Siti Umniyah dan Inspirasi dari Boedi Oetomo

Inspirasi 15 Mar 2021 0 69x
Siti Umniyah

Siti Umniyah

Oleh: Mu’arif

Sekolah Frobel

Mengingat tidak tersedia sumber-sumber data historis yang cukup untuk melacak jejak historis Sekolah Frobel di Yogyakarta pada awal abad ke-20, maka salah satu cara untuk menggalinya adalah dengan mengkaji gerakan-gerakan sosial yang sedang tumbuh di Yogyakarta pada waktu itu. Sebuah penelitian penting yang dilakukan Abdurrahman Surjomihardjo tentang sejarah sosial di Yogyakarta sejak 1880-1930 berhasil mengungkap beberapa informasi penting. Perubahan sosial di Yogyakarta pada awal abad ke-20 tidak hanya dalam bidang kebijakan tata kelola kota, tetapi juga perubahan di bidang ekonomi, pertumbuhan surat kabar, dan pendidikan (sekolah-sekolah kolonial maupun bumiputera).

Pertumbuhan sekolah-sekolah, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun pihak swasta mencapai 70 sekolah. Data statistik sekolah di Yogyakarta pada tahun 1924 menyebutkan, 30 sekolah milik pemerintah kolonial, 7 sekolah milik misionaris, 9 sekolah milik Yayasan Sekolah Netral, 9 sekolah milik zending, 6 sekolah milik Muhammadiyah, 2 sekolah milik organisasi Boedi Oetomo (BO), 1 sekolah milik organisasi Taman Siswa, 2 sekolah milik Perkumpulan Adhidharma (Pakualaman), 2 sekolah milik Tionghoa, dan 3 sekolah milik perkumpulan Islam lokal (Surjomiharjo, 2008: 28-29).

Data statistik sekolah di Yogyakarta tahun 1924 tidak mencantumkan Sekolah Frobel. Akan tetapi, ketika menyebut gerakan Sekolah Frobel pertama di Yogyakarta, Surjomiharjo menyebut gerakan sosial seperti Mason Bebas (Freemason) dan Boedi Oetomo (BO). Dalam analisis Surjomiharjo, dari seluruh penyelenggara pendidikan di Yogyakarta pada waktu itu, hanya kelompok Mason yang menjalin kerjasama dengan BO membentuk Yayasan Sekolah Netral, kemudian menginisiasi dan menyelenggarakan Sekolah Frobel pertama di Yogyakarta pada awal abad ke-20. Tempat Sekolah Frobel pertama di Yogyakarta memanfaatkan fasilitas ruang di Loji Mataram (sekarang Gedung DPRD DIY). Dalam perkembangan berikutnya, Muhammadiyah menyelenggarakan Frobel di nDalem Pengulon pada tahun 1919. Diikuti dengan berdirinya Taman Siswa pada tahun 1922 yang juga merintis pendidikan anak usia pra-sekolah disebut Taman Indria.

Pada tahun 1908, BO resmi berdiri sebagai organisasi bumiputera yang concern menyelengarakan pendidikan. Salah seorang pengurus yang berstatus sebagai guru negeri lulusan pendidikan Belanda bernama Pangeran Notodirdjo. Ia menyarankan agar kaum Mason bekerjasama dengan BO menyelenggarakan Neutrale Hollandsch-Inlandsch Schoolen demi meningkatkan derajat kaum bumiputera. Yayasan Sekolah Netral inilah yang kemudian menyelenggarakan Sekolah Frobel pertama di Yogyakarta.

Dengan penjelasan historis Sekolah Frobel pertama di Yogyakarta di atas, kita dapat menemukan benang merah atau setidak-tidaknya dapat memperkirakan pola transmisi gagasan atau ide Sekolah Frobel ke dalam organisasi Muhammadiyah. Beberapa jalur transmisi gagasan dapat dilacak lewat peran tokoh-tokoh Muhammadiyah generasi pertama sebagai berikut: pertama, KH. Ahmad Dahlan sebagai guru di Kweekschool Jetis dan anggota BO banyak terinspirasi oleh gerakan BO (termasuk kelompok Mason). Kedua, Volkschool Muhammadiyah atau “Sekolah Kiai” dan Kweekschool Muhammadiyah di Kauman sering dikunjungi oleh para guru, murid Kweekschool Jetis, dan juga pengurus BO Cabang Yogyakarta.

Ketiga, beberapa pemuda Kauman yang menjadi anggota BO kring Kauman (R.H. Sjarkawi, H. Abdoelgani, H. Sjuja’, H. Hisjam, H. Fachrodin, H. Tamim) turut memperkuat proses transmisi gagasan Sekolah Frobel ke dalam lingkungan Muhammadiyah. Keempat, hubungan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Kauman dengan tokoh-tokoh perge-rakan di Pakualaman (pusat gerakan Mason) mempengaruhi proses transmi-si paham humanisme yang melandasi gerakan Sekolah Frobel (terutama pasca kongres SI di Yogyakarta).

Siti Umniyah

Siti Umniyah binti K.H. Sangidu lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tanggal 29 Agustus 1905 (H.A. Basuni, 1972). Umniyah putri Kiai Sangidu dari istrinya, Siti Jauhariyah (putri K.H. Sholeh, kakak ipar K.H. Ahmad Dahlan). Dari pernikahannya ini, keduanya dikaruniai tujuh anak: Umniyah, Darim, Wardan, Janah, Jundi, Burhanah, dan War’iyah. Umniyah, termasuk murid perempuan yang langsung mendapat didikan langsung KH. Ahmad Dahlan.

Pendiri Muhammadiyah ini pula yang menyuruhnya mengenakan kerudung, mengenalkan konsep-konsep kemodernan dalam praktik keagamaan, dan penyelenggaraan dakwah serta penga-jaran. Saat itu, tak banyak perempuan di Kauman memakai kerudung. Umniyah berkerudung memakai kain songket khas Kauman, dengan bordir motif bunga di samping tengah, sehingga terlihat apik begitu dipakai, bordir bunga akan menghias tepat di ujung depan sepanjang garis muka. Saat itu, belum banyak warga Kauman yang mempraktikkan agama dengan cara pandang baru. Praktik dakwah juga masih sangat tradisionalis sebagai warisan turun temurun.

Pada tahun 1913, K.H. Ahmad Dahlan berhasil menyakinkan tiga gadis Kauman untuk menuntut ilmu di Neutraal Meisjes School di Ngupasan (Siti Bariyah, Siti Wadingah, dan Siti Dawimah). Selain memasukkan tiga gadis Kauman ke sekolah umum, K.H. Ahmad Dahlan juga mengelola Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (Sekolah Kiai) di rumahnya. Di antara murid-murid pertama Sekolah Kiai adalah Siti Munjiyah dan Siti Umniyah. Kelak, Munjiyah yang notabene lulusan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada tahun 1929 menjadi salah satu Steering Committe dalam momentum bersejarah Kongres Perempuan Indonesia I di Mataram (Yogyakarta). Sedangkan Umniyah berkiprah di internal Muhammadiyah, khususnya lewat organisasi ’Aisyiyah yang diawali dari kiprahnya di Siswa Praja Wanita (cikal bakal Nasyi’atul ’Aisyiyah).

Siti Umniyah mendapat gemblengan langsung di sekolah agama yang dirintis KH. Ahmad Dahlan. Sementara gadis-gadis lain di Kauman, seperti Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Wadingah, dimasukkan ke Neutraal Meisjes School di Ngupasan. Baik yang bersekolah umum (Sekolah Netral), atau sekolah agama (Madrasah Diniyah), dimaksudkan untuk saling melengkapi dalam proses kaderisasi oleh KH. Ahmad Dahlan.

Hasil proses kaderisasi KH. Ahmad Dahlan pada diri Siti Umniyah dapat dilihat dalam kiprahnya di Siswa Praja Wanita (SPW) yang kemudian berubah menjadi Nasyiatul ‘Aisyiyah (1931). Siti Umniyah bersama Siti Wasilah, Siti Zuchrijah, Siti Sa’adah, Siti Djalalah, dan beberapa teman lainnya membangun dan menggerakkan Siswa Praja Wanita.

SPW adalah kumpulan remaja putri oleh anak-anak perempuan di Kauman. Dibangun tahun 1919 (lihat Taman Nasjiah, no. 3, Th. II, September 1940), dengan kegiatan-kegiatan seperti berpidato, mengaji, berkumpul, berjama’ah sembahyang Shubuh, serta beberapa kegiatan lain. Siti Wasilah terpilih sebagai pimpinan pertama SPW. Namun, baru lima bulan menjadi pimpinan SPW, Siti Wasilah kemudian undur diri karena menikah dengan KRH. Hadjid.

Setelah Siti Wasilah Hadjid undur diri dari kepemimpinan SPW, Siti Umniyah yang melanjutkan estafet kepemimpinan. Di bawah kepemimpinan Umniyah, markas SPW dipindah dari Mushalla ‘Aisyiyah ke rumahnya di nDalem Pengulon. Kegiatan-kegiatan SPW semakin berkembang, bahkan di bawah kepemimpinan Umniyah dibentuk divisi/departemen meliputi Thalabussa’adah, Tajmilul Akhlak, dan Dirasatul Banat. Dari divisi Dirasatul Banat inilah, Umniyah dan kawan-kawan menginisiasi program pendidikan untuk anak-anak usia pra sekolah—yang kemudian dikenal Sekolah Frobel (cikal bakal Bustanul Athfal). Pada awalnya, Sekolah Frobel bertempat di sebuah rumah milik RH. Ali (kemudian dibangun Langgar Perempuan), kemudian pindah ke rumah Siti Umniyah, tepatnya di muka rumahnya, lalu berpindah ke belakang rumah, satu tempat dengan markas SPW. Sekolah Frobel yang tadinya berlangsung sore hari, diubah menjadi pagi hari.

Cukup lama Umniyah memimpin SPW, baru sekitar tahun 1929, atau hampir 10 tahun dari berdirinya SPW, Zoechrijah menggantikannya menjadi pimpinan SPW. Mengutip majalah Taman Nasjiah nomor 3 tahun II, September 1940, di bawah kepemimpinan Siti Umniyah, “SPW makin lama makin bertambah maju sehingga mempunyai tambahan gerakan, ialah Tholabussa’adah, Tajmilul Achlaq, dan Dirasatul Banat, kemudian dapat mendirikan pula sekolahan Bustaanul Athfaal.

Leave a Reply