siti Busyro, dan Siti Badilah.

Selain mengenyam pendidikan formal di Sekolah Netral, Siti Hayinah pernah masuk Holland Inlandsche School (HIS) dan Fur Huischoud School di Yogyakarta. Ia mendapat pendidikan agama secara non formal yang diperoleh dari ayahnya, Haji Narju, dan pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Nyai Ahmad Dahlan.

Siti Hayinah terlibat aktif di ‘Aisyiyah sejak ia masih kecil. Pada tahun 1925, dalam usia 19 tahun, dia sudah mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris Hoofdbestuur Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah, mendampingi Siti Walidah, president Hoofdbestuur Muhammadiyah Bahagian ‘Aisyiyah. Nantinya, dalam karir di organisasi ‘Aisyiyah, Siti Hayinah Mawardi lima kali didaulat menjadi Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, yaitu pada tahun 1946, 1953, 1956, 1959, dan 1962.

Baca Juga: ‘Aisyiyah: Pelopor Perempuan Berkemajuan

Sebagai kader santri perempuan yang telah dipersiapkan menjadi pemimpin, Siti Hayinah memiliki kecakapan dalam hal tulis-menulis yang memungkinkannya menuliskan buah pikiran dalam berbagai publikasi. Selain memiliki kecakapan menulis, Siti Hayinah juga menguasai pengetahuan yang cukup luas. Ditopang dengan kemampuan dalam berpidato membuat Siti Hayinah mendapat kepercayaan untuk mewakili ‘Aisyiyah dalam kegiatan-kegiatan di luar Muhammadiyah.

Kongres Perempuan Indonesia I

Nama Siti Hayinah juga bukan nama asing dalam konteks sejarah gerakan perempuan Indonesia berkenaan dengan penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I, pada tahun 1928, di Yogyakarta. Dalam sebuah dokumen foto Comite Congres Perempuan Indonesia, di antara sepuluh tokoh, tampak dua orang perempuan yang mengenakan pakaian tertutup berkerudung putih. Itulah Siti Munjiyah dan Siti Hayinah, dua aktivis ‘Aisyiyah yang tengah duduk dalam Comite Congres Perempuan Indonesia (1928). Keduanya duduk bersanding dengan R.A. Soekonto, Ismoediati (Wanito Oetomo), Soenarjati, Soejatin (Poeteri Indonesia), Siti Soekaptinah (Jong Islamieten Bond), Nyai Hajar Dewantara (Taman Siswo), R.A. Hardjadiningrat (Wanito Katholik), dan Moerjati (JJ).

Di atas mimbar Kongres pula, Siti Hayinah menyampaikan pemikirannya tentang “Persatuan Manusia”. Tema tersebut sangat kontekstual dengan semangat persatuan yang tengah digadang-gadang dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I.

Menghidupi Suara Aisyiyah

Usai perhelatan Kongres, Hayinah tetap berperan aktif dalam mengelola surat kabar ‘Isteri’, organ (media) Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), badan federasi organisasi-organisasi perempuan hasil Kongres. Bersama lima orang lainnya, Siti Hayinah terpilih sebagai anggota redaksi surat kabar Isteri. ‘Aisyiyah memang termasuk salah satu organisasi yang mengusulkan terbitnya surat kabar ini. ‘Organ’ atau majalah/surat kabar keluaran organisasi, bukan hal baru bagi ‘Aisyiyah. Menerbitkan surat kabar, khususnya surat kabar perempuan, sudah menjadi tradisi dalam Muhammadiyah. Ketika ‘mengemudikan’ surat kabar Isteri, Siti Hayinah sudah terlibat aktif dalam penerbitan surat kabar Suara Aisyiyah (SA) yang lahir terlebih dahulu.

Baca Juga: Suara Aisyiyah: Dari Kita untuk Kita

Siti Hayinah sudah masuk jajaran pengurus Suara Aisyiyah sejak tahun pertama majalah bulanan ini terbit. Dalam Suara Aisyiyah Nomor 4, tahun pertama (1927), nama Siti Hayinah telah tercantum sebagai pengurus bersama Siti Wakirah, Siti Wardhiah, dan Siti Barijah. Pada kepengurusan Suara Aisyiyah 1938-1940, Siti Hayinah didapuk sebagai hoofdredactrice atau Pimpinan Redaksi. Siti Hayinah sebagai pimpinan redaksi Suara Aisyiyah memahami peran majalah ini sebagai alat yang memberi suluh bagi pembaca, pengikat organisasi, dan kekuatan propaganda Aisyiyah, organisasi tempat ia mendedikasikan diri untuk berjuang.

Maka ketika Suara Aisyiyah berada dalam situasi yang diistilahkannya, “hidup segan, mati tak mau”, ia menawarkan pilihan, “Marilah Soeara ‘Aisjijah itu kita hidupi betul-betul… kalau tidak, baiklah kita bunuh saja mati-mati dan kita tanam dalam-dalam”. Itulah kalimat tegas yang keluar dari mulut Siti Hayinah sebelum ia menyudahi pidatonya dalam Kongres ‘Aisyiyah ke-21 di Medan.

Ia terus berihtiar dan selalu menyarankan kepada kaum ibu untuk sering-sering menulis. Himbauan Siti Hayinah kepada kaum ibu bisa dilacak dalam artikel-artikel yang dimuat di majalah Suara Aisyiyah, seperti tulisannya yang berjudul “Kewajiban Kita”, “Aisyiyah Menghadapi Kenyataan” dan masih banyak lagi.

6 thoughts on “Siti Hayinah: Ikon Gerakan Keilmuan ‘Aisyiyah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *