Muda

Slow Fashion Mulai dari Lemari

slow fashion

Oleh: Hanifah Maghfirah*

Pernahkah kita mengamati baik-baik pakaian yang kita kenakan kemudian memikirkan muasalnya dan bagaimana ia dibuat? Ketika pikiran itu muncul, sejatinya kita tengah mengamalkan perspektif ethical fashion. Perspektif ini berkaitan dengan perhatian kita terhadap sustainable fashion, sebuah prinsip di mana kita mengetahui dari mana suatu pakaian berasal, apakah pakaian tersebut diciptakan dengan tanggung jawab, serta apakah ada etika yang dilanggar dalam proses pembuatannya.

Tren pakaian ready-to-wear yang menuntut kecepatan dan produksi massal (fast fashion) memunculkan kekhawatiran akan masalah limbah fesyen. Sebagaimana mengutip data situs United Nation for Climate Change, konsumen masih terbiasa membuang sepatu dan pakaian dengan angka rata-rata 70 pon (atau sekitar 30 kilogram) per orang di setiap tahunnya. Sekitar 85% limbah ini masuk ke tempat pembuangan sampah dan menempati sekitar 5% dari seluruh ruang di tempat pembuangan akhir.

Slow fashion sebagai penyeimbang

Terminologi slow fashion pertama kali diperkenalkan oleh Kate Fletcher, seorang profesor di bidang Sustainability, Design, and Fashion, University of the Arts London’s Centre for Sustainable Fashion. Slow fashion merupakan praktik dalam fesyen yang didasari atas produksi dan pemakaian pakaian dalam rentang waktu yang lama, daya tahan dan kualitas yang tinggi, serta proses produksi yang beretika dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Muda dan Merdeka Finansial, Apa Bisa?

Slow fashion tidak berfokus pada kecepatan produksi massal layaknya fesyen cepat. Brand slow fashion lebih memilih untuk membuat pakaian yang tahan lama dengan kualitas tinggi serta bermodel klasik sehingga konsumen dapat memakainya terus menerus tanpa takut ketinggalan zaman.

Slow fashion bukan sekadar antitesis dari fast fashion. Lebih dari itu, slow fashion juga merupakan penyeimbang dalam dunia fashion yang praktiknya bisa dimulai secara mandiri. Kita bisa menerapkan prinsip slow fashion dengan reuse (memakai kembali), reduce (mengurangi), repair (memperbaiki), dan recycling (mendaur ulang) yang meliputi upcycling dan downcycling. Gerakan sustainable fashion ini dapat kita lakukan dengan cara decluttering pakaian.

Decluttering Pakaian

Decluttering dapat diartikan sebagai menyingkirkan barang-barang yang tidak dibutuhkan dan hanya menyimpan barang-barang yang memang dibutuhkan. Decluttering bukan sekadar menata barang-barang agar terlihat rapi, namun menentukan mana saja barang-barang yang harus disimpan, dibuang, dan mana yang bisa didonasikan.

Sedikitnya ada empat langkah yang bisa dipakai untuk decluttering pakaian. Pertama, mengeluarkan seluruh isi lemari. Menurut Marie Kondo (Kon Mari), seorang konsultan dan tata ruang Jepang, mengeluarkan seluruh isi lemari akan membuat seseorang sadar berapa pakaian yang telah ia simpan. Dengan mengeluarkan seluruh isi lemari dalam keadaan rapi, kita juga dapat lebih mudah untuk melakukan tahapan berikutnya.

Kedua, pisahkan pakaian menjadi beberapa kategori. Kategori pertama, kelompok pakaian yang sudah tidak bisa atau tidak ingin lagi dipakai untuk didonasikan. Donasi pakaian bisa berikan kepada panti asuhan, korban bencana alam, atau orang sekitar kita yang membutuhkan.

Kategori kedua, decluttering pakaian bekas layak pakai yang masih memiliki nilai jual. Pakaian dalam kategori ini dapat dijual dengan sebutan preloved di e-commerce. Hal ini merupakan potensi baik mengingat tren thrifting juga sedang ramai di dunia fesyen. Kategori yang ketiga, kelompok pakaian yang masih ingin digunakan, namun butuh sedikit perbaikan. Alih-alih membuang pakaian yang resletingnya rusak, kita masih bisa memperbaikinya dan memakainya kembali.

Ketiga, simpan memori emosional. Bagian tersulit dari decluttering pakaian adalah merelakan. Beberapa pakaian tertentu pasti menyimpan kenangan emosional yang membuat kita sulit untuk menyingkirkannya. Oleh karena itu, kita perlu mengendalikan suasana emosional supaya proses decluttering pakaian tetap berjalan. Kon Mari juga memberikan tips mengenai hal ini. Lakukan pemilahan dengan menyentuh dan merasakan setiap pakaian. Jika tidak ada percikan joy yang dirasakan, artinya pakaian tersebut tidak perlu disimpan lagi. Setelah memutuskannya dengan bijak, ucapkan terima kasih pada pakaian-pakaian tersebut sehingga perasaan terasa lebih ikhlas dan lega.

Keempat, lipat dan simpan pakaian ala Kon Mari. Cobalah lakukan metode melipat ala Kon Mari yang dapat menghemat ruang penyimpanan. Caranya dengan menyusun pakaian di lemari sesuai dengan jenisnya. Pakaian seperti jaket, outer, dress, kemeja sebaiknya disimpan dengan cara digantung, sedangkan sisanya bisa dilipat dengan efektif.

Kegiatan decluttering bisa menjadi sangat menyenangkan karena melihat pakaian tersusun rapi adalah suatu kesenangan tersendiri. Decluttering pakaian dalam mengimplementasikan semangat slow fashion ini tentu mudah untuk kita terapkan dibandingkan besarnya bahaya akibat fast fashion yang tidak terkendali. Mari kita selamatkan bumi mulai dari lemari!

*Mahasiswi Arsitektur Lanskap ITERA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *