Berita

Siti Noordjannah Djohantini: Perempuan Harus Dilibatkan dalam Proses Menghadirkan Kehidupan Kebangsaan yang Maju

Noordjannah Djohantini_Pemimpin Perempuan

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah Membincangkan tentang kehidupan kebangsaan yang bermartabat dan berkeadilan tentu tidak dapat dipisahkan dari bagaimana proses demokrasi berlangsung. Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini menjelaskan bahwa ada dua sudut pandang yang bisa digunakan untuk melihat proses itu, yakni ideal-normatif dan realitas-objektif.

Dalam kegiatan ‘Aisyiyah Update yang mengusung tema “Mengawal Keterwakilan Perempuan Penyelenggara Pemilu yang Bermakna”, Noordjannah menjelaskan bahwa reformasi yang terjadi dalam sejarah Indonesia membawa perubahan yang luar biasa bagi kehidupan bangsa. “Reformasi memberikan peluang kepada siapa saja seluruh warga negara untuk melakukan proses-proses demokrasi yang lebih baik,” kata dia, Kamis (19/1).

Akan tetapi, selain terbukanya akses untuk menyampaikan pendapat dan aktualisasi, ia mencatat ada beberapa masalah yang perlu diselesaikan. Masalah itu misalnya masih maraknya politik transaksional, politik uang, oligarki politik, dan penyalahgunaan kekuasaan. Berbagai permasalahan tersebut, kata Noordjannah, membuat kehidupan kebangsaan mengalami peluruhan nilai dan martabat berbangsa dan bernegara.

Baca Juga: Demi Pemilu yang Bermakna, LPPA PP Aisyiyah: Harus Ada Keterwakilan Perempuan sebagai Penyelenggara Pemilu

Terhadap permasalahan itu, semua pihak mestinya memberi edukasi mengenai politik yang baik. Dalam konteks ini, ‘Aisyiyah telah memainkan peran-peran strategis yang berkelanjutan. “Keberpihakan kita terkait dengan proses-proses demokrasi yang diharapkan berkualitas itu berjalan terus,” ujar Noordjannah dalam forum yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah itu.

Noordjannah juga menerangkan bahwa Indonesia berkemajuan mendukung proses terwujudnya kehidupan berbangsa yang maju, adil, bermartabat, dan berdaulat. Basis nilai dalam rangka mewujudkan itu, kata dia, adalah agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa.

Upaya mewujudkan kehidupan kebangsaan yang bermartabat dan berkeadilan itu juga harus melibatkan peran aktif perempuan. “Kalau kemudian bangsa kita ini meminggirkan perempuan, maka kita sedang berproses untuk tidak menghadirkan kehidupan kebangsaan yang bermartabat dan berkeadilan,” tegasnya memungkasi materi. (sb)

Related posts
Kalam

Arif dalam Memilah dan Memilih Masalah Politik

Oleh: Mohammad Damami Zein Dalam Q.s. An-Nisa [4]: 59 Allah swt. berfirman: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ…
Tokoh

Hidup ala Mami Gelora: Sesekali di Bungkusan Kacang, Sesekali di Bait Puisi

Oleh: Ahimsa W. Swadeshi “Panggil aja Mami Gelora!” suara riang itu tidak lain dan tidak bukan adalah milik Herni Widiastuti Yanuarsasi. Sapaan…
Berita

PP Nasyiatul Aisyiah Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan Efektif Mitigasi Perubahan Iklim

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Perubahan iklim menjadi isu global yang mendapat atensi besar dari Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA). Berdasarkan data PBB,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *