Spirit Dakwah Baru, Suara ‘Aisyiyah

Berita 11 Jul 2020 0 81x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah- Launching website dan aplikasi pada Sabtu (11/7), Suara ‘Aisyiyah hadir dengan spirit dakwah baru. Dalam usianya yang ke 97 tahun, Suara ‘Aisyiyah juga menyelenggarakan Seminar Daring ‘Arah dan Tantangan Dakwah di Era Virtual’ dengan keseluruhan peserta sebanyak 500-an orang meliputi PP ‘Aisyiyah, ‘Aisyiyah tingkat wilayah, cabang, ranting dan masyarakat umum yang diakses secara daring melalui Zoom.

Adib Sofia, Pimpinan Redaksi Suara ‘Aisyiyah dalam pembahasannya mengemukakan gerakan perjuangan ‘Aisyiyah dalam memberantas buta huruf, kebodohan, ketidakpedulian dan pemberantasan sesat pikir merupakan refleksi jihad literasi, yang menjadi spirit eksistensi Suara ‘Aisyiyah bertahan hingga kini. 

Selanjutnya, ‘Aisyiyah memiliki coraknya sendiri yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada masa itu. Di masa awal,ungkap Adib, ‘Aisyiyah konsen berbicara mengenai kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam, selanjutnya pembahasan agama yang mendalam, pengetahuan dunia luar, dan ilmu. Kemudian, pada tahun 70 an corak Suara ‘Aisyiyah lebih ke pemberdayaan masyarakat di tingkat ranting, cabang. Mulai pada tahun 2001 corak Suara ‘Aisyiyah menjadi lebih responsif dengan fenomena sekitar, dan kini Suara ‘Aisyiyah mencoba mengaplikasikan semua corak terdahulu tersebut, mengingat masih sangat relevan untuk diulas kembali.

Hingga usia ke 97 tahun, segala rupa telah dilakukan, di akhir Adib menegaskan bahwa selayaknya Suara ‘Aisyiyah harus dihidup-hidupi. “Suara ‘Aisyiyah pernah down pada tahun 40-50an karena tidak ada yang membayar. Jika semua orang kelak melupakan, tidak berlangganan maka Suara ‘Aisyiyah lambat laun pasti akan mati,” tuturnya. 

Menyambung hal itu, Tri Hastuti, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyatakan adanya Suara ‘Aisyiyah merupakan bentuk kesadaran ‘Aisyiyah berdakwah lewat media massa. Dimasa awal pula, ungkap Tri, Suara ‘Aisyiyah yang masih menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa pengantarnya mengingat terbitnya hanya di Pulau Jawa, tidak cukup puas akan hal itu. Berkat semangat pimpinan pada masa itu, Suara ‘Aisyiyah terus berkembang dan merubah bahasa pengantarnya menjadi bahasa Indonesia. Sehingga, terwujudlah Suara ‘Aisyiyah dapat dipasok ke seluruh Indonesia bahkan luar negeri. 

Selanjutnya, langkah besar Suara ‘Aisyiyah ke ranah digital, Abdul Khohar, selaku Dewan Redaksi Media Group memberikan apresiasi, menurutnya langkah ini sudah benar, mengingat 98% Milenial dan Genenasi Z saat ini telah mengonsumsi internet. “Sebuah pilhan cerdas,” tuturnya.

Walau demikian, ungkap Khohar, cetak tetap lebih unggul dari segi kredibilitas, karena diolah secara intelektualitas. “Pertarungan media cetak adalah kredibilitas karena orang-orang media cetak dididik terbiasa bekerja dalam spirit intelektualitas, belajar, mendalami, dan tidak langsung digelontorkan begitu saja,”. 

Diakhir, Twediana Budi Hapsari, Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memberikan masukan dalam pembaharuan media Suara ‘Aisyiyah . “Ke depan, interaksi ke pembaca hendaknya lebih interaktif misalnya pada rubrik konsultasi melalui sosial media. Selanjutnya ke depan dapat memuat tokoh-tokoh  ‘Aisyiyah dan bekerjasama dengan daerah-daerah sebagai kontributor pada website Suara ‘Aisyiyah,” tutupnya. (Gustin Juna)

 

Leave a Reply