Siti Noordjannah Djohantini: Tidak Ada Kata Pensiun di ‘Aisyiyah

Berita 29 Jun 2021 1 354x
Siti Noordjannah Djohantini

Siti Noordjannah Djohantini

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Memperingati Hari Lanjut Usia Nasional yang jatuh tanggal 29 Mei, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah mengadakan Webinar dengan tama “Pemenuhan Hak menuju Lansia Bahagia dan Sejahtera”. Webinar ini merupakan wujud perhatian ‘Aisyiyah pada lansia yang dari segi usia mempunyai hak khusus dan hak untuk mendapat kebahagiaan dan kesejahteraan.

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini menyampaikan bahwa sudah sejak lama ‘Aisyiyah memberi perhatian pada lansia. Ibaratnya sudah menyatu dan mendarah-daging dalam setiap gerak langkah ‘Aisyiyah. “Bagi ‘Aisyiyah, perhatian pada lansia sudah menjadi kehidupan dakwah yang built-in. Dalam arti sudah mendapat porsi perhatian yang cukup luas dan merata karena didasarkan pada makna dan nilai-nilai yang memberikan penghormatan pada orang tua,” ujar Noordjannah pada Sabtu (26/6).

Penghormatan terhadap lansia, menurut Noordjannah, mempunyai landasan yang kuat secara teologis dan kontitusional. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai agama telah menjadi basis moral-konstitusional dalam setiap kepentingan dan kebijakan, khususnya terkait lansia.

Baca Juga: Usaha Mengubah Mindset Lansia

Di ‘Aisyiyah, perhatian pada lansia dilakukan dengan “memanusiakan” mereka dan membuat mereka merasa menjadi orang yang dibutuhkan. Jika diamati, banyak di antara penggerak ‘Aisyiyah yang berasal dari kelompok lansia. Mereka menginisiasi dan turut mengambil bagian (aktif) dalam program-program yang diadakan.

“Saya sering bergurau bahwa di ‘Aisyiyah itu tidak ada kata pensiun. Kalau di pegawai pemerintahan ada pensiun, di ‘Aisyiyah itu tidak ada. Maka yang setelah pensiun dalam tugas kepegawaiannya, mereka semakin semangat ber-‘Aisyiyah karena merasa tidak ada pensiun,” tuturnya.

Di hadapan Menteri Sosial Republik Indonesia yang diwakili Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Harry Hikmat, Noordjannah mengatakan bahwa meski ‘Aisyiyah sudah dan akan terus berkomitmen memperhatikan dan memenuhi hak-hak lansia, penanggung jawab utamanya tetaplah pemerintah. Oleh karenanya, ia berharap komunikasi dan kerja sama antara ‘Aisyiyah dan pemerintah bisa terjalin dengan baik.

Noordjannah berharap, “ketika terdapat program yang memberikan perhatian pada lansia, elemen organisasi massa seperti ‘Aisyiyah dapat berkolaborasi dan saling menguatkan dengan pihak pemerintah demi kemanfaatan yang lebih luas”.

Baca Juga: Lindungi Lansia dari Covid-19

Data Badan Pusat Statistik yang disampaikan dalam Berita Resmi Statistik No. 07/01/Th. XXIV, 21 Januari 2021, dari total 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia, persentase penduduk lansia sejumlah 9,78% atau naik sebesar 7,59% dibandingkan tahun 2010. Komposisi lebih lengkapnya adalah sebagai berikut: 1,87% Pre-Boomer (lahir sebelum tahun 1945), 11,56% Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964), 21,88% Gen X (lahir tahun 1966-1980), 25,87% Milenial (lahir tahun 1981-1996), 27,94% Gen Z (lahir tahun 1997-2021), dan 10,88% Post-Gen Z (lahir tahun 2013-dst). Adapun rasio jenis kelaminnya adalah terdapat 102 laki-laki untuk setiap 102 perempuan.

Terhadap data ini, Noordjannah menilai bahwa perhatian, strategi, dan aksi yang digunakan harus berbeda, termasuk pola pendampingan antara lansia laki-laki dan perempuan. Pada masa pandemi ini, lansia juga perlu mendapat perhatian lebih karena mereka termasuk kelompok rentan terhadap Covid-19. (sb)

One thought on “Siti Noordjannah Djohantini: Tidak Ada Kata Pensiun di ‘Aisyiyah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *